
TIMETODAY.ID, JAKARTA — Wabah penyakit mematikan kembali mencuat di tengah pelayaran internasional. World Health Organization (WHO) melaporkan kemunculan virus langka, Hantavirus, di sebuah kapal pesiar yang melintasi Samudera Atlantik.
Insiden ini menewaskan tiga orang dan membuat sejumlah penumpang lainnya harus mendapatkan perawatan intensif.
Meski WHO tidak mengungkap identitas kapal, sejumlah laporan media menyebut wabah terjadi di MV Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Cape Verde. Kapal tersebut dilaporkan sempat berlabuh di Praia, ibu kota negara kepulauan di Afrika Barat, pada Minggu (3/5/2026).
Di tengah perjalanan panjang di lautan, suasana yang semula tenang berubah menjadi penuh kewaspadaan. Tim medis menemukan kasus infeksi yang diduga kuat berkaitan dengan virus tersebut. Salah satu pasien bahkan kini dirawat di ruang perawatan intensif (ICU) di Afrika Selatan.
WHO menyatakan investigasi masih berlangsung untuk menelusuri pola penyebaran virus di kapal.
“Penyelidikan terperinci sedang dilakukan, termasuk uji laboratorium lanjutan dan penelusuran epidemiologi,” demikian pernyataan resmi lembaga tersebut.
Otoritas kesehatan juga bekerja sama dengan pemerintah Afrika Selatan untuk mengevakuasi penumpang lain yang menunjukkan gejala. Sementara itu, perawatan medis darurat terus diberikan kepada kru dan penumpang yang masih berada di kapal.
Hantavirus sendiri dikenal sebagai infeksi serius yang umumnya berasal dari paparan kotoran atau urine hewan pengerat yang terinfeksi. Dalam kasus tertentu, virus ini dapat memicu gangguan pernapasan berat dan berujung fatal.
Seorang pejabat kesehatan Afrika Selatan mengungkapkan, korban pertama adalah pria lanjut usia yang meninggal di atas kapal. Istrinya kemudian menyusul meninggal dunia saat menjalani perawatan di rumah sakit.
Hingga kini, belum ada terapi spesifik untuk menyembuhkan infeksi hantavirus. Namun, penanganan medis yang cepat dan tepat disebut dapat meningkatkan peluang keselamatan pasien.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit menular tidak mengenal batas wilayah—bahkan di tengah perjalanan wisata yang jauh dari daratan.***
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































