Mengenal 5 Gunung Purba di Indonesia yang Menyimpan Jejak Sejarah Bumi

gunung
Gunung Latimojong, Sulawesi Selatan. Foto: dok. indonesiakaya.com

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Indonesia tak hanya memiliki deretan gunung api aktif yang menjadi daya tarik wisata alam. Di berbagai wilayah Nusantara, terdapat pula gunung-gunung purba yang telah terbentuk jutaan tahun lalu dan menyimpan lanskap geologi serta ekosistem yang berbeda dari gunung vulkanik pada umumnya.

Gunung-gunung purba umumnya tidak memiliki kawah aktif maupun hamparan pasir vulkanik di puncaknya. Sebaliknya, kawasan ini didominasi hutan hujan tropis yang lebat, pepohonan berusia tua, batuan purba, hingga lumut yang menutupi hampir seluruh jalur pendakian. Kondisi tersebut menciptakan suasana alami yang masih terjaga dan menjadi habitat berbagai flora serta fauna endemik.

Berikut sejumlah gunung purba di Indonesia yang menawarkan pengalaman pendakian berbeda.

Advertisement

Gunung Latimojong, Sulawesi Selatan

Gunung Latimojong merupakan pegunungan non-vulkanik tertinggi di Pulau Sulawesi dengan puncak Rante Mario yang berada di ketinggian sekitar 3.478 meter di atas permukaan laut.

Sebagai salah satu gunung purba, kawasan ini menyuguhkan hutan pegunungan yang masih alami. Jalur pendakiannya dipenuhi akar pohon besar, bebatuan tua, serta kanopi hutan yang rapat sehingga menghadirkan suasana teduh dan tenang. Minimnya aktivitas manusia di beberapa jalur membuat kawasan ini tetap mempertahankan karakter hutan purba yang khas.

Gunung Arfak, Papua Barat

Pegunungan Arfak dikenal sebagai salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi di Indonesia. Puncak tertingginya mencapai sekitar 2.940 meter di atas permukaan laut.

Baca Juga :  Indonesia Tampil Perdana di Forum SCO, Dr. Lucky Wakili RI Bahas Investasi Global

Selain menjadi habitat berbagai spesies endemik, termasuk burung cenderawasih dan burung namdur (bowerbird), kawasan ini juga memiliki hutan lumut yang lebat dengan tingkat kelembapan tinggi. Kondisi tersebut menjadikan Arfak sebagai salah satu lokasi penelitian penting sekaligus destinasi bagi pendaki yang ingin menikmati suasana alam yang masih sangat alami.

Gunung Nglanggeran, Daerah Istimewa Yogyakarta

Berbeda dengan gunung lain yang menjulang tinggi, Gunung Nglanggeran di Kabupaten Gunungkidul menawarkan pendakian yang relatif singkat namun memiliki nilai geologi tinggi.

Gunung api purba yang diperkirakan aktif sekitar 60–70 juta tahun lalu ini kini menyisakan formasi batuan raksasa yang menjadi ciri khas kawasan tersebut. Pendaki akan melewati lorong-lorong batu alami sebelum mencapai puncak yang menyajikan panorama perbukitan hijau, terutama saat matahari terbenam.

Gunung Binaiya, Maluku

Gunung Binaiya yang berada di Pulau Seram memiliki ketinggian sekitar 3.027 meter di atas permukaan laut dan termasuk gunung non-vulkanik dengan jalur pendakian yang cukup menantang.

Pendakian menuju puncak melewati hutan hujan tropis tua yang menjadi bagian dari kawasan Wallacea. Selain vegetasi yang masih terjaga, jalur ini juga didominasi batuan karst serta pepohonan berukuran besar yang menciptakan suasana hutan alami dan relatif sepi dari aktivitas manusia.

Baca Juga :  Langkah Awal Indonesia di Thailand Open 2025: Jalan Terjal Menuju Babak Kedua

Gunung Rajabasa, Lampung

Di ujung selatan Pulau Sumatra, Gunung Rajabasa menawarkan pengalaman mendaki dengan lanskap hutan lindung yang masih asri. Gunung setinggi sekitar 1.281 meter ini dikenal memiliki vegetasi tropis yang rapat dengan dominasi pohon-pohon tua dan tanaman rotan.

Dari kawasan puncak, pendaki dapat menikmati panorama Selat Sunda sekaligus melihat deretan gunung di sekitarnya. Memasuki area hutan lumut menjelang puncak, suasana berubah menjadi lebih sejuk dan berkabut, memberikan kesan alami yang masih terjaga.

Menyimpan Warisan Geologi Nusantara

Selain menawarkan panorama alam, gunung-gunung purba juga menjadi saksi sejarah pembentukan bentang alam Indonesia selama jutaan tahun. Karakter geologi yang berbeda dari gunung berapi aktif menjadikan kawasan ini memiliki ekosistem unik yang penting untuk dijaga.

Bagi para pendaki, menjelajahi gunung purba bukan sekadar mencapai puncak, tetapi juga menikmati kekayaan alam, keanekaragaman hayati, serta jejak sejarah bumi yang masih tersimpan di berbagai penjuru Nusantara. Karena itu, setiap pengunjung diimbau tetap menjaga kelestarian lingkungan dan menghormati kearifan lokal masyarakat yang hidup di sekitar kawasan tersebut.***

Editor : Syafira

Sumber : idntimes.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel