Menggali Potensi Wisata Air dan Kemandirian Lingkungan di Katulampa

Katulampa
Lurah Katulampa, Deni Ramdhani. Foto : timetoday.id/B. Supriyadi.

TIMETODAY.ID, BOGOR – Pemerintah Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Jawa Barat kini tengah memfokuskan pengembangan wilayah pada dua sektor unggulan, yakni pariwisata air dan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Langkah ini diambil sebagai strategi untuk menggerakkan ekonomi lokal di tengah tantangan kepadatan penduduk yang terus meningkat di wilayah gerbang timur Kota Bogor tersebut.

Lurah Katulampa, Deni Ramdhani, menyampaikan bahwa keberadaan aliran sungai yang bersumber dari Bendungan Katulampa menjadi aset berharga yang kini dioptimalkan melalui “Wahana Ngalun”. Destinasi wisata air ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekonomi kreatif bagi warga sekitar dengan memanfaatkan karakteristik geografis wilayah yang dilewati aliran sungai besar.

“Kami memiliki potensi alam yang luar biasa berupa aliran sungai dari Bendungan Katulampa. Wahana Ngalun ini adalah bentuk pemanfaatan ruang publik untuk wisata yang selaras dengan karakteristik wilayah kami,” ujar Deni dalam kegiatan media ghathering Bersama wartawan, Rabu (15/4/2026).

Advertisement

Selain sektor pariwisata, Katulampa juga menonjolkan kemandirian pengelolaan lingkungan melalui Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Takesi. Fasilitas ini mengedepankan konsep reduce, reuse, dan recycle yang dikelola langsung oleh masyarakat setempat. Deni menjelaskan bahwa TPS 3R Takesi adalah salah satu fasilitas pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berada langsung di Kelurahan Katulampa untuk menekan volume sampah dari sumbernya.

Baca Juga :  Harga Tiket Terbaru Wahana Ngalun Katulampa Bogor

Namun, akselerasi potensi wilayah ini masih menghadapi tantangan demografi dan infrastruktur yang signifikan. Berdasarkan data profil wilayah, Kelurahan Katulampa saat ini dihuni oleh 33.882 jiwa yang tersebar di lahan seluas 4,625 kilometer persegi.

Dengan cakupan wilayah yang luas, Katulampa berbatasan langsung dengan Kelurahan Cimahpar dan Tanah Baru di sebelah utara, Kelurahan Tajur di selatan, Kelurahan Baranangsiang di barat, serta Desa Cibanon atau Sukaraja di sebelah timur.

Untuk mendukung mobilitas warga dan akses menuju titik potensi wisata, pemerintah kelurahan mendorong percepatan infrastruktur jalan. Fokus utama saat ini meliputi penyelesaian pembangunan jalan R3, pelebaran Jalan Raya Parung Banteng, serta pembukaan jalan tembus menuju Cikeas-Bogor Raya. Deni mengakui bahwa pihaknya masih menghadapi kendala teknis di lapangan, seperti kurangnya kanstin median pada jalan R3.

Baca Juga :  Presiden Prabowo Jalani Kunjungan Kerja ke Yordania, Bahas Kemitraan Strategis

Tingginya beban administrasi yang mencakup 21 RW dan 126 RT juga memicu rencana pemekaran wilayah menjadi tiga kelurahan baru.

“Padatnya penduduk di Kelurahan Katulampa mengharuskan dibuat pemekaran wilayah menjadi tiga kelurahan agar pelayanan publik lebih optimal,” tegas Deni.

Di sisi lain, Deni juga menyoroti kebutuhan mendesak akan sarana pendidikan. Dengan populasi yang sangat padat, Katulampa saat ini tercatat memiliki lima SD negeri dan tiga SD swasta, namun hanya tersedia satu SMP negeri.

Menurut Deni, kurangnya sarana pendidikan tingkat menengah di wilayahnya menjadi salah satu permasalahan sengketa lahan warga dan kebutuhan fasilitas sosial yang harus segera dicarikan solusinya demi menunjang kualitas sumber daya manusia di masa depan.

Editor : B. Supriyadi

Wartawan : B. Supriyadi

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel