Lewat Sinergi Swadaya, Kasus Stunting di Babakan Pasar Bogor Menyusut

Stunting
Lurah Babakan Pasar, Kartini Wulandari. FOTO : TIMETODAY.ID/B. SUPRIYADI.

TIMETODAY.ID, BOGOR – Pemerintah Kota Bogor mengoptimalkan kolaborasi non-anggaran daerah (APBD) bersama lembaga swadaya dan komunitas untuk mengintervensi penanganan tengkes (stunting) serta persoalan sosial-ekonomi warga. Melalui kerja sama terintegrasi, Kelurahan Babakan Pasar kini berhasil menekan angka tengkes secara berkelanjutan hingga tersisa sembilan kasus balita.

‎Lurah Babakan Pasar, Kartini Wulandari menegaskan, intervensi di wilayahnya berfokus langsung pada substansi perbaikan pola asuh dan pemenuhan gizi bulanan, bukan sekadar kegiatan formalitas. Langkah ini menjadi bagian dari target jangka panjang penyiapan generasi tahun 2045.

‎”Kami bergerak mandiri bersama Yayasan HBLM, Warga Upadaya, komunitas, serta donatur pribadi di Kelurahan Babakan Pasar. Ini adalah kerja rutin bulanan untuk memastikan pemenuhan nutrisi anak-anak terus berjalan,” kata Kartini, Selasa (30/6/2026).

Advertisement

‎Berdasarkan hasil Bulan Penimbangan Balita (BPB) per Februari 2026, angka tengkes di wilayah tersebut menyusut menjadi 9 kasus dari periode sebelumnya yang mencatat 13 kasus. Angka ini turun drastis jika dibandingkan dengan basis data awal kemitraan kelurahan bersama Yayasan Harapan Bangsa Lentera Mandiri (HBLM) yang sempat mencapai 49 balita.

‎Selain menangani kasus aktif, pihak kelurahan saat ini memprioritaskan pendampingan intensif terhadap 30 balita yang masuk kategori Keluarga Rawan Stunting (KRS) agar kondisinya tidak memburuk.

‎Kartini, yang baru menjabat sebagai Lurah Babakan Pasar sejak Februari lalu mengakui keterbatasan anggaran daerah menuntut kelurahan aktif menggandeng pemangku kepentingan eksternal. Sinergi ini tidak hanya berhenti pada pemenuhan gizi balita, melainkan juga diarahkan untuk membenahi infrastruktur permukiman dan pemulihan motivasi pendidikan warga.

Baca Juga :  Prabowo Bertemu PM Starmer dan Raja Charles III, Bawa Hasil Nyata untuk Indonesia

‎Di sektor infrastruktur pemukiman,yang berdampak tidak langsung pada kesehatan balita Kelurahan Babakan Pasar bermitra dengan Yayasan Buddha Tzu Chi untuk merehabilitasi 204 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Saat ini, pengerjaan tahap pertama sebanyak 33 unit rumah telah rampung, dan pengerjaan tahap kedua sebanyak 51 unit rumah sedang berjalan di lapangan.

‎Kendati penataan fisik lingkungan dan gizi menunjukkan progres positif, penuntasan masalah di sektor pendidikan masih menyisakan pekerjaan rumah yang berat. Berdasarkan rekapitulasi terakhir, terdapat 36 anak putus sekolah di wilayah Babakan Pasar, di mana beberapa di antaranya bekerja menjadi pengamen jalanan.

‎Meskipun pemerintah telah memfasilitasi sekolah paket gratis melalui program “Sikemas” pada Hari Jadi Bogor Juni lalu, baru tiga anak yang bersedia kembali belajar. Kartini menyebut kendala terbesar di lapangan bukan pada regulasi, melainkan patahnya motivasi anak-anak karena sudah terlanjur bekerja.

‎”Kami sudah merayu mereka satu-persatu. Hambatannya adalah hilangnya semangat belajar karena mereka sudah terbiasa mencari uang sendiri. Mereka seperti sudah tidak berani bermimpi. Ini yang butuh penguatan psikologis dan pendekatan personal agar mereka mau kembali ke sekolah,” tutur Kartini.

Baca Juga :  Kapolri Lantik Sejumlah Pejabat Baru, Termasuk Empat Kapolda dan Kadivkum Polri

‎Menanggapi kondisi di lapangan, Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqien mengapresiasi konsistensi keterlibatan pihak swasta dan yayasan yang telah mengulurkan bantuan secara swadaya di wilayah Babakan Pasar sejak 2017. Pemerintah daerah memastikan intervensi mandiri ini akan didukung penuh oleh sistem pemantauan yang akurat.

‎Guna memastikan efektivitas intervensi dan akuntabilitas para donatur, Pemkot Bogor mengintegrasikan pemantauan gizi tersebut melalui sistem digital terpusat.

‎Melalui aplikasi Bebas Stunting atau “Besti” yang diluncurkan sejak Januari 2026, para donatur kini diberikan akses akun khusus untuk memantau langsung perkembangan antropometri anak asuh mereka secara real-time setiap bulan melalui ponsel masing-masing.

‎”Melalui aplikasi ini, para donatur bisa memantau langsung setiap bulan peningkatan anak-anak yang dibantu, seperti berat badan, penambahan nutrisi, lingkar kepala, hingga tinggi badan,” jelas Jenal.

‎Secara makro, Jenal memaparkan bahwa tren penanganan tengkes di Kota Bogor menunjukkan grafik penurunan yang positif. Berdasarkan data bulan penimbangan Desember 2025, angka tengkes di Kota Bogor sempat berada di jumlah 1.491 kasus.

‎Namun, melalui laporan kumulatif berkala dari seluruh lurah dan camat hingga awal tahun ini, sebanyak 512 anak di Kota Bogor dilaporkan telah lulus atau dinyatakan sembuh dari kategori tengkes.

Editor : B. Supriyadi

Wartawan : B. Supriyadi

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel