Lighthouse Parenting Dinilai Bantu Anak Tumbuh Percaya Diri dan Mandiri

ilustrasi Lighthouse Parenting. Foto: magnific

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pola asuh anak terus berkembang seiring meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental dan pembentukan karakter sejak dini. Salah satu pendekatan yang kini banyak diperbincangkan adalah lighthouse parenting atau pola asuh mercusuar, yang dinilai mampu menciptakan keseimbangan antara memberikan perlindungan dan melatih kemandirian anak.

Konsep ini diperkenalkan oleh dokter anak sekaligus pakar perkembangan remaja, Kenneth Ginsburg. Berbeda dengan pola asuh yang terlalu mengontrol, lighthouse parenting menempatkan orang tua sebagai pembimbing yang siap memberikan arahan tanpa mengambil alih setiap keputusan anak.

Apa itu lighthouse parenting?

Dalam konsep ini, orang tua diibaratkan seperti mercusuar yang memberikan petunjuk arah bagi kapal di tengah lautan. Mereka hadir untuk membimbing, memberi rasa aman, serta membantu anak memahami risiko, tetapi tetap memberikan ruang agar anak dapat belajar melalui pengalaman sendiri.

Advertisement

Melalui pendekatan tersebut, anak didorong untuk mengambil keputusan sesuai usia dan bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap pilihannya. Orang tua tetap memberikan dukungan saat dibutuhkan, namun tidak selalu menjadi penyelesai setiap masalah yang dihadapi anak.

Baca Juga :  61 Penari Jaipong dari 9 Kota Ikuti Kompetisi di Bogor

Manfaat bagi tumbuh kembang anak

Penerapan lighthouse parenting dipercaya memberikan berbagai manfaat dalam perkembangan anak. Selain membantu meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian, pola asuh ini juga mendorong kemampuan anak dalam memecahkan masalah.

Tak hanya itu, hubungan antara orang tua dan anak juga dinilai menjadi lebih erat karena dibangun atas dasar kepercayaan. Anak pun memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan ketahanan mental, keterampilan sosial, serta kemampuan mengelola emosi ketika menghadapi berbagai tantangan.

Pendekatan ini juga disebut dapat membantu menekan perilaku berisiko sekaligus mendukung prestasi akademik karena anak terbiasa bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.

Perbedaan dengan helicopter parenting

Meski sama-sama bertujuan melindungi anak, lighthouse parenting memiliki pendekatan yang berbeda dibanding helicopter parenting.

Pada helicopter parenting, orang tua cenderung terlibat dalam hampir seluruh aspek kehidupan anak, mulai dari menentukan pilihan hingga menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi. Akibatnya, kesempatan anak untuk belajar mandiri menjadi lebih terbatas.

Sebaliknya, lighthouse parenting memberikan ruang bagi anak untuk mencoba, mengambil keputusan, bahkan mengalami kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Orang tua tetap mengawasi dan siap membantu ketika diperlukan, tetapi tidak mengambil alih seluruh proses.

Baca Juga :  Sannakji, Santapan Ekstrem Korea yang Unik dan Penuh Risiko

Mendorong kesehatan emosional anak

Perbedaan lainnya terlihat dari dampaknya terhadap kondisi emosional anak. Keterlibatan orang tua yang terlalu besar dalam helicopter parenting berpotensi membuat anak takut melakukan kesalahan atau merasa terbebani oleh ekspektasi.

Sementara itu, lighthouse parenting berupaya membangun rasa aman tanpa mengurangi kebebasan anak. Dengan mengetahui bahwa orang tua selalu siap memberikan dukungan, anak diharapkan lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan sekaligus mampu mengelola tekanan dengan lebih baik.

Tetap memiliki aturan yang jelas

Meski memberi keleluasaan, lighthouse parenting bukan berarti membebaskan anak tanpa batas. Orang tua tetap menetapkan aturan dan nilai yang harus dipatuhi, namun penerapannya dilakukan secara lebih fleksibel.

Fokus utamanya adalah membentuk rasa tanggung jawab, disiplin, dan kemampuan anak dalam mengambil keputusan secara mandiri. Dengan keseimbangan antara arahan dan kepercayaan, pola asuh ini dinilai dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.***

Editor : Syafira

Sumber : CNNIndonesia.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel