
TIMETODAY.ID, BOGOR – Di balik keterbatasan, seringkali tersembunyi cahaya talenta yang tak kalah gemilang. Hal itulah yang tampak saat Haida Mekar, siswi tunanetra kelas 11 dari SLB Bina Sejahtera Cileungsi, berdiri di atas panggung sederhana dan menyanyikan lagu dengan suara merdunya.
Suaranya meluncur pelan namun kuat, menyentuh hati setiap orang yang hadir di aula Kantor Kecamatan Cileungsi, Selasa (5/8/2025).
Salah satu yang terlihat terpukau adalah Bupati Bogor, Rudy Susmanto, yang kala itu tengah melakukan kunjungan kerja ke wilayah Cileungsi. Tak hanya Bupati, Wakil Bupati Ade Ruhandi pun ikut larut dalam momen penuh haru itu.
Bukan hanya Haida yang mencuri perhatian. Dalam kesempatan yang sama, seorang siswi tuna rungu bernama Auleria juga turut tampil, bukan lewat suara, melainkan melalui karya. Lukisan yang ia hasilkan dengan penuh ketelatenan dan rasa justru berhasil membuat Bupati terdiam sejenak, seolah mencoba menangkap pesan yang tak diucapkan dengan kata-kata.
Di balik penampilan mengesankan ini, ada tangan-tangan sabar para guru yang membimbing mereka. Salah satunya adalah Indriyati Siti Salamah, guru pendamping dari SLB Bina Sejahtera Cileungsi, yang tampak tak bisa menyembunyikan rasa bangga.
“Biasanya kami hanya tampil di acara Dinas Sosial atau Dinas Pendidikan. Hari ini rasanya luar biasa bisa tampil di hadapan Bupati dan Wakil Bupati langsung,” ucapnya penuh haru.
Momen itu seakan menjadi pembuktian bahwa anak-anak dengan kebutuhan khusus bukanlah generasi yang harus disisihkan. Mereka pun mampu bersinar dan menyampaikan pesan lewat karya, dengan caranya sendiri.
Hal ini juga yang ditegaskan oleh Bupati Bogor, Rudy Susmanto, dalam sambutannya.
“Saya sangat bangga dan terharu. Anak-anak kita ini luar biasa. Mereka punya bakat, baik dalam seni suara, gambar, maupun karya tulis,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Lebih jauh, Rudy menegaskan pentingnya kesetaraan hak dan kesempatan untuk setiap anak, tanpa terkecuali.
“Sudah sepatutnya mereka mendapatkan hak dan kesempatan yang sama,” tegasnya.
Di balik suara Haida yang merdu dan lukisan Auleria yang penuh makna, ada pesan yang disampaikan dengan kuat: bahwa keterbatasan fisik tidak pernah membatasi impian dan potensi. Mereka hanya butuh ruang, kesempatan, dan mata yang mau melihat lebih dalam.
Dan pada hari itu, di Cileungsi, ruang itu terbuka lebar.***
Editor : Syafira
Wartawan : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































