TIMETODAY.ID, JAKARTA — Perundungan atau bullying masih menjadi ancaman nyata yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun psikologis. Tidak hanya menimbulkan rasa takut, bullying juga berpotensi merusak kepercayaan diri, kesehatan mental, hingga prestasi anak di sekolah.
Karena itu, orang tua memiliki peran penting dalam membekali anak dengan kemampuan menghadapi situasi tersebut. Bukan dengan mengajarkan balas dendam atau kekerasan, melainkan membangun keberanian, ketegasan, dan kemampuan mencari bantuan saat dibutuhkan.
Berikut beberapa langkah yang bisa diajarkan orang tua agar anak lebih siap menghadapi pelaku bullying.
1. Ajarkan Anak Lebih Peka terhadap Lingkungan Sekitar
Kesadaran terhadap situasi di sekitar menjadi salah satu bentuk perlindungan diri yang penting. Anak perlu memahami bahwa tindakan perundungan bisa terjadi di berbagai tempat, baik di sekolah, lingkungan bermain, maupun ruang publik.
Orang tua dapat membiasakan anak untuk memperhatikan kondisi sekitar, tidak terlalu fokus pada gawai saat berjalan, serta mengenali situasi yang membuat mereka merasa tidak nyaman. Jika merasa ada sesuatu yang mencurigakan atau mengancam, anak perlu tahu bahwa meninggalkan lokasi tersebut adalah pilihan yang tepat.
2. Latih Anak Bersikap Tegas
Sikap tegas dapat membantu anak menunjukkan bahwa mereka bukan target yang mudah bagi pelaku perundungan. Anak perlu belajar menyampaikan ketidaksetujuan dengan jelas dan berani mengatakan “berhenti” ketika diperlakukan tidak semestinya.
Selain itu, orang tua bisa melatih anak untuk berbicara dengan suara yang cukup lantang dan tetap tenang saat menghadapi situasi sulit. Jika intimidasi terus berlanjut, anak juga perlu memahami kapan harus menjauh dan mencari bantuan.
3. Bangun Bahasa Tubuh yang Percaya Diri
Tak hanya melalui kata-kata, rasa percaya diri juga dapat terlihat dari bahasa tubuh. Anak yang berjalan tegak, melakukan kontak mata secara wajar, dan menunjukkan sikap yakin terhadap dirinya cenderung lebih sulit dijadikan sasaran bullying.
Orang tua dapat melatih kebiasaan sederhana seperti berdiri tegap, berjalan dengan mantap, serta tidak mudah menunjukkan rasa takut ketika berada di lingkungan sosial.
4. Dorong Anak Memiliki Lingkaran Pertemanan yang Positif
Pelaku bullying sering kali memilih korban yang terlihat sendirian atau terisolasi. Karena itu, memiliki teman yang suportif dapat menjadi salah satu bentuk perlindungan sosial bagi anak.
Dorong anak untuk menjalin hubungan baik dengan teman-temannya dan tidak ragu bergabung dalam aktivitas kelompok. Kehadiran teman yang mendukung dapat membantu anak merasa lebih aman dan percaya diri saat berada di sekolah atau lingkungan bermain.
5. Pertimbangkan Kegiatan Bela Diri
Mengikuti kelas bela diri bisa menjadi pilihan untuk meningkatkan rasa percaya diri sekaligus kemampuan melindungi diri. Namun tujuan utamanya bukan untuk menyerang atau membalas pelaku bullying.
Melalui latihan bela diri, anak belajar mengendalikan emosi, disiplin, serta teknik dasar untuk menghindari atau melepaskan diri dari situasi berbahaya. Kemampuan ini dapat membantu mereka merasa lebih siap menghadapi ancaman fisik tanpa harus melakukan kekerasan.
6. Biasakan Anak Berani Bercerita dan Meminta Bantuan
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah anak memilih diam saat menjadi korban bullying. Padahal, semakin lama masalah disembunyikan, risiko dampaknya bisa semakin besar.
Orang tua perlu menciptakan suasana yang membuat anak merasa aman untuk bercerita. Tanamkan pemahaman bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah berani untuk melindungi diri.
Ajarkan anak untuk segera melapor kepada guru, orang tua, atau orang dewasa yang dipercaya ketika mengalami atau menyaksikan tindakan perundungan.
Dukungan Orang Tua Jadi Kunci
Menghadapi bullying bukan hanya tanggung jawab anak, tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitar. Dengan membangun komunikasi yang terbuka, memberikan dukungan emosional, serta membekali anak dengan keterampilan menghadapi konflik, orang tua dapat membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan percaya diri.
Yang terpenting, anak perlu mengetahui bahwa mereka tidak sendirian dan selalu memiliki tempat yang aman untuk mencari bantuan ketika menghadapi perundungan.***
Editor : Syafira
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel







































