TIMETODAY.ID, JAKARTA — Orang tua kerap menjadi sosok pertama yang membentuk cara anak memandang dirinya sendiri. Karena itu, setiap ucapan yang keluar dari mulut ayah atau ibu dapat meninggalkan kesan mendalam, bahkan hingga anak beranjak dewasa.
Sayangnya, tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar mengucapkan kalimat-kalimat yang terdengar sepele, tetapi justru berpotensi melukai perasaan anak. Alih-alih memotivasi, beberapa ungkapan tersebut bisa menurunkan rasa percaya diri, memicu kecemasan, hingga memengaruhi perkembangan emosional mereka.
Berikut sejumlah kalimat yang sebaiknya dihindari saat berkomunikasi dengan anak.
1. “Kenapa kamu tidak bisa seperti kakak atau adikmu?”
Membandingkan anak dengan saudara kandung sering kali dilakukan ketika orang tua sedang kesal atau kecewa. Padahal, kebiasaan ini dapat memicu rasa iri dan persaingan yang tidak sehat di dalam keluarga.
Anak yang terus dibandingkan juga berisiko merasa dirinya kurang berharga dibanding saudara lainnya.
2. “Lihat temanmu, kok bisa lebih baik dari kamu?”
Tak hanya dengan saudara, membandingkan anak dengan teman sebaya juga dapat berdampak buruk pada kesehatan mental mereka.
Alih-alih termotivasi, anak justru bisa merasa rendah diri dan menganggap dirinya tidak cukup baik di mata orang tua.
3. “Ayah atau Ibu kira nilaimu akan lebih bagus dari ini”
Harapan orang tua terhadap prestasi anak memang wajar. Namun, menyampaikan kekecewaan tanpa disertai dukungan atau solusi dapat membuat anak merasa gagal.
Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menimbulkan rasa cemas dan ketakutan untuk mencoba kembali.
4. “Ayah dan Ibu sudah banyak berkorban untuk kamu”
Kalimat ini sering muncul ketika orang tua merasa kecewa terhadap perilaku anak. Meski pengorbanan orang tua memang nyata, mengungkitnya secara terus-menerus bisa membuat anak merasa terbebani dan bersalah.
Tidak sedikit anak yang akhirnya memilih memendam perasaan karena takut mengecewakan orang tuanya.
5. “Nanti kalau Ayah atau Ibu sudah tidak ada, kamu baru menyesal”
Ucapan ini biasanya keluar saat anak dianggap membangkang atau sulit diatur. Namun, kalimat tersebut dapat menimbulkan rasa takut dan bersalah yang berlebihan pada anak.
Alih-alih memahami kesalahannya, anak justru bisa merasa cemas dan kehilangan rasa aman.
6. “Kok sekarang kamu makin gemuk?” atau “Kok kurusan sekali?”
Komentar mengenai bentuk tubuh sering dianggap candaan oleh sebagian orang tua. Padahal, ucapan semacam ini bisa memengaruhi citra diri anak.
Jika terus berulang, anak dapat mengalami krisis kepercayaan diri bahkan memiliki pandangan negatif terhadap tubuhnya sendiri.
7. “Ini gampang, masa kamu tidak bisa?”
Bagi orang dewasa, suatu hal mungkin terlihat sederhana. Namun, tidak demikian bagi anak yang masih dalam proses belajar.
Kalimat tersebut dapat membuat anak merasa tidak mampu dan takut melakukan kesalahan. Akibatnya, mereka menjadi kurang percaya diri untuk mencoba hal baru.
8. “Sudah, jangan menangis. Menangis tidak menyelesaikan masalah”
Menangis merupakan cara alami anak mengekspresikan emosi. Ketika perasaannya diabaikan atau dianggap tidak penting, anak bisa belajar untuk memendam emosi daripada mengelolanya dengan sehat.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan mereka dalam memahami dan mengungkapkan perasaan.
9. “Kamu bikin malu Ayah dan Ibu saja”
Kalimat ini kerap muncul ketika anak melakukan kesalahan di depan orang lain. Meski diucapkan karena emosi sesaat, dampaknya bisa cukup besar.
Anak dapat merasa dipermalukan dan mulai mengaitkan setiap kesalahan dengan rasa takut akan penilaian orang lain.
10. “Semua orang jadi susah karena kamu”
Ucapan ini termasuk salah satu yang paling berisiko memengaruhi kondisi emosional anak. Jika terus-menerus mendengarnya, anak bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya adalah beban bagi keluarga.
Perasaan tersebut dapat berdampak pada rasa percaya diri, hubungan sosial, hingga kesehatan mentalnya di masa depan.
Pentingnya Memilih Kata Saat Berbicara dengan Anak
Setiap orang tua tentu pernah merasa marah, lelah, atau kecewa. Namun, penting untuk diingat bahwa anak-anak sering kali mengingat perkataan orang tuanya lebih lama daripada yang dibayangkan.
Karena itu, saat ingin menegur atau mengoreksi perilaku anak, cobalah menggunakan kalimat yang membangun dan penuh empati. Dengan komunikasi yang lebih positif, anak tidak hanya memahami kesalahannya, tetapi juga tetap merasa dicintai, dihargai, dan didukung oleh orang tuanya.
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel






































