
TIMETODAY.ID, JAKARTA — Layanan transportasi publik Transjakarta terus mengalami pertumbuhan signifikan sejak beroperasi lebih dari dua dekade. Hingga pertengahan 2026, sistem Bus Rapid Transit (BRT) pertama di Asia Tenggara tersebut mencatat rekor keterangkutan hingga 1,5 juta pelanggan per hari dengan cakupan layanan mencapai 92,4 persen populasi Jakarta.
Berdasarkan data PT Transportasi Jakarta, sepanjang 2025 Transjakarta melayani sekitar 413 juta pelanggan. Peningkatan jumlah pengguna tersebut sejalan dengan perluasan jaringan transportasi yang kini mencakup 233 rute, terdiri atas koridor BRT sepanjang 409 kilometer dan layanan feeder sepanjang 2.326 kilometer.
Saat ini, operasional Transjakarta didukung oleh 5.227 armada bus, termasuk 2.978 unit Mikrotrans. Layanan tersebut diperkuat dengan 245 halte BRT serta 7.346 titik pemberhentian bus yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta.
Dari total perjalanan pelanggan, layanan BRT dan Non-BRT menjadi penyumbang terbesar dengan 207,7 juta pelanggan atau sekitar 50,55 persen. Sementara layanan Mikrotrans mencatat 181,6 juta pelanggan atau 44,12 persen, disusul Transjabodetabek sebanyak 21,6 juta pelanggan atau 5,33 persen.
Selain peningkatan jumlah pengguna, Transjakarta juga mencatat pertumbuhan signifikan pada program Kartu Layanan Gratis (KLG). Hingga 2026, jumlah pengguna layanan gratis mencapai sekitar 25 juta perjalanan atau meningkat 2,3 kali lipat dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Akademisi Prodi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata sekaligus Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai perkembangan Transjakarta menunjukkan keberhasilan pemerintah daerah dalam membangun sistem transportasi massal yang terintegrasi.
“Keberhasilan pengelolaan Transjakarta di DKI Jakarta menjadi acuan strategis bagi daerah lain dalam mengembangkan transportasi publik modern. Pemerintah daerah kini dapat melihat bahwa sistem angkutan massal yang terintegrasi bisa dibangun dari dalam negeri,” kata Djoko Setijowarno, Jumat (17/7/2026).
Menurut dia, peningkatan jumlah pelanggan hingga 1,5 juta per hari menunjukkan bahwa transportasi publik semakin menjadi pilihan masyarakat Jakarta. Namun, peningkatan layanan juga harus diikuti dengan tata kelola pembiayaan yang berkelanjutan.
“Perluasan penerima tarif gratis dan percepatan elektrifikasi armada menjadi tantangan tersendiri. Pengelolaan keuangan harus tetap adaptif agar peningkatan biaya operasional tidak memberikan tekanan besar terhadap anggaran daerah,” ujarnya.
Dari 40 Ribu Menjadi 1,5 Juta Pelanggan per Hari
Transjakarta pertama kali beroperasi pada 2004 sebagai layanan BRT pertama di Asia Tenggara dengan jumlah pengguna awal sekitar 40 ribu pelanggan per hari di Koridor 1.
Seiring perubahan kelembagaan melalui pembentukan PT Transportasi Jakarta sebagai perusahaan pengelola layanan bus, jaringan Transjakarta terus berkembang hingga mampu melayani ratusan ribu pelanggan setiap hari.
Pada Februari 2020, Transjakarta sempat mencapai rekor 1 juta pelanggan per hari. Namun, pandemi COVID-19 menyebabkan jumlah pengguna turun drastis hingga sekitar 83 ribu pelanggan per hari pada Maret 2020.
Setelah pandemi mereda, jumlah penumpang kembali meningkat. Pada September 2024, pengguna Transjakarta telah mencapai sekitar 1,3 juta pelanggan per hari, sebelum akhirnya mencatat rekor baru sebesar 1,5 juta pelanggan per hari pada Juni 2026.
Pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan jumlah rute. Dalam periode 2018–2025, jumlah rute Transjakarta meningkat dari 156 menjadi 233 rute atau bertambah sekitar 1,5 kali lipat. Dampaknya, cakupan layanan naik dari 67 persen menjadi 92,4 persen populasi Jakarta.
Kualitas Layanan dan Elektrifikasi Armada
Selain memperluas jaringan, Transjakarta juga melakukan peningkatan kualitas pelayanan. Indeks Kepuasan Pelanggan meningkat dari skor 4,0 menjadi 4,4 dalam skala lima, sementara pencapaian Standar Pelayanan Minimum (SPM) naik dari 93,52 persen pada 2018 menjadi 96,64 persen pada 2025.
Dari 245 halte yang tersedia, sebanyak 46 halte telah direvitalisasi sejak program dimulai pada 2022.
Di sisi lain, Transjakarta juga mempercepat penggunaan kendaraan ramah lingkungan. Saat ini sebanyak 500 armada bus listrik telah beroperasi untuk mendukung target transportasi rendah emisi.
Transjakarta juga mengembangkan kerja sama komersial melalui sembilan program naming rights, di antaranya Bundaran HI Astra, Senayan Bank Jakarta, Swadarma Paragon Corp, D’Masiv Petukangan, Cawang Sentral 1 Polypaint, Widya Chandra Telkomsel, Senen Toyota Rangga, Smabel, dan Rawa Selatan STIAMI.
Subsidi dan Tantangan Pembiayaan
Di tengah peningkatan layanan, biaya produksi Transjakarta mengalami tren kenaikan dalam satu dekade terakhir. Pada 2015, biaya produksi tercatat sekitar Rp1 triliun dan meningkat menjadi Rp4,7 triliun pada 2025. Dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) 2026, biaya produksi diproyeksikan mencapai Rp5,5 triliun.
Peningkatan biaya operasional tersebut turut berdampak pada kebutuhan subsidi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Porsi subsidi yang sebelumnya sekitar 1 persen dari APBD pada 2015 meningkat menjadi sekitar 5 persen pada 2025 dan diproyeksikan mencapai 6 persen pada 2026.
Meski demikian, Transjakarta tetap mempertahankan kebijakan tarif terjangkau. Saat ini terdapat beberapa skema tarif, mulai dari tarif ekonomis Rp2.000, tarif reguler Rp3.500, layanan Mikrotrans gratis, tarif intermoda Rp5.000, hingga tarif integrasi antarmoda dengan batas maksimal Rp10.000.
Selain itu, tarif Rp0 diberikan kepada 15 kelompok penerima layanan gratis, termasuk lansia, pelajar penerima KJP/KJM, ASN Pemprov DKI Jakarta, penyandang disabilitas, anggota TNI-Polri, hingga kelompok masyarakat tertentu.
Memasuki 2026, cakupan penerima tarif gratis diperluas untuk mencakup pekerja swasta dengan penghasilan setara upah minimum provinsi atau di bawah Rp6,2 juta.***
Editor : Syafira
Wartawan : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































