Jenazah Juliana Marins Tiba di Brasil, Autopsi Kedua Digelar Demi Jawaban Pasti

Juliana Marins
jenazah Juliana Marins (Mauro PIMENTEL/AFP)
TIMETODAY.ID — Setelah seminggu penuh penantian dan perjalanan panjang dari lereng Gunung Rinjani ke tanah kelahirannya, jenazah Juliana Marins akhirnya tiba di Brasil. Perempuan 27 tahun yang terjatuh di jalur pendakian Cemara Nunggal, Lombok, itu kini kembali di antara orang-orang terdekatnya—meski dalam keadaan sunyi di ruang otopsi.
Pihak Sekretariat Negara Kepolisian Sipil Rio de Janeiro, melalui Departemen Umum Kepolisian Teknis-Ilmiah (DGPTC), melaporkan bahwa autopsi ulang terhadap Juliana rampung pada Rabu pagi, 2 Juli 2025, waktu setempat. Prosedur tersebut berlangsung selama lebih dari dua jam, diawasi ketat oleh dua ahli forensik, seorang ahli medis Kepolisian Federal, dan asisten teknis mewakili pihak keluarga, sebagaimana dilaporkan CNN Brasil.
Menurut penjelasan polisi, autopsi dimulai pukul 08.30 pagi. Hasil awal dijadwalkan akan dirilis dalam waktu tujuh hari.
Permintaan autopsi ulang ini tak lepas dari keinginan keluarga Marins yang menggugat kejelasan. Pada 29 Juni lalu, Kantor Pembela Umum Persatuan (DPU) mengajukan gugatan ke Kantor Jaksa Agung Persatuan (AGU). Pihak keluarga, melalui pembela Taísa Bittencourt Leal Queiroz, menilai laporan otopsi Indonesia “kurang memberi kepastian soal penyebab dan waktu tepat kematian.”
Patah Tulang, Trauma Tumpul, dan Misteri Sisa
Autopsi pertama yang dilakukan di Denpasar, Bali, menyebut Juliana meninggal akibat trauma tumpul—benturan keras akibat terjatuh. Ida Bagus Putu Alit, dokter forensik di RS Bhayangkara Denpasar, menjelaskan betapa parahnya luka-luka di tubuh sang pendaki.
“Kami menemukan luka lecet geser di sekujur tubuh, patah tulang dada, tulang belakang, punggung, hingga tulang paha. Luka terparah berada di punggung, menyebabkan kerusakan organ dalam dan pendarahan hebat,” kata Alit, 27 Juni lalu.
Berdasarkan pemeriksaan di Indonesia, Juliana diyakini meninggal hanya sekitar 20 menit setelah terjatuh. Namun, keluarga merasa ada celah: waktu persis kematian, kemungkinan faktor hipotermia, hingga detail volume darah yang hilang, semua jadi teka-teki.
Sayangnya, menurut ahli forensik Brasil Caroline Daitx, autopsi ulang pun punya batasan teknis. Organ-organ yang sudah diperiksa di Indonesia dan metode pengawetan jenazah dengan freezer membuat susunan anatomi berubah.
“Autopsi pertama sudah memanipulasi organ internal, jadi mustahil memperkirakan, misalnya, seberapa banyak darah yang hilang. Jaringan tubuh juga berubah secara permanen,” jelas Daitx.
Meski demikian, Daitx menilai prosedur kedua tetap bisa membuka peluang: menemukan ketidakkonsistenan, atau sekadar membuktikan upaya transparansi dalam kasus ini.
Perpisahan Terakhir di Niterói
Setelah melewati prosedur panjang, jenazah Juliana akhirnya diserahkan ke pihak keluarga. Besok, Jumat (4/7), keluarga akan membuka upacara penghormatan di Pemakaman Parque da Colina, Niterói—kota asal Juliana di pinggir Rio de Janeiro. Masyarakat umum diundang melepas kepergiannya mulai pukul 10 pagi hingga 12 siang.
Sementara penghormatan tertutup, hanya dihadiri keluarga dan sahabat terdekat, akan berlangsung dari 12.30 hingga 3 sore waktu setempat.
Di lereng Rinjani, bekas jejak Juliana mungkin sudah hilang tertutup kabut. Tapi di Brasil, keluarga masih berupaya memastikan satu hal: bagaimana sebenarnya Juliana berpulang.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Hadapi Ancaman Krisis BBM, Prabowo Dorong Kajian WFH dan Pemangkasan Hari Kerja

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel