TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di tengah kekhawatiran orang tua terhadap keamanan anak, banyak keluarga memilih menerapkan pengawasan yang ketat dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ada pendekatan pengasuhan yang justru memberi ruang lebih luas bagi anak untuk belajar mandiri sejak dini, yaitu free-range parenting.
Pola asuh ini mengajak orang tua memberikan kebebasan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan, mengambil keputusan sederhana, dan belajar dari pengalaman mereka sendiri, tentu dengan tetap mempertimbangkan aspek keselamatan.
Berawal dari Kisah Seorang Ibu di Amerika Serikat
Istilah free-range parenting mulai dikenal luas pada 2008 setelah penulis asal New York, Lenore Skenazy, menerbitkan artikel berjudul Why I Let My 9-Year-Old Ride the Subway Alone.
Dalam tulisannya, Skenazy menceritakan bahwa ia mengizinkan putranya yang berusia sembilan tahun bepergian menggunakan kereta bawah tanah seorang diri. Sebelum itu, sang anak telah dibekali kemampuan membaca peta perjalanan serta uang untuk keadaan darurat.
Keputusan tersebut memicu perdebatan. Sebagian orang menganggapnya sebagai bentuk kelalaian orang tua, sementara yang lain melihatnya sebagai cara melatih kemandirian anak.
Sejak saat itu, Skenazy aktif mengampanyekan pola asuh yang tidak terlalu protektif dan mendorong anak belajar bertanggung jawab melalui pengalaman langsung.
Apa Itu Free-Range Parenting?
Free-range parenting merupakan pola pengasuhan yang memberi anak kesempatan untuk melakukan berbagai aktivitas secara lebih mandiri tanpa selalu berada dalam pengawasan langsung orang tua.
Meski demikian, pendekatan ini bukan berarti membiarkan anak tanpa perhatian atau menerapkan pola asuh yang permisif. Orang tua tetap menetapkan batasan yang berkaitan dengan keselamatan, tetapi memberi ruang bagi anak untuk menghadapi konsekuensi alami dari setiap keputusan yang diambil.
Tujuan utamanya adalah membantu anak mengembangkan rasa percaya diri, kemampuan memecahkan masalah, serta tanggung jawab sebagai bekal saat dewasa nanti.
Ciri-ciri Free-Range Parenting
1. Memberi Waktu Bermain yang Lebih Bebas
Anak tidak selalu dijadwalkan mengikuti berbagai les atau kegiatan terstruktur setelah pulang sekolah.
Sebaliknya, mereka diberi kesempatan menikmati waktu luang melalui permainan yang dipilih sendiri sesuai minat. Aktivitas semacam ini dinilai dapat merangsang kreativitas, imajinasi, dan kemampuan mengambil keputusan.
Meski demikian, orang tua tetap perlu mengatur durasi aktivitas agar keseimbangan antara bermain, belajar, dan beristirahat tetap terjaga.
2. Lebih Banyak Beraktivitas di Luar Ruangan
Konsep ini mendorong anak lebih sering bermain di alam terbuka dibandingkan menghabiskan waktu dengan gawai.
Bermain di taman, kebun, atau ruang terbuka lainnya memberi kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi lingkungan, berinteraksi dengan alam, sekaligus meningkatkan aktivitas fisik.
3. Melatih Kemandirian Secara Bertahap
Dalam free-range parenting, anak diberikan tanggung jawab sesuai usia dan kemampuan mereka.
Mulai dari menyelesaikan tugas sederhana, mencoba hal baru, hingga mengambil keputusan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Kebebasan tersebut diberikan secara bertahap agar anak belajar mandiri tanpa merasa terbebani.
4. Tidak Mengasuh Berdasarkan Rasa Takut
Pendekatan ini mengajak orang tua untuk tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan kekhawatiran berlebihan.
Keselamatan tetap menjadi prioritas, misalnya memastikan anak memakai helm saat bersepeda atau memahami aturan keselamatan sebelum beraktivitas. Namun, orang tua juga menyadari bahwa risiko kecil merupakan bagian dari proses belajar dan tumbuh kembang anak.
Tetap Memerlukan Penyesuaian
Penerapan free-range parenting tidak memiliki aturan baku mengenai usia atau batasan tertentu. Tingkat kemandirian yang dapat diberikan kepada anak bergantung pada usia, kemampuan, karakter, serta lingkungan tempat tinggal.
Karena itu, setiap keluarga dapat menyesuaikan pendekatan ini dengan kondisi masing-masing. Yang terpenting, kebebasan yang diberikan tetap diimbangi dengan pendampingan, komunikasi, dan perhatian terhadap keselamatan anak.
Melalui keseimbangan tersebut, free-range parenting diharapkan dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri, percaya diri, serta mampu menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel






































