TIMETODAY.ID — Hampir setengah abad memegang kekuasaan tak membuat Paul Biya gentar untuk kembali bertarung di panggung politik Kamerun. Di usianya yang telah menginjak 92 tahun, Biya resmi mengumumkan diri akan maju lagi sebagai kandidat presiden untuk kedelapan kalinya pada pemilihan Oktober mendatang.
Pengumuman itu diunggah langsung oleh Biya melalui akun media sosial X dalam dua bahasa, Prancis dan Inggris, pada Minggu (13/7) waktu setempat.
“Saya adalah kandidat untuk pemilihan presiden 12 Oktober 2025. Yakinlah bahwa tekad saya untuk melayani Anda sepadan dengan tantangan berat yang kita hadapi,” tulisnya, dikutip AFP, Senin (14/7/2025).
Tak berhenti di situ, Biya juga memompa semangat para pendukungnya. “Bersama-sama, tidak ada tantangan yang tidak dapat kita hadapi. Yang terbaik masih akan datang,” imbuhnya.
Lelaki yang kini menjadi pemimpin de facto Gerakan Demokratik Rakyat Kamerun (CPDM) itu tercatat telah memimpin negara tersebut sejak 1982. Praktis, namanya menjadi salah satu presiden terlama yang masih berkuasa di dunia.
Namun di balik ambisi untuk terus duduk di kursi tertinggi Kamerun, suara-suara sumbang mulai terdengar. Kondisi kesehatan Biya dan kemampuannya untuk terus memerintah menjadi topik perdebatan di kalangan politisi, bahkan di antara loyalisnya sendiri.
Dalam beberapa bulan terakhir, beberapa orang terdekatnya memilih berbalik arah. Menteri Ketenagakerjaan Issa Tchiroma Bakary mundur dari kabinet pada Juni lalu. Ia kini bersiap maju sebagai pesaing Biya di bawah bendera partai Front Keselamatan Nasional Kamerun (FSNC) yang dipimpinnya.
Langkah serupa diambil mantan perdana menteri Bello Bouba Maigari. Politikus senior dan sekutu Biya selama hampir 30 tahun ini memastikan akan maju lewat partai Persatuan Nasional untuk Demokrasi dan Kemajuan (NUDP).
Padahal, kedua partai itu sebelumnya merupakan sekutu erat CPDM, partai penguasa yang menaungi Biya sejak Kamerun merdeka pada 1960 silam.
Meski demikian, peluang Biya untuk kembali terpilih tetap terbuka lebar. Oposisi yang terpecah dan sulit bersatu di belakang satu kandidat membuat jalan Biya tak sepenuhnya terjal, meski di luar gedung parlemen kritik terus berdengung.
Di sudut-sudut kota, masyarakat Kamerun masih disibukkan dengan persoalan lama: pengangguran anak muda, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan layanan publik yang sering menuai keluhan. Belum lagi ketegangan yang kerap muncul di wilayah berbahasa Inggris, di mana kelompok separatis masih menuntut pemisahan diri.
Rakyat Kamerun kini menunggu Oktober datang, menanti apakah era Paul Biya akan berlanjut untuk delapan periode atau akan muncul babak baru bagi negeri di Afrika Tengah itu.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































