Orang Tua Perlu Tanamkan Mindset Keuangan Sejak Dini, Ini Saran Ahli

orang tua
Mother teaching her daughter about financial saving and money management using piggy bank

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Menanamkan pemahaman keuangan sejak dini menjadi salah satu pelajaran penting yang perlu diberikan orang tua kepada anak-anak. Banyak orang tua berharap anak tumbuh dengan sikap menghargai uang hasil kerja keras keluarga, mampu mengelola pengeluaran secara bijak, tanpa menjadi pribadi yang pelit atau abai terhadap lingkungan sekitar.

Sejumlah pakar menilai, membangun mindset keuangan anak tidak semata soal mengajarkan menabung, tetapi juga menanamkan nilai, empati, dan kesadaran sosial. Berikut beberapa pendekatan yang disarankan untuk membantu anak memahami keuangan secara sehat.

Hanya karena mampu, bukan berarti harus membeli

Advertisement

Pakar keuangan asal Amerika Serikat, Sheila Schroeder, menekankan bahwa kemampuan finansial tidak selalu harus diikuti dengan pemenuhan semua keinginan anak. Menurutnya, orang tua perlu menunjukkan nilai hidup yang berpijak pada realitas.

Ia menyarankan agar orang tua tidak menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting hanya karena merasa mampu. Anak-anak, menurutnya, akan menangkap pola perilaku tersebut dan menjadikannya sebagai contoh.

Di sisi lain, Schroeder juga menilai orang tua tidak perlu sengaja hidup dalam keterbatasan demi menyampaikan pesan moral tertentu. Keseimbangan menjadi kunci, dengan tetap berpegang pada nilai yang diyakini keluarga.

Menunjukkan arti menjadi bagian dari komunitas

Baca Juga :  Jurus Ampuh Anti Badmood Agar Hidupmu Selalu On Fire dan Produktif

Memiliki uang, menurut Schroeder, tidak seharusnya membuat anak terlepas dari tanggung jawab sosial. Ia menyarankan orang tua untuk melibatkan anak dalam aktivitas yang memperkuat rasa kebersamaan, seperti bekerja paruh waktu musiman atau membantu tetangga.

Langkah sederhana tersebut dapat mengajarkan anak bahwa kehidupan sosial dibangun atas dasar saling membutuhkan dan membantu.

“Saya yakin anak-anak Anda akan lebih mengingat apa yang Anda lakukan daripada apa yang Anda katakan,” ujarnya, dikutip dari CNBC Make It, Kamis (8/1/2026).

Mengajarkan kepekaan terhadap situasi sosial

Pelajaran lain yang dinilai penting adalah membantu anak memahami konteks sosial dan menghindari sikap pamer, baik secara sengaja maupun tidak. Anak-anak, menurut para ahli, sering kali lebih peka terhadap perbedaan status ekonomi dibandingkan orang dewasa.

Orang tua disarankan memberi penguatan positif ketika anak menunjukkan empati, sekaligus mengajak mereka memahami simbol-simbol status seperti merek mahal, tren populer, atau bentuk kemurahan hati yang berlebihan namun tidak memiliki nilai mendalam.

Pendekatan ini dapat dilakukan dengan mengajak anak berpikir kritis. Misalnya, ketika anak menginginkan barang prestisius, orang tua dapat bertanya, “Jika kami membelikanmu mantel itu, bagaimana reaksi orang lain? Bagaimana perasaan mereka?”

Baca Juga :  Anak Demam dan Menggigil? Begini Langkah Sederhana untuk Membantu Mereka

Cara tersebut membantu anak memahami bahwa sikap memanjakan diri atau pamer berlebihan berpotensi melukai perasaan orang lain dan merusak hubungan sosial.

Memisahkan uang dari penilaian moral

Anak-anak kerap mempertanyakan alasan di balik perbedaan kondisi ekonomi. Saat mereka menyadari ada orang atau keluarga yang memiliki lebih banyak atau lebih sedikit uang, pertanyaan tentang “mengapa” pun muncul.

“Tugas Anda adalah memeriksa dan menguraikan asumsi apa pun yang mereka buat tentang mengapa seseorang mungkin memiliki lebih sedikit uang daripada Anda, terutama yang berkaitan dengan kemalasan atau moralitas,” jelas Schroeder, penulis buku It’s Time to Talk: A Woman’s Guide to Navigating Money Conversations.

Ia mendorong orang tua untuk mengajak anak mengeksplorasi berbagai kemungkinan, seperti faktor warisan, pilihan karier, atau nilai yang ditanamkan sejak kecil.

“Mungkin keluarga Anda mewarisi kekayaan dan orang ini tidak; mungkin orang ini memprioritaskan karier yang mereka sukai tetapi kurang menguntungkan; mungkin orang ini mendapatkan pesan tentang uang yang berbeda saat tumbuh dewasa,” terangnya.

Schroeder juga menekankan pentingnya mengingatkan anak bahwa mereka tidak selalu akan menjadi yang terkaya atau termiskin di suatu lingkungan. Menurutnya, kekayaan materi tidak boleh dijadikan ukuran karakter atau nilai seseorang.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel