Sering Ikut Menguap? Ternyata Ini Penyebabnya Menurut Sains

menguap
ilustrasi dua orang yang menguap karena mengantuk. Foto: magnific

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pernah merasa ikut menguap setelah melihat orang lain melakukannya? Fenomena yang tampak sederhana ini ternyata memiliki penjelasan ilmiah. Menguap bukan hanya dipicu rasa kantuk atau bosan, tetapi juga dapat muncul sebagai respons sosial yang terjadi secara otomatis.

Mengutip dari PBS News, fenomena tersebut dikenal sebagai contagious yawning atau menguap yang menular. Penelitian menunjukkan seseorang memiliki kemungkinan hingga enam kali lebih besar untuk menguap setelah melihat orang lain menguap. Respons ini berlangsung spontan tanpa disadari.

Berkaitan dengan Empati dan Peniruan Sosial

Advertisement

Para peneliti menyebut kemampuan ikut menguap bukanlah refleks yang dimiliki sejak lahir. Anak-anak umumnya baru mulai menunjukkan perilaku ini ketika berusia sekitar 4 hingga 5 tahun, yakni saat kemampuan empati mereka mulai berkembang.

Ilmuwan saraf dari Georgetown University, James Giordano, menjelaskan bahwa fenomena tersebut diduga berkaitan dengan social mirroring, yaitu kecenderungan seseorang meniru tindakan orang lain sebagai bagian dari proses interaksi sosial.

Baca Juga :  Black Moon, Bulan Gelap yang Bawa Panggung Bintang di Langit Agustus

Menurutnya, mekanisme itu melibatkan kerja mirror neuron atau neuron cermin di otak yang membantu manusia memahami dan merasakan tindakan maupun emosi orang lain.

Tak hanya menguap, respons serupa juga dapat terjadi ketika seseorang melihat orang lain tertawa, tersenyum, menggaruk wajah, hingga menyilangkan kaki. Otak secara otomatis memproses gerakan tersebut dan terkadang mendorong tubuh untuk melakukan tindakan yang sama.

Fenomena ini juga diyakini menjadi salah satu bentuk ikatan sosial. Orang yang memiliki tingkat empati lebih tinggi disebut cenderung lebih mudah mengalami respons peniruan tersebut.

Menguap Berlebihan Perlu Diwaspadai

Meski menguap merupakan hal yang normal, frekuensi menguap yang terlalu sering tanpa penyebab yang jelas sebaiknya tidak diabaikan.

Mengutip dari Medical News Today, menguap berlebihan dapat berkaitan dengan gangguan pada saraf vagus, yaitu saraf yang menghubungkan otak dengan beberapa organ tubuh, termasuk tenggorokan dan lambung. Aktivitas pada saraf ini dapat memicu respons vasovagal yang menyebabkan seseorang lebih sering menguap.

Baca Juga :  Kunci Harmoni Rumah Tangga, 2 Tips Keuangan Wajib Sebelum Menikah

Dalam kondisi tertentu, kebiasaan menguap berlebihan juga bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan, seperti:

  • Gangguan tidur.
  • Kelainan pada otak atau sistem saraf.
  • Gangguan jantung, termasuk serangan jantung atau peradangan di sekitar jantung.

Karena itu, apabila menguap terjadi terus-menerus tanpa disertai rasa kantuk atau penyebab yang jelas, disertai gejala lain seperti nyeri dada, sesak napas, pusing, atau penurunan kesadaran, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.

Pada dasarnya, menguap yang “menular” merupakan bagian dari mekanisme alami otak yang berkaitan dengan empati, interaksi sosial, dan kerja neuron cermin. Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk secara tidak sadar menyesuaikan responsnya dengan perilaku orang di sekitarnya.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel