TIMETODAY.ID, JAKARTA — Awal tahun 2026 dibuka dengan dinamika cuaca yang menuntut kewaspadaan tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan sangat lebat yang diperkirakan masih akan mengguyur berbagai wilayah Indonesia hingga 19 Januari 2026.
Berdasarkan pemantauan BMKG, pada Kamis, 15 Januari 2026, kondisi atmosfer di sebagian besar wilayah Tanah Air didominasi hujan ringan hingga hujan lebat. Sejumlah daerah bahkan berpotensi mengalami peningkatan intensitas hujan pada level sedang, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, hingga Papua Selatan.
Wilayah yang perlu mendapat perhatian meliputi Sumatera bagian tengah dan selatan, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara, hingga kawasan Papua. Kondisi ini membuka peluang terjadinya cuaca ekstrem berupa hujan lebat yang dapat disertai kilat, petir, serta angin kencang.
BMKG menetapkan status Siaga untuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat di sejumlah wilayah, di antaranya Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta Papua Pegunungan.
Sementara itu, potensi angin kencang diperkirakan meluas di banyak provinsi, termasuk Jakarta, Banten, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Memasuki periode 16–19 Januari 2026, pola cuaca diprakirakan belum banyak berubah. BMKG mencatat hujan ringan hingga lebat masih akan mendominasi berbagai wilayah, dengan peningkatan intensitas hujan sedang berpotensi terjadi di Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, NTB, Kalimantan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga Papua.
Pada periode ini, status Siaga kembali diberlakukan untuk wilayah Sumatera Barat, Jawa Timur, NTT, dan Papua Pegunungan. Selain itu, angin kencang masih berpotensi terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia bagian barat, tengah, hingga timur.
BMKG menjelaskan, rangkaian cuaca ekstrem yang terjadi pada awal 2026 dipicu oleh kombinasi beberapa faktor atmosfer.
“Pertama, terdapat penguatan Monsoon Asia yang disertai dengan peningkatan kecepatan angin di wilayah Laut Cina Selatan yang bergerak ke arah selatan melalui Selat Karimata hingga mencapai Pulau Jawa,” tulis BMKG dalam keterangannya, dikutip Kamis (15/1/2026).
Selain itu, pola aliran angin yang berkembang saat ini turut memperkuat pembentukan daerah konvergensi, terutama di sepanjang Pulau Jawa, Bali, hingga NTB. Kondisi tersebut menjadi faktor penting dalam memicu pertumbuhan awan hujan dengan intensitas tinggi.
Faktor lain yang turut berperan adalah keberadaan daerah tekanan rendah di wilayah timur Australia. Sistem ini memodifikasi sirkulasi angin regional dan membuat aliran angin di Indonesia bagian selatan menjadi lebih dominan ke arah timur.
“Kondisi tersebut mendukung proses naiknya udara secara lebih intensif dan berkelanjutan, yang pada akhirnya meningkatkan potensi hujan lebat di sebagian besar pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara,” tulis BMKG.
Dalam sepekan ke depan, BMKG menilai pengaruh dinamika atmosfer global, regional, hingga lokal masih akan cukup kuat. Pada skala global, fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau berada pada fase negatif atau La Niña lemah.
“Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia. Selain itu, suhu muka laut yang relatif hangat di sebagian perairan Indonesia turut memperkaya pasokan uap air,” tutur BMKG.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, longsor, angin kencang, serta dampak turunan lainnya dari cuaca ekstrem.***
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































