TIMETODAY.ID, JAKARTA — Masyarakat di sejumlah wilayah Pulau Jawa kembali merasakan udara yang lebih dingin dari biasanya pada malam hingga menjelang pagi selama puncak musim kemarau. Fenomena yang dikenal sebagai bediding ini merupakan kondisi penurunan suhu udara yang lazim terjadi setiap tahun, terutama pada Juli hingga Agustus.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa bediding dipicu oleh menguatnya angin muson timur atau musim Australia yang membawa massa udara kering menuju Indonesia.
“Dalang utamanya adalah musim Australia. Angin musim yang kering ini menyapu uap air dan mengurangi pembentukan awan di langit kita,” tulis BMKG melalui akun Instagram resminya, Sabtu (18/7/2026).
Menurut BMKG, berkurangnya tutupan awan membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer pada malam hari. Akibatnya, suhu udara turun lebih cepat dan mencapai titik terendah pada dini hari hingga menjelang matahari terbit.
Penurunan Suhu Memuncak pada Juli–Agustus
Berdasarkan catatan BMKG selama satu dekade terakhir, fenomena bediding mulai terasa sejak Juli dan umumnya mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus.
Sebagai contoh, suhu udara di Kabupaten Malang dapat turun hingga di bawah 19,5 derajat Celsius saat malam hari, jauh lebih rendah dibandingkan wilayah pesisir seperti Jakarta yang cenderung memiliki suhu lebih stabil.
Selain faktor musim, kondisi geografis turut memperkuat penurunan suhu, khususnya di kawasan dataran tinggi. Topografi pegunungan dan elevasi yang tinggi membuat udara dingin lebih mudah terperangkap sehingga suhu menjadi lebih rendah dibandingkan daerah sekitarnya.
Temuan tersebut juga didukung oleh data Land Surface Temperature malam hari dari sensor MODIS pada satelit cuaca yang menunjukkan terbentuknya zona-zona bersuhu rendah di sepanjang kawasan pegunungan Pulau Jawa.
Embun Upas Muncul di Kawasan Pegunungan
BMKG menjelaskan bahwa suhu yang sangat rendah di daerah pegunungan dapat memicu terbentuknya embun yang membeku menjadi kristal es. Fenomena ini dikenal masyarakat sebagai embun upas.
“Saking dinginnya fenomena bediding ini, di daerah dataran tinggi seperti Gunung Bromo, air embun yang menempel di daun bisa membeku jadi kristal es, mirip hamparan salju,” ujar BMKG.
Data Automatic Weather Station (AWS) BMKG mencatat suhu udara di kawasan Gunung Bromo sempat mencapai 3,9 derajat Celsius pada 11 Juni 2026. Sementara itu, kawasan Dataran Tinggi Dieng mencatat suhu sekitar 0,7 derajat Celsius, mendekati titik beku sehingga embun es lebih sering terbentuk.
BMKG mengimbau masyarakat, terutama yang berada di wilayah dataran tinggi maupun wisatawan yang berkunjung ke kawasan pegunungan, agar mempersiapkan pakaian hangat dan menjaga kondisi tubuh selama periode suhu dingin berlangsung.***
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































