TIMETODAY.ID — Di tengah hiruk-pikuk kolom komentar media sosial, tak jarang kita menemukan istilah yang membuat dahi berkerut. Salah satunya adalah “yapping” atau “yapper”. Kata ini mendadak ramai digunakan netizen, khususnya di TikTok, sebagai bahan lelucon, sindiran, atau bahkan identitas diri. Tapi, apa sebenarnya arti dari yapping?
Di TikTok, tren meme seperti “Udah yapping-nya?” atau “I am either yapping or napping” muncul silih berganti. Dalam satu sisi, yapping terdengar seperti omongan receh. Tapi di balik kata ini, ada sejarah linguistik yang cukup panjang.
Menurut kamus Merriam-Webster, “yapping” adalah aktivitas berbicara dengan nada tinggi dan terus-menerus—mirip dengan berceloteh atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan istilah “nyerocos”. Secara harfiah, kata ini juga bisa merujuk pada suara gonggongan cepat seekor anjing kecil.
Namun, asal-usul kata ini ternyata cukup kuno. Profesor linguistik Sylvia Sierra menjelaskan bahwa “yap” dulunya adalah kata benda yang digunakan untuk menyebut anjing kecil sejak abad ke-17. Seiring waktu, kata ini mengalami pergeseran makna (semantic shift), dan pada awal 1800-an mulai digunakan untuk menggambarkan ocehan manusia.
“Yapping adalah kata kerja yang sudah ada dan mudah diterapkan pada perilaku linguistik di TikTok, yang memang berisi orang-orang yang gemar bicara,” ujar Sierra, dikutip dari Yahoo News.
Tak hanya Sierra, pakar linguistik dan budaya Noël Wolf juga mencermati kembalinya popularitas yapping lewat meme dan tren TikTok. Menurutnya, media sosial adalah wadah yang ideal untuk inovasi bahasa. Di sinilah bahasa gaul Gen Z tumbuh subur.
“Budaya anak muda memainkan peran penting dalam memengaruhi tren bahasa daring, membentuk bahasa gaul dan ekspresi yang mencerminkan pengalaman budaya mereka,” kata Wolf.
Antara Sindiran dan Perayaan
Meskipun terlihat lucu, istilah yapping kadang digunakan sebagai sindiran, terutama pada mereka yang dianggap terlalu banyak bicara. Beberapa komentar yang kini jamak ditemukan di media sosial contohnya:
-
“What is bro yapping about?” – sindiran untuk seseorang yang berbicara ngalor-ngidul tanpa substansi.
-
“My mom been yapping for 16 years” – gurauan tentang orang tua yang terus mengomel.
-
“Yapping for three hours” – menggambarkan obrolan tanpa henti.
Namun, di sisi lain, istilah ini juga bisa menjadi bagian dari identitas. Banyak netizen menggunakannya dengan bangga, seperti:
-
“Born to yap, forced to work.”
-
“Yapper girl” – label untuk mereka yang bangga sebagai tukang cerita.
-
“Yapping session” – sesi obrolan panjang ala tongkrongan.
Menariknya, yapping dulunya digunakan dalam konteks seksis untuk merendahkan suara perempuan yang dianggap terlalu cerewet. Tapi kini, justru istilah ini banyak digunakan perempuan sebagai bentuk ekspresi diri. Menurut Sierra, ini adalah bentuk transformasi makna yang menarik secara budaya.
Yapping dan Slang Gen Z Lainnya
Yapping hanyalah satu dari sekian banyak istilah gaul yang kembali mencuat lewat media sosial. Berikut beberapa lainnya:
-
Demure: menggambarkan sosok pendiam, sederhana, atau pemalu.
-
Pick-me: julukan untuk orang yang haus perhatian dan ingin terlihat lebih unggul dari yang lain.
-
Pookie: nama sayang untuk orang terdekat atau hewan peliharaan.
-
Skibidi: ekspresi lucu untuk menggambarkan situasi absurd atau kacau.
-
Rizz: berasal dari “charisma”, merujuk pada daya tarik atau kemampuan menggoda.
Di era digital, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tapi juga simbol budaya, identitas, dan humor. Dan dalam dunia Gen Z yang bergerak cepat, satu kata bisa jadi ribuan makna. Jadi, sebelum ikut-ikutan komentar “Stop yapping!”—pastikan kamu tahu maksud sebenarnya, atau kamu akan dianggap lost in translation.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel







































