TIMETODAY.ID, JAKARTA — Kabut tipis dan cuaca pegunungan yang berubah cepat menjadi saksi bisu jatuhnya sebuah pesawat bermesin ganda di kawasan Andes bagian timur Kolombia. Pesawat yang membawa 15 orang itu menghantam wilayah pegunungan dekat perbatasan Venezuela, menewaskan seluruh penumpang dan awak di dalamnya.
Tragedi itu terjadi ketika pesawat lepas landas dari Cucuta, kota perbatasan Kolombia, dan dijadwalkan mendarat di Ocana pada Rabu (28/1) siang waktu setempat.
Namun, menjelang akhir penerbangan singkat yang seharusnya hanya berlangsung 23 menit, pesawat mendadak kehilangan kontak dengan menara pengawas lalu lintas udara.
Menurut laporan kantor berita AFP, Kamis (29/1/2026), penerbangan tersebut dioperasikan oleh maskapai penerbangan milik negara Kolombia, Satena, dengan membawa 13 penumpang dan dua awak. Harapan akan adanya korban selamat pupus setelah otoritas penerbangan memastikan kondisi di lapangan.
“Tidak ada yang selamat,” kata seorang pejabat otoritas penerbangan kepada AFP. Hingga kini, penyebab kecelakaan masih dalam penyelidikan.
Pemerintah Kolombia segera mengerahkan Angkatan Udara untuk melakukan pencarian di lokasi kejadian. Upaya evakuasi tidak mudah.
Daerah jatuhnya pesawat merupakan wilayah pegunungan terjal, dipenuhi hutan lebat, serta dikenal memiliki cuaca yang sulit diprediksi.
Selain itu, sebagian wilayah pedesaan di sekitar lokasi berada dalam pengaruh kelompok gerilyawan terbesar Kolombia, Tentara Pembebasan Nasional (ELN).
Dari puing-puing yang tersebar di lereng pegunungan, tim penyelamat sejauh ini telah menemukan tujuh jenazah. Informasi tersebut disampaikan Gubernur Negara Bagian Santander Utara, William Villamizar, kepada majalah berita lokal Semana.
Di antara para korban terdapat tokoh politik nasional. Seorang anggota parlemen Kolombia dan seorang calon anggota parlemen berada di dalam pesawat nahas tersebut. Nama Diogenes Quintero, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kolombia berusia 36 tahun, tercatat sebagai salah satu korban tewas.
Selain itu, Carlos Salcedo, yang tengah maju sebagai calon anggota DPR dalam pemilihan mendatang, juga menjadi korban.
Pesawat yang mengalami kecelakaan diketahui merupakan Beechcraft 1900 bermesin ganda.
Di Kolombia, pesawat kecil seperti ini menjadi tulang punggung transportasi antardaerah, terutama karena kondisi geografis negara tersebut yang didominasi hutan lebat dan pegunungan, membuat banyak wilayah sulit dijangkau melalui jalur darat.
Tragedi ini kembali menegaskan rapuhnya perjalanan udara di wilayah-wilayah terpencil Kolombia, sekaligus meninggalkan duka mendalam bagi dunia politik dan keluarga para korban.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































