TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di banyak dapur Indonesia, pare dikenal sebagai sayur yang rasanya pahit tapi dipercaya punya segudang manfaat kesehatan. Salah satu yang paling sering disebut adalah kemampuannya menurunkan kadar asam urat.
Banyak orang meyakini bahwa di balik rasa getirnya, pare menyimpan khasiat untuk “menetralisir” tumpukan asam urat dalam tubuh.
Namun, apakah benar pare bisa menjadi solusi alami untuk penderita asam urat? Situs kesehatan Alodokter.com menjelaskan bahwa sebelum rutin mengonsumsi pare untuk tujuan ini, penting memahami fakta medis, keamanan, serta risikonya.
Dari Obat Tradisional ke Tren Modern
Pare memang bukan pemain baru dalam dunia pengobatan tradisional. Di berbagai negara Asia, sayuran ini telah lama digunakan untuk menurunkan gula darah dan membantu pencernaan.
Kini, banyak orang juga mengaitkannya dengan manfaat menekan kadar asam urat, berkat kandungan antioksidan serta senyawa aktif di dalamnya.
Namun begitu, keraguan tentang efektivitas pare untuk asam urat masih tinggi, terutama karena penelitian medisnya belum banyak dilakukan pada manusia.
Apa Kata Sains?
Menurut Alodokter, penelitian yang ada sejauh ini sebagian besar masih terbatas pada hewan percobaan. Beberapa hasil studi menunjukkan bahwa ekstrak pare mengandung antioksidan seperti vitamin C, polifenol, dan flavonoid yang berperan melawan stres oksidatif, yaitu kondisi yang bisa memperparah peradangan termasuk pada penderita asam urat.
Lebih lanjut, penelitian pada hewan juga menunjukkan bahwa senyawa aktif dalam pare mampu menghambat enzim xantin oksidase, enzim yang berperan penting dalam pembentukan asam urat. Dengan menghambat enzim ini, produksi asam urat di dalam tubuh bisa berkurang.
Sayangnya, hasil tersebut belum bisa disamakan dengan efek pada manusia.
“Penelitian pare untuk asam urat masih sangat terbatas pada hewan, seperti tikus percobaan, dan hasilnya belum tentu sama pada manusia,” tulis Alodokter.
Selain itu, kandungan vitamin C dalam pare memang dapat membantu menurunkan kadar asam urat, tetapi efeknya tidak sebesar konsumsi suplemen vitamin C yang sudah terbukti secara klinis.
Manfaatnya Ada, tapi Jangan Berlebihan
Meski bukti ilmiahnya terbatas, bukan berarti pare tidak boleh dikonsumsi. Pare tetap bisa menjadi pelengkap menu sehat karena kaya akan serat dan nutrisi. Namun, jangan jadikan pare satu-satunya andalan untuk mengatasi asam urat.
Alodokter menegaskan bahwa pengelolaan asam urat tetap harus berfokus pada pola makan rendah purin, konsumsi obat sesuai anjuran dokter, dan gaya hidup sehat.
“Anda boleh saja mengonsumsi pare untuk asam urat sebagai pelengkap menu sehat karena kandungan gizinya bermanfaat bagi tubuh. Namun, untuk pengelolaan asam urat secara medis, tetap utamakan anjuran dokter,” tulis Alodokter.
Perhatikan Risiko dan Atur Konsumsi
Bagi Anda yang ingin mencoba pare untuk membantu menjaga kadar asam urat, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan.
- Konsultasikan dulu dengan dokter, terutama jika sedang menjalani pengobatan.
- Jangan gunakan pare sebagai pengganti obat medis.
- Konsumsi dalam jumlah wajar, misalnya 1–2 kali seminggu.
- Hentikan jika muncul efek seperti mual, muntah, diare, atau sakit perut.
Pare yang dikonsumsi berlebihan juga dapat menyebabkan penurunan gula darah drastis, terutama pada penderita diabetes. Untuk ibu hamil, menyusui, dan anak-anak, konsumsi pare sebaiknya dihindari kecuali atas saran dokter.
Kesimpulan: Antara Harapan dan Hati-Hati
Pare memang memiliki potensi manfaat bagi kesehatan, termasuk untuk mengendalikan kadar asam urat. Tapi, hingga kini bukti ilmiah yang menunjukkan efektivitasnya pada manusia masih terbatas.
Maka, nikmati pare sewajarnya sebagai bagian dari pola makan sehat — bukan sebagai obat utama. Jika kadar asam urat tak kunjung membaik atau sering kambuh, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan medis yang tepat.
Karena pada akhirnya, rasa pahit pare mungkin menyehatkan, tapi tanpa bimbingan medis, hasilnya bisa terasa getir juga.***
Editor : Syafira
Sumber : alodokter.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































