TIMETODAY.ID – Gencatan senjata antara Israel dengan Lebanon dan Gaza saat ini berada dalam kondisi yang rapuh dan rentan terhadap pelanggaran.
Situasi di Lebanon:
Pada 27 Januari 2025, Lebanon mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Israel hingga 18 Februari 2025.
Namun, meskipun perpanjangan ini disepakati, terdapat tuduhan bahwa pasukan Israel telah melakukan pelanggaran yang mengakibatkan tewasnya 22 orang di Lebanon selatan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menyatakan bahwa hingga batas waktu yang ditentukan, masih terdapat sejumlah poin dalam perjanjian gencatan senjata yang belum sepenuhnya dilaksanakan oleh Israel, termasuk penarikan pasukan dari Lebanon selatan.
Dan Iran telah mengecam keras serangan mematikan yang dilakukan Israel terhadap warga Lebanon yang sedang mengungsi dan berusaha kembali ke rumah mereka di selatan Lebanon.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa pelanggaran berulang oleh pasukan Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata merupakan pelanggaran hukum humaniter dan contoh nyata kejahatan perang.
Situasi di Gaza:
Di Gaza, kembalinya warga Palestina ke wilayah utara tertunda akibat perselisihan terkait pembebasan seorang sandera perempuan yang ditahan oleh Hamas.
Israel menegaskan tidak akan menarik diri dari koridor Netzarim yang strategis hingga sandera tersebut dibebaskan. Pada 27 Januari 2025, Qatar mengumumkan bahwa kesepakatan telah tercapai, di mana Hamas akan membebaskan sandera tersebut bersama dua lainnya sebelum 31 Januari 2025.
Setelah pengumuman ini, otoritas Israel mengizinkan warga Palestina untuk kembali ke wilayah utara Gaza.
Meskipun ada upaya untuk mempertahankan gencatan senjata, insiden-insiden tersebut menunjukkan betapa mudahnya kesepakatan ini goyah.
Kedua belah pihak perlu menunjukkan komitmen yang lebih kuat untuk memastikan stabilitas dan mencegah eskalasi lebih lanjut.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































