TIMETODAY.ID, JAKARTA — Belakangan ini, tren face taping ramai diperbincangkan di media sosial. Metode yang dilakukan dengan menempelkan potongan tape pada area tertentu di wajah itu diklaim mampu mengurangi garis halus, mencegah kerutan, hingga membuat wajah terlihat lebih kencang saat bangun tidur.
Karena praktis dan relatif murah, banyak orang tertarik mencoba teknik tersebut sebagai alternatif perawatan anti-aging. Namun, para ahli kulit mengingatkan bahwa manfaat face taping tidak sebesar yang sering ditampilkan dalam video viral.
Bukan Tren Baru di Dunia Kecantikan
Meski baru populer di platform media sosial, face taping sebenarnya bukan teknik baru.
Metode ini telah lama digunakan di industri hiburan untuk menciptakan efek wajah yang lebih terangkat dan tampak kencang secara instan. Sejumlah makeup artist, aktor, hingga performer panggung kerap memanfaatkan teknik tersebut sebelum tampil di depan kamera atau menghadiri acara penting.
Face taping dilakukan dengan menempelkan tape atau patch khusus pada area yang rentan mengalami garis halus, seperti dahi, bawah mata, pipi, dan garis senyum. Tujuannya adalah membatasi pergerakan otot wajah sekaligus menarik permukaan kulit agar tampak lebih halus.
Banyak Digunakan Saat Tidur
Salah satu cara penggunaan yang paling populer adalah menempelkan tape sebelum tidur dan membiarkannya semalaman.
Pendukung metode ini percaya bahwa membatasi gerakan wajah saat tidur dapat membantu mengurangi terbentuknya garis-garis akibat ekspresi wajah maupun tekanan dari bantal.
Tak sedikit pula yang menggunakan face taping menjelang acara tertentu karena dianggap mampu memberikan efek wajah lebih segar dan kencang dalam waktu singkat.
Efeknya Hanya Sementara
Meski hasilnya terlihat menjanjikan di media sosial, para dermatolog menegaskan bahwa efek face taping bersifat sementara.
Kulit memang dapat tampak lebih halus selama tape masih terpasang atau beberapa saat setelah dilepas. Namun, metode ini tidak mengatasi penyebab utama munculnya kerutan, seperti penurunan produksi kolagen, elastisitas kulit yang berkurang, maupun perubahan struktur jaringan akibat proses penuaan.
Dengan kata lain, tape hanya menahan permukaan kulit untuk sementara tanpa memberikan perubahan jangka panjang pada kondisi kulit.
Tidak Bisa Disamakan dengan Botox
Di berbagai platform digital, face taping kerap disebut sebagai alternatif alami untuk Botox. Namun, para ahli menilai klaim tersebut kurang tepat karena keduanya bekerja dengan cara yang sangat berbeda.
Botox berfungsi mengurangi kontraksi otot yang menjadi penyebab munculnya kerutan sehingga efeknya dapat bertahan selama beberapa bulan.
Sebaliknya, face taping hanya memberikan hasil selama tape digunakan. Setelah dilepas, otot wajah akan kembali bergerak normal dan garis-garis halus dapat muncul kembali seperti sebelumnya.
Karena itu, face taping tidak dapat dianggap sebagai pengganti prosedur medis yang memang dirancang untuk mengatasi tanda-tanda penuaan.
Berpotensi Menyebabkan Iritasi Kulit
Selain manfaatnya yang terbatas, penggunaan tape secara berulang juga memiliki risiko terhadap kesehatan kulit.
Perekat yang digunakan pada tape dapat memicu kemerahan, iritasi, kulit kering, hingga reaksi alergi pada sebagian orang, terutama mereka yang memiliki kulit sensitif.
Risiko tersebut semakin tinggi karena area wajah yang sering ditempeli tape, seperti bawah mata dan pipi, memiliki lapisan kulit yang lebih tipis dibanding bagian tubuh lainnya.
Penggunaan jangka panjang juga dikhawatirkan dapat mengganggu skin barrier atau lapisan pelindung alami kulit akibat proses pemasangan dan pelepasan tape yang berulang.
Fokus pada Perawatan Kulit yang Terbukti Efektif
Meski face taping dapat menjadi solusi instan untuk membuat wajah tampak lebih halus sebelum menghadiri acara tertentu, metode ini tidak mampu menghilangkan kerutan secara permanen.
Para ahli menyarankan agar masyarakat lebih fokus pada perawatan kulit yang telah terbukti efektif, seperti penggunaan sunscreen setiap hari, menjaga kelembapan kulit, menerapkan pola hidup sehat, serta menggunakan produk perawatan yang sesuai dengan kebutuhan kulit.
Dengan pendekatan yang tepat dan konsisten, kesehatan kulit dapat terjaga lebih optimal dibanding mengandalkan tren kecantikan viral yang efeknya hanya bersifat sementara.***
Editor : Syafira
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel






































