Anak Tak Lagi Banyak Bercerita, Orangtua Perlu Membaca Tanda-Tandanya

orangtua
ilustrasi Anak pendiam dan tidak mau cerita lagi. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Banyak orangtua merasa tenang ketika melihat anak mereka tidak banyak mengeluh, jarang membuat masalah, dan lebih sering diam. Sekilas, kondisi tersebut memang terlihat sebagai tanda bahwa semuanya baik-baik saja.

Namun menurut psikolog, diam tidak selalu berarti anak sedang bahagia atau bebas dari masalah. Dalam beberapa kasus, sikap pendiam justru bisa menjadi cara anak menyimpan perasaan, kebingungan, atau tekanan yang belum mampu mereka ungkapkan kepada orang lain.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, tantangan orangtua juga bertambah. Kini, tidak sedikit anak dan remaja yang memilih mencurahkan perasaan mereka kepada teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dibandingkan berbicara langsung dengan keluarga.

Advertisement

Lalu, apa yang perlu dilakukan orangtua?

Orangtua Harus Peka terhadap Perubahan Anak

Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga, Sani Budiantini, S.Psi., Psi., menegaskan bahwa orangtua sebenarnya memiliki posisi paling dekat dengan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun tidak selalu terlibat dalam percakapan panjang setiap hari, orangtua tetap memiliki kesempatan untuk mengamati berbagai perubahan yang terjadi pada anak melalui aktivitas rutin di rumah.

Mulai dari kebiasaan makan, semangat bersekolah, ekspresi wajah, hingga aktivitas yang biasanya disukai, semuanya dapat menjadi petunjuk penting mengenai kondisi emosional anak.

Menurut Sani, langkah pertama yang perlu dilakukan orangtua adalah mengenali karakter dasar anak. Dengan begitu, setiap perubahan perilaku akan lebih mudah terlihat.

Misalnya, anak yang biasanya sangat menyukai makanan tertentu tiba-tiba kehilangan selera makan. Atau anak yang selama ini bersemangat ke sekolah mendadak sering mencari alasan untuk tidak berangkat.

Baca Juga :  Tips Membuat Anak Tetap Aktif dan Produktif di Masa Libur Sekolah

Perubahan-perubahan kecil seperti itu tidak boleh diabaikan begitu saja.

Tidak semua anak mampu mengungkapkan masalahnya secara terbuka. Sebagian anak memilih menyimpan perasaannya sendiri dan menunjukkannya melalui perubahan perilaku, seperti menjadi lebih sensitif, mudah marah, menarik diri dari lingkungan, atau kehilangan minat pada aktivitas favoritnya.

Karena itu, kepekaan orangtua menjadi faktor penting dalam mendeteksi kondisi anak sejak dini.

Fenomena Anak Lebih Nyaman Curhat ke AI

Perkembangan teknologi digital telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk cara anak mencari teman bicara.

Saat ini, sebagian anak dan remaja mulai memanfaatkan AI untuk bertanya, mencari solusi, bahkan mencurahkan isi hati mereka. AI dianggap mudah diakses, tidak menghakimi, dan tersedia kapan saja saat dibutuhkan.

Fenomena ini semakin sering ditemui di kalangan generasi muda yang tumbuh bersama teknologi.

Meski demikian, Sani mengingatkan bahwa AI tidak dapat menggantikan kebutuhan dasar manusia untuk dipahami dan didampingi oleh sesama manusia.

AI mungkin mampu memberikan informasi atau saran tertentu, tetapi tidak dapat sepenuhnya menggantikan kehangatan hubungan emosional antara anak dan orangtua.

Karena itu, orangtua tidak perlu langsung memandang penggunaan AI sebagai ancaman. Sebaliknya, fenomena tersebut bisa dijadikan pintu masuk untuk membangun komunikasi yang lebih baik dengan anak.

Baca Juga :  500 Bikers Lampung Gelar Fun Mori dan Galang Dana untuk Ponpes hingga Rumah Ibadah

Bangun Percakapan Tanpa Menghakimi

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah ketika orangtua langsung menginterogasi anak begitu mengetahui mereka menggunakan AI untuk curhat.

Pendekatan seperti ini justru berisiko membuat anak semakin tertutup.

Sebaliknya, orangtua dapat memulai percakapan dengan pertanyaan ringan dan santai. Misalnya menanyakan apa yang mereka ketahui tentang AI, manfaat apa yang dirasakan, atau seberapa sering mereka menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dari percakapan sederhana tersebut, orangtua dapat memahami peran AI dalam kehidupan anak sekaligus membuka ruang diskusi yang lebih luas.

Jika komunikasi berjalan dengan nyaman, anak biasanya akan lebih mudah terbuka mengenai pengalaman mereka menggunakan AI, termasuk hal-hal yang selama ini mereka simpan sendiri.

Kehadiran Orangtua Tetap Tak Tergantikan

Di tengah kemajuan teknologi yang semakin canggih, peran orangtua tetap menjadi fondasi utama bagi kesehatan emosional anak.

Teknologi mungkin dapat membantu anak mencari informasi atau mengekspresikan perasaan sementara, tetapi dukungan emosional, rasa aman, dan kedekatan yang diberikan keluarga tetap tidak bisa digantikan oleh mesin.

Karena itu, alih-alih hanya fokus pada seberapa sering anak menggunakan AI, orangtua perlu lebih memperhatikan perubahan perilaku, suasana hati, dan kebutuhan emosional anak.

Sebab terkadang, anak yang terlihat baik-baik saja justru sedang menyimpan banyak hal yang tidak pernah mereka ceritakan. Kepekaan, perhatian, dan komunikasi yang hangat bisa menjadi langkah awal untuk membantu anak merasa didengar dan dipahami.***

Editor : Syafira

Sumber : Okezone.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel