TIMETODAY.ID, JAKARTA — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai dirasakan konsumen di Amerika Serikat setelah ketegangan militer dengan Iran memicu gangguan pasokan energi global. Harga rata-rata bensin di negeri itu tercatat mencapai sekitar US$3,58 atau setara Rp60.315 per galon (kurs Rp16.848) pada Rabu (11/3/2026), level tertinggi sejak Mei 2024.
Lonjakan harga ini terjadi seiring kekhawatiran pasar terhadap distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah, terutama setelah aktivitas ekspor melalui Selat Hormuz terganggu akibat situasi keamanan yang memanas. Jalur laut tersebut merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dunia.
Dampak dari gangguan ini tak hanya dirasakan oleh industri energi, tetapi juga langsung menyentuh kehidupan masyarakat. Kenaikan harga bahan bakar berpotensi menekan daya beli konsumen sekaligus mengganggu aktivitas ekonomi global.
“Gelombang kejut geopolitik tidak perlu waktu lama untuk terasa di kantong masyarakat. Dalam hitungan hari saja, tekanan itu sudah terlihat ketika orang mengisi bensin mobil mereka,” ujar William Stern, CEO perusahaan pemberi pinjaman usaha kecil di AS, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (12/3/2026).
Data menunjukkan harga bensin di AS melonjak hampir 60 sen sejak keputusan Presiden Donald Trump mendukung operasi militer bersama Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Kenaikan sekitar 20 persen dalam 11 hari ini bahkan terjadi lebih cepat dibanding lonjakan harga energi saat invasi Rusia ke Ukraina beberapa tahun lalu.
Analis memperkirakan harga BBM masih berpotensi naik dalam waktu dekat. Selain karena gangguan pelayaran di Selat Hormuz, pasar energi AS juga sedang memasuki masa transisi produksi bensin musim panas yang lebih ramah lingkungan, tetapi membutuhkan biaya produksi lebih tinggi.
“Harga bensin di pasar spot maupun grosir mencatat kenaikan dua digit pada perdagangan Rabu,” kata Denton Cinquegrana, kepala analis minyak di Oil Price Information Service.
Di saat yang sama, harga minyak mentah—komponen terbesar dalam penentuan harga BBM—juga mengalami kenaikan. Kondisi ini terjadi meskipun International Energy Agency (IEA) yang berbasis di Paris mengusulkan pelepasan hingga 400 juta barel minyak dari cadangan strategis dunia.
Namun, rencana tersebut masih memunculkan tanda tanya di pasar energi karena belum jelas negara mana yang akan melepas cadangan tersebut maupun waktu pelaksanaannya.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































