Masih Percaya Mitos Bulan Safar? Ini Dalil Al-Qur’an dan Hadis yang Meluruskannya

Bulan Safar
ilustrasi Bulan Safar. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTABulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah. Namun, hingga kini masih ada sebagian masyarakat yang mengaitkannya dengan berbagai mitos, mulai dari dianggap sebagai bulan pembawa sial hingga diyakini tidak baik untuk menikah, bepergian, atau memulai usaha.

Lantas, benarkah anggapan tersebut memiliki dasar dalam ajaran Islam?

Dalam Islam, keyakinan bahwa suatu bulan secara otomatis membawa kesialan tidak memiliki landasan syariat. Rasulullah SAW justru meluruskan kepercayaan yang berkembang di masa Arab Jahiliah mengenai bulan Safar.

Advertisement

Asal-usul Nama Bulan Safar

Mengutip penjelasan para ulama dalam Lisanul ‘Arab karya Ibnu Manzhur, kata Safar memiliki dua makna, yaitu kosong (shafar) dan kuning (shufrah).

Penamaan ini berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab pada masa lampau yang meninggalkan kampung halaman untuk berdagang atau berperang sehingga rumah-rumah mereka menjadi kosong.

Dalam kitab Al-Mufasshal fi Tarikhil ‘Arab Qablal Islam juga dijelaskan bahwa masyarakat menyebut kampung mereka menjadi kosong karena banyak penduduk yang pergi meninggalkannya.

Dengan demikian, asal-usul nama Safar berasal dari kondisi sosial masyarakat Arab saat itu, bukan karena bulan tersebut dianggap membawa nasib buruk.

Mitos yang Beredar tentang Bulan Safar

Sejak lama, terdapat beberapa anggapan yang berkembang di tengah masyarakat mengenai bulan Safar, di antaranya:

1. Safar Dianggap Membawa Kesialan

Sebagian orang percaya bahwa bulan Safar identik dengan musibah sehingga menghindari berbagai aktivitas penting, seperti menikah, membangun rumah, membuka usaha, atau menggelar acara besar.

Baca Juga :  Rahasia Merawat Kulit Tetap Sehat dan Segar Saat Cuaca Panas

2. Tidak Baik Bepergian

Ada pula keyakinan bahwa bepergian pada bulan Safar lebih berisiko mengalami kecelakaan atau musibah.

Padahal, dalam ajaran Islam keselamatan seseorang bergantung pada takdir Allah SWT disertai ikhtiar, bukan karena waktu atau bulan tertentu.

3. Diyakini Sebagai Bulan Penyakit

Sebagian masyarakat juga menganggap bulan Safar identik dengan datangnya wabah atau penyakit.

Padahal, sakit dan sehat merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT dan tidak berkaitan dengan adanya kesialan pada bulan tertentu.

Apa Kata Islam?

Kepercayaan bahwa bulan Safar membawa kesialan telah ada sejak masa Arab Jahiliah. Rasulullah SAW kemudian meluruskan keyakinan tersebut melalui sabdanya:

لا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

“Tidak ada penularan (penyakit yang terjadi dengan sendirinya tanpa izin Allah), tidak ada anggapan sial karena burung, tidak ada kesialan pada burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.”
(HR. Bukhari No. 5707 dan Muslim No. 2220).

Hadis tersebut menjadi dalil yang menegaskan bahwa Islam menolak keyakinan bulan Safar sebagai pembawa sial.

Al-Qur’an Menjelaskan Semua Bulan Adalah Ciptaan Allah

Allah SWT berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ

Baca Juga :  Menjemput Malam Lailatul Qadar 2025: Keutamaan dan Waktu yang Dinantikan

“Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu pada bulan-bulan itu.”
(QS. At-Taubah: 36).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT telah menetapkan jumlah bulan dalam setahun sebanyak dua belas bulan, dan hanya empat di antaranya yang memiliki keistimewaan sebagai bulan haram, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Safar tidak termasuk di dalamnya, sehingga tidak ada dasar syariat yang menyatakan bulan tersebut membawa kesialan.

Sikap Seorang Muslim di Bulan Safar

Daripada mempercayai mitos yang tidak memiliki dasar dalam syariat, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh di setiap waktu, termasuk pada bulan Safar.

Beberapa amalan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Memperbanyak salat sunnah dan zikir.
  • Membaca Al-Qur’an.
  • Memperbanyak sedekah.
  • Menjalin silaturahmi.
  • Memperbanyak doa dan istigfar.
  • Menuntut ilmu agama.

Pada akhirnya, baik atau buruknya kehidupan seseorang tidak ditentukan oleh bulan tertentu, melainkan oleh kehendak Allah SWT, ikhtiar yang dilakukan, serta amal saleh yang dikerjakan. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk bertawakal kepada Allah dan tidak mempercayai mitos yang bertentangan dengan ajaran Islam.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel