Filipina Tetapkan Darurat Energi, Bangladesh Dilanda Antrean BBM Panjang

Filipina
ilustrasi warga antre mengisi bahan bakar di spbu. Foto: REUTERS/Mohammad Ponir Hossain

TIMETODAY.ID, JAKARTA – Dampak konflik di Timur Tengah mulai merambat ke kawasan Asia. Dua negara, Filipina dan Bangladesh, kini menghadapi tekanan serius di sektor energi, meski dengan situasi yang berbeda di lapangan.

Di Filipina, pemerintah mengambil langkah cepat dengan menetapkan status darurat energi nasional. Keputusan ini tidak lepas dari tingginya ketergantungan negara tersebut terhadap impor minyak, sehingga gejolak global langsung berdampak pada stabilitas pasokan dalam negeri.

Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyatakan, penetapan status darurat memberi ruang bagi pemerintah untuk bergerak lebih leluasa dalam mengantisipasi gangguan energi. Langkah ini memungkinkan koordinasi lintas sektor, mulai dari pengadaan hingga distribusi bahan bakar, serta pengamanan kebutuhan pokok seperti pangan dan obat-obatan.

Advertisement

Status darurat tersebut direncanakan berlaku selama satu tahun. Dalam periode itu, pemerintah diberi kewenangan untuk meningkatkan impor bahan bakar, termasuk melakukan pembayaran lebih awal guna memastikan pasokan tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.

Baca Juga :  Pesawat Militer AS Jatuh di Filipina, 4 Orang Tewas dalam Misi Intelijen

Di sisi lain, Menteri Energi Filipina Sharon Garin mengungkapkan bahwa cadangan bahan bakar saat ini diperkirakan hanya cukup untuk sekitar 45 hari. Pemerintah pun tengah berupaya menambah stok dengan mengincar pasokan hingga satu juta barel minyak dari berbagai negara, baik di kawasan Asia Tenggara maupun di luar kawasan.

Sementara itu, situasi yang lebih genting terlihat di Bangladesh. Di sejumlah daerah, antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar menjadi pemandangan sehari-hari. Warga rela menunggu berjam-jam demi mendapatkan BBM, di tengah keterbatasan pasokan yang kian terasa.

Tekanan tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga para pengelola SPBU. Mereka menghadapi lonjakan permintaan sekaligus risiko keamanan. Asosiasi pemilik SPBU setempat bahkan mendesak pemerintah untuk segera turun tangan, seraya memperingatkan potensi penghentian distribusi jika kondisi tidak membaik.

Masalah utama disebut berasal dari pasokan yang tidak sebanding dengan kebutuhan harian. Di bawah pengelolaan Bangladesh Petroleum Corporation, distribusi bahan bakar dinilai belum mampu mengimbangi permintaan yang terus meningkat.

Baca Juga :  Pertama Kali Bermalam di IKN, Presiden Prabowo Siap Lanjut ke Malang

Ketegangan di lapangan pun tak terhindarkan. Sejumlah laporan menyebutkan adanya insiden pemaksaan pembelian hingga ancaman terhadap fasilitas SPBU. Dalam beberapa kasus, massa bahkan mengambil bahan bakar tanpa pembayaran, menandakan situasi yang semakin sulit dikendalikan.

Asosiasi pemilik SPBU menilai krisis ini diperparah oleh lemahnya pengamanan serta buruknya tata kelola distribusi energi. Jika tidak segera ditangani, mereka memperingatkan kemungkinan penutupan SPBU secara luas di berbagai wilayah.

Perkembangan di Filipina dan Bangladesh menjadi gambaran nyata bagaimana konflik global dapat dengan cepat memicu efek domino, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi. Ketika pasokan terganggu, bukan hanya ekonomi yang terdampak, tetapi juga stabilitas sosial di tingkat masyarakat.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel