TIMETODAY.ID, JAKARTA — Luka akibat kekerasan tidak selalu terlihat oleh mata. Setelah memar mulai menghilang dan perawatan medis selesai, banyak penyintas masih harus berjuang menghadapi trauma yang membekas dalam kondisi psikologis mereka.
Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan yang dialami seorang perempuan di Bandung selama tiga tahun kembali mengingatkan bahwa dampak kekerasan tidak berhenti pada cedera fisik. Proses memulihkan kesehatan mental justru sering menjadi perjalanan yang lebih panjang dan penuh tantangan.
Trauma dapat muncul dalam berbagai bentuk. Sebagian korban mengalami kecemasan berlebihan, sulit tidur, mimpi buruk, hingga terus terbayang pengalaman pahit yang pernah dialami (flashback). Tidak sedikit pula yang kehilangan rasa aman, sulit mempercayai orang lain, bahkan mengalami depresi atau gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Karena itu, penyintas membutuhkan dukungan yang tepat agar dapat kembali menjalani kehidupan secara perlahan. Berikut beberapa langkah yang dapat membantu proses pemulihan mental setelah mengalami kekerasan.
1. Mengakui bahwa trauma merupakan reaksi yang normal
Perasaan sedih, takut, marah, atau cemas setelah mengalami kekerasan merupakan respons yang wajar. Penyintas tidak perlu memaksa diri untuk segera bangkit atau berpura-pura baik-baik saja. Setiap orang memiliki proses penyembuhan yang berbeda sehingga tidak ada batas waktu pasti untuk pulih.
2. Mendapatkan pendampingan profesional
Bantuan dari psikolog atau psikiater sangat dianjurkan, terutama apabila trauma mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Melalui terapi, penyintas dapat belajar memahami emosinya, mengurangi kecemasan, sekaligus membangun kembali rasa aman dan kepercayaan diri.
3. Memiliki lingkungan yang memberikan dukungan
Keluarga, sahabat, maupun komunitas memiliki peran penting dalam proses penyembuhan. Kehadiran orang-orang yang bersedia mendengarkan tanpa menyalahkan atau menghakimi dapat membantu penyintas merasa diterima dan tidak menghadapi semuanya seorang diri.
4. Menjaga kesehatan tubuh
Kondisi fisik dan mental saling memengaruhi. Tidur yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi, serta rutin berolahraga dapat membantu tubuh mengurangi tingkat stres sekaligus memperbaiki suasana hati selama masa pemulihan.
5. Menyalurkan emosi melalui cara yang sehat
Perasaan yang dipendam terlalu lama dapat memperlambat proses penyembuhan. Menulis jurnal, bermeditasi, beribadah, melukis, mendengarkan musik, atau menjalankan hobi bisa menjadi media untuk mengekspresikan emosi secara positif.
Sebaliknya, penggunaan alkohol maupun narkoba sebagai pelarian justru berisiko memperburuk kondisi psikologis.
6. Memberi waktu bagi diri sendiri untuk pulih
Pemulihan trauma bukan proses yang selalu berjalan mulus. Ada kalanya penyintas merasa sudah membaik, tetapi kembali teringat pengalaman yang menyakitkan. Kondisi tersebut merupakan bagian dari proses penyembuhan dan bukan berarti mengalami kemunduran.
Dengan dukungan dari tenaga profesional, lingkungan yang aman, serta orang-orang terdekat, penyintas memiliki peluang besar untuk memulihkan kesehatan mentalnya. Meski membutuhkan waktu dan kesabaran, proses tersebut dapat membantu mereka membangun kembali rasa aman, kepercayaan diri, dan harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.***
Editor : Syafira
Sumber : Okezone.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































