Perang Mahal di Timur Tengah, Biaya AS Lawan Iran Bisa Sentuh Rp860 Triliun

Iran
Ilustrasi Iran dan AS. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran tak hanya memanas di lapangan, tetapi juga membebani anggaran militer secara signifikan. Biaya operasi yang semula diperkirakan relatif terbatas kini diproyeksikan melonjak hingga hampir dua kali lipat.

Sejumlah pejabat di Pentagon mengungkapkan bahwa anggaran awal sebesar 25 miliar dolar AS (sekitar Rp433 triliun) dinilai terlalu rendah. Perhitungan terbaru menunjukkan total biaya bisa mencapai 40 hingga 50 miliar dolar AS atau setara Rp693 triliun hingga Rp866 triliun.

Kenaikan ini tidak lepas dari besarnya dampak serangan balasan Iran yang merusak berbagai fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah. Sejumlah pangkalan dilaporkan mengalami kerusakan serius, mulai dari Bahrain, Kuwait, Irak, hingga Uni Emirat Arab dan Qatar.

Advertisement
Baca Juga :  Pemerintah AS Rencanakan Tutup USAID, 130 Negara Termasuk Indonesia Bisa Terdampak

Pengawas keuangan Pentagon, Jules Hurst III, sebelumnya menyebut sebagian besar anggaran awal dialokasikan untuk kebutuhan amunisi. Namun, biaya tersebut belum mencakup pemulihan infrastruktur militer serta penggantian alat utama yang hancur.

“Perkiraan awal belum memasukkan biaya perbaikan kerusakan signifikan pada pangkalan-pangkalan AS di kawasan,” demikian disampaikan dalam laporan yang dikutip dari pejabat terkait.

Di lapangan, kerugian material juga tidak sedikit. Sistem radar canggih, termasuk baterai pertahanan udara THAAD di Yordania, dilaporkan rusak. Selain itu, pesawat pengintai E-3 Sentry milik Angkatan Udara AS disebut turut hancur di pangkalan di Arab Saudi.

Baca Juga :  Di Balik Diamnya Gedung Putih: Krisis Transparansi Korban Militer AS dalam Operasi Yaman

Sementara itu, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, belum memberikan rincian apakah proyeksi anggaran tersebut telah mencakup seluruh kebutuhan pemulihan fasilitas.

Situasi ini mencerminkan kompleksitas konflik yang tak hanya berdampak pada aspek militer, tetapi juga tekanan fiskal yang besar bagi Washington. Di tengah dinamika geopolitik yang belum mereda, biaya perang diperkirakan masih berpotensi terus bertambah seiring berlanjutnya ketegangan di kawasan.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel