TIMETODAY.ID, JAKARTA — Diet IF atau intermittent fasting menjadi salah satu pola makan yang semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Berbeda dengan diet yang membatasi jenis makanan tertentu, diet ini lebih berfokus pada pengaturan waktu makan dan waktu berpuasa dalam satu hari atau satu minggu.
Banyak orang memilih diet IF karena dianggap lebih sederhana dan fleksibel. Selain membantu menurunkan berat badan, pola makan ini juga dipercaya dapat mendukung kesehatan metabolisme jika dijalani secara tepat dan tetap diimbangi dengan asupan gizi seimbang.
Apa itu diet IF?
Intermittent fasting merupakan pola makan yang mengatur kapan seseorang boleh makan dan kapan harus berpuasa. Selama periode puasa, Anda tidak dianjurkan mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung kalori.
Meski begitu, air putih tetap boleh diminum untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi. Teh tanpa gula maupun kopi hitam tanpa pemanis juga umumnya masih diperbolehkan selama tidak menambah asupan kalori.
Tujuan utama diet IF adalah membantu tubuh mengelola penggunaan energi, mengontrol asupan kalori harian, serta mendorong pembakaran cadangan lemak sebagai sumber energi.
Jenis-jenis diet IF
Ada beberapa metode intermittent fasting yang dapat dipilih sesuai kebutuhan dan gaya hidup.
1. Metode 16:8
Metode ini merupakan yang paling populer. Anda berpuasa selama 16 jam dan memiliki waktu makan selama 8 jam.
Sebagai contoh, jika mulai makan pukul 12.00 siang, maka seluruh makanan dikonsumsi hingga pukul 20.00 malam. Setelah itu, Anda kembali berpuasa hingga keesokan harinya.
2. Metode 14:10
Metode ini lebih ramah bagi pemula karena durasi puasanya lebih singkat, yakni 14 jam dengan jendela makan selama 10 jam.
Misalnya, Anda dapat makan mulai pukul 09.00 pagi hingga pukul 19.00 malam.
3. Metode 5:2
Pada pola ini, Anda tetap makan seperti biasa selama lima hari dalam seminggu. Sementara pada dua hari lainnya, asupan kalori dibatasi sekitar 500–600 kalori per hari.
4. Eat Stop Eat
Metode ini mengharuskan seseorang berpuasa penuh selama 24 jam sebanyak satu hingga dua kali dalam seminggu. Karena cukup menantang, metode ini sebaiknya dilakukan setelah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, terutama bagi pemula.
Manfaat diet IF
Jika dilakukan secara konsisten dan dibarengi pola makan sehat, diet IF berpotensi memberikan sejumlah manfaat, antara lain:
- Membantu menurunkan dan mengontrol berat badan.
- Mengurangi lemak tubuh secara bertahap.
- Membantu mengendalikan nafsu makan.
- Mendukung kesehatan metabolisme.
- Membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil pada sebagian orang.
Perlu diingat, hasil yang diperoleh setiap orang bisa berbeda. Keberhasilan diet IF dipengaruhi oleh pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, hingga kondisi kesehatan masing-masing.
Contoh menu diet IF metode 16:8
Meski waktu makan dibatasi, kualitas makanan tetap menjadi hal yang paling penting. Pastikan setiap menu mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, serta vitamin dan mineral.
Makan siang
- Nasi merah
- Dada ayam panggang
- Tumis brokoli dan wortel
- Buah segar
Camilan sore
- Yogurt tanpa gula
- Segenggam kacang almond
Makan malam
- Ikan bakar
- Salad sayuran
- Ubi kukus atau kentang rebus
Minuman
- Air putih
- Teh tanpa gula
- Kopi hitam tanpa gula secukupnya
Selama menjalani diet IF, sebaiknya batasi makanan tinggi gula, gorengan, makanan cepat saji, makanan olahan, serta minuman manis agar asupan kalori tetap terkendali.
Tips menjalani diet IF
Agar diet IF terasa lebih nyaman dan memberikan hasil yang optimal, beberapa tips berikut dapat diterapkan:
- Mulailah secara bertahap sesuai kemampuan tubuh.
- Perbanyak minum air putih selama berpuasa.
- Pilih makanan tinggi protein dan serat agar kenyang lebih lama.
- Hindari makan berlebihan saat jendela makan dibuka.
- Tetap rutin berolahraga dengan intensitas yang sesuai.
- Tidur cukup setiap malam untuk mendukung proses metabolisme.
Siapa yang sebaiknya tidak menjalani diet IF?
Meski menawarkan banyak manfaat, diet IF tidak cocok untuk semua orang. Pola makan ini umumnya tidak disarankan bagi ibu hamil, ibu menyusui, anak-anak, remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, maupun orang dengan kondisi medis tertentu, seperti GERD, diabetes, atau gangguan kesehatan lainnya.
Karena itu, sebelum memulai intermittent fasting, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi, terutama jika Anda memiliki penyakit tertentu atau sedang mengonsumsi obat secara rutin.
Dengan penerapan yang tepat, diet IF dapat menjadi salah satu pilihan gaya hidup sehat untuk membantu menjaga berat badan sekaligus mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh.***
Editor : Syafira
Sumber : alodokter.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































