Kenapa Anak Susah Makan Sayur? Ini Penjelasan tentang Picky Eating!

anak
ilustrasu Picky Eating (foto: istock)

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pernahkah kamu melihat anak yang hanya mau makan ayam goreng setiap hari, atau menolak sayur dengan wajah cemberut? Jika iya, bisa jadi mereka termasuk picky eater istilah untuk anak yang memilih-milih makanan.

Fenomena picky eating umum terjadi, terutama pada usia balita hingga anak sekolah dasar. Meski sering dianggap fase normal, jika berlangsung lama, kebiasaan ini bisa berdampak pada pertumbuhan dan kesehatan anak.

Apa Itu Picky Eating?

Picky eating adalah perilaku ketika anak menolak makanan tertentu, hanya mau makan jenis makanan tertentu, atau menolak mencoba makanan baru (food neophobia).

Advertisement

Ciri-cirinya bisa berupa:

  • Menolak sayur atau buah.
  • Hanya mau makanan dengan bentuk, warna, atau tekstur tertentu.
  • Mudah bosan dan cepat kehilangan selera makan.
  • Mengonsumsi porsi makan yang sangat sedikit.

Biasanya, picky eating muncul saat anak mulai belajar mengenal rasa dan memiliki kontrol terhadap pilihan makanannya sendiri. Namun, jika tidak ditangani dengan tepat, hal ini bisa memengaruhi kecukupan gizinya.

Mengapa Anak Bisa Menjadi Picky Eater?

Ada banyak faktor yang membuat anak menjadi picky eater, di antaranya:

  1. Perkembangan sensorik.
    Anak kecil masih sangat sensitif terhadap rasa, aroma, dan tekstur makanan. Makanan tertentu bisa terasa “aneh” di lidah mereka.
  2. Pola asuh makan.
    Orang tua yang terlalu memaksa anak untuk menghabiskan makanan bisa membuat anak semakin menolak makan.
  3. Kebiasaan di rumah.
    Bila anak terbiasa melihat orang tua memilih-milih makanan, mereka cenderung meniru perilaku itu.
  4. Pengalaman negatif dengan makanan.
    Misalnya, anak pernah muntah setelah makan sayur tertentu, sehingga mereka menolak makanan itu di kemudian hari.
Baca Juga :  Mengenal Kuku Rapuh: Penyebab, Risiko, dan Perawatan yang Tepat

Dampak Picky Eating bagi Pertumbuhan Anak

Jika terjadi dalam waktu lama, picky eating dapat berdampak pada kesehatan fisik dan perkembangan kognitif anak.

Beberapa risiko yang dapat muncul antara lain:

  1. Kekurangan gizi.
    Anak yang menolak banyak jenis makanan berisiko kekurangan zat penting seperti protein, zat besi, kalsium, vitamin A, dan C.
  2. Pertumbuhan terhambat.
    Asupan kalori dan nutrisi yang tidak cukup bisa menghambat kenaikan berat dan tinggi badan anak.
  3. Masalah konsentrasi dan energi.
    Kekurangan zat gizi tertentu dapat memengaruhi daya fokus, mood, serta tingkat energi anak di sekolah.
  4. Gangguan makan jangka panjang.
    Jika tidak diatasi sejak dini, kebiasaan picky eating bisa terbawa hingga remaja atau dewasa.
Baca Juga :  Mengenal Ajiaco, Sup Ayam dengan Tiga Jenis Kentang Khas Kolombia

Cara Mengatasi Picky Eating

Menangani picky eater membutuhkan kesabaran dan strategi. Beberapa cara yang bisa dicoba:

  1. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan.
    Hindari memaksa atau memarahi anak ketika menolak makanan. Jadikan waktu makan sebagai momen positif.
  2. Libatkan anak dalam proses makan.
    Ajak anak memilih bahan makanan atau membantu menyiapkan menu. Anak cenderung lebih tertarik mencoba makanan yang mereka bantu buat.
  3. Kreasikan tampilan makanan.
    Bentuk makanan menjadi lucu atau berwarna menarik, misalnya membuat nasi berbentuk karakter kartun atau sayuran dipotong kecil seperti bintang.
  4. Berikan contoh.
    Anak belajar dengan meniru. Bila orang tua rutin makan sayur dan buah, anak pun lebih mudah terbiasa.
  5. Kenalkan makanan baru secara bertahap.
    Jangan langsung memaksa anak menghabiskan porsi besar. Coba sedikit demi sedikit, berulang kali, hingga mereka mulai terbiasa.

Penutup

Picky eating memang umum terjadi, tetapi tidak boleh diabaikan. Kuncinya adalah kesabaran, kreativitas, dan konsistensi dalam mengenalkan makanan sehat sejak dini.

Dengan pola asuh yang tepat, anak bisa belajar bahwa makan bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari pengalaman yang menyenangkan — sekaligus penting bagi tumbuh kembangnya.***

Editor : Syafira

Sumber : CNBCIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel