
TIMETODAY.ID, JAKARTA — Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat setelah serangan udara Israel menghantam sejumlah fasilitas energi di sekitar ibu kota Teheran. Insiden ini memicu ancaman balasan dari Iran terhadap instalasi minyak di kawasan Teluk serta menimbulkan kekhawatiran akan gangguan terhadap ekonomi global.
Laporan The Guardian menyebutkan militer Israel menyerang sedikitnya lima lokasi energi di sekitar Teheran pada Minggu. Serangan tersebut memicu ledakan besar yang menghasilkan bola api dan kepulan asap hitam yang terlihat dari berbagai penjuru kota.
Perusahaan distribusi minyak Iran melaporkan sedikitnya empat pekerja tewas setelah fasilitas penyimpanan bahan bakar menjadi sasaran serangan. Ledakan bahkan dilaporkan terdengar hingga Karaj, kota yang terletak tidak jauh dari ibu kota.
Iran Ancam Balasan
Juru bicara Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memperingatkan bahwa Iran siap melakukan pembalasan jika serangan terhadap infrastruktur energinya terus berlanjut.
Ia bahkan menyinggung potensi lonjakan harga minyak dunia sebagai dampak dari konflik yang semakin meluas.
“Jika Anda bisa menoleransi harga minyak lebih dari 200 dolar AS per barel, lanjutkan permainan ini,” ujar juru bicara IRGC seperti dikutip media pemerintah Iran.
Ancaman tersebut memicu kekhawatiran pasar energi global. Iran diketahui menyumbang sekitar 4 persen produksi minyak dunia, dengan sebagian besar ekspornya dikirim ke China.
AS Berupaya Redakan Kekhawatiran Pasar
Di tengah meningkatnya ketegangan, pemerintah Amerika Serikat berupaya menenangkan pasar energi internasional.
Menteri Energi AS Chris Wright menegaskan bahwa Washington tidak terlibat dalam serangan terhadap fasilitas energi Iran.
Menurutnya, serangan tersebut sepenuhnya dilakukan oleh Israel.
Ia juga menilai potensi gangguan pasokan energi global kemungkinan hanya bersifat sementara dan tidak akan berlangsung lama.
Pergantian Pemimpin Tertinggi Iran
Di saat konflik meningkat, dinamika politik di Iran juga mengalami perubahan besar. Majelis ulama Iran mengumumkan penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran menggantikan ayahnya, Ali Khamenei.
Keputusan tersebut disebut diambil melalui pemungutan suara yang menentukan oleh majelis ulama yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi negara.
Pengangkatan Mojtaba Khamenei menjadi peristiwa bersejarah karena untuk pertama kalinya sejak Iranian Revolution, posisi pemimpin tertinggi Iran berpindah langsung dari ayah kepada anak.
Namun langkah ini juga berpotensi menambah ketegangan dengan Donald Trump, yang sebelumnya menyatakan hasil penunjukan tersebut tidak dapat diterima. Trump bahkan memperingatkan bahwa pemimpin tertinggi Iran berikutnya “tidak akan bertahan lama” jika Teheran tidak mendapatkan persetujuannya terlebih dahulu.
Di tengah situasi yang memanas, para analis memperingatkan bahwa eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas geopolitik dan pasar energi dunia.***
Editor : Syafira
Sumber : CNBCIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































