TIMETODAY.ID, JAKARTA — Ancaman Tuberkulosis (TB) masih membayangi Indonesia. Di balik berbagai upaya penanganan yang terus dilakukan, negara ini kini tercatat sebagai penyumbang kasus TB terbesar kedua di dunia, setelah India.
Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan, beban penyakit ini masih terkonsentrasi di sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini menandakan bahwa penanganan TB secara global belum merata dan masih menghadapi banyak tantangan.
Perwakilan WHO Indonesia, Setiawan Jati Laksono, mengungkapkan bahwa sebagian besar kasus TB dunia hanya berasal dari segelintir negara.
“Delapan negara menyumbang sekitar 67% kasus TB dunia. Nomor satu India, nomor dua Indonesia, nomor tiga Filipina,” ujarnya dalam konferensi pers.
Lebih jauh, ia menekankan besarnya kontribusi Indonesia terhadap angka global.
“Indonesia menyumbang sekitar satu dari 10 kasus TB di dunia,” imbuhnya.
Namun, persoalan terbesar bukan hanya pada jumlah kasus, melainkan pada banyaknya penderita yang belum terdeteksi. Dari sekitar 10,7 juta kasus TB setiap tahun di dunia, masih ada jutaan kasus yang luput dari diagnosis.
“Dari sekitar 10,7 juta kasus TB di dunia setiap tahun, masih ada sekitar 2,4 juta yang belum ditemukan. Nah, ini yang menjadi permasalahan,” jelasnya.
Kondisi ini membuat penularan berlangsung tanpa terdeteksi di tengah masyarakat, memperumit upaya pemutusan rantai penyebaran.
Tren Kematian Mulai Turun, Tapi Tantangan Belum Usai
Meski masih menjadi salah satu penyakit infeksi paling mematikan, tren kematian akibat TB di Indonesia mulai menunjukkan penurunan. Sejak 2021, angka kematian tercatat menurun sekitar 18 persen.
“Di Indonesia sudah menunjukkan penurunan sejak tahun 2021, dan saat ini turun sekitar 18%,” kata Setiawan.
Namun, capaian tersebut dinilai belum cukup untuk memenuhi target global eliminasi TB. Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan penurunan insiden hingga setengahnya pada 2029.
“Indonesia ingin menurunkan insiden TB hingga separuhnya pada tahun 2029,” ujarnya.
Di lapangan, berbagai hambatan masih menghadang. Mulai dari keterbatasan pendanaan, meningkatnya kasus TB resistan obat, hingga rendahnya angka deteksi dini.
“Masih banyak kasus yang belum terdiagnosis, kemudian meningkatnya risiko TB resistan obat, serta kesenjangan pembiayaan di negara dengan beban TB tinggi,” paparnya.
Selain itu, faktor risiko seperti malnutrisi, diabetes, dan kebiasaan merokok turut memperparah situasi dan mempercepat munculnya kasus baru.
Harapan dari Teknologi dan Kolaborasi
Di tengah tantangan tersebut, perkembangan teknologi mulai membuka harapan baru. Metode diagnosis kini semakin cepat dan akurat, sementara durasi pengobatan juga semakin singkat.
“Sekarang sudah ada diagnosis TB yang lebih cepat dengan teknologi molekuler, kemudian pengobatan juga semakin pendek, dari enam bulan menjadi sekitar empat bulan,” jelasnya.
Meski demikian, keberhasilan penanganan TB tidak hanya bergantung pada teknologi. Dukungan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor tetap menjadi kunci utama.
“Ini saat yang tepat untuk mempercepat penanggulangan TB, dengan komitmen nasional yang kuat dan dukungan masyarakat,” tutup Setiawan.
Di tengah angka yang masih tinggi, peringatan ini menjadi pengingat bahwa perang melawan TB belum berakhir—dan Indonesia memegang peran penting dalam menentukan arah penanganannya di tingkat global.***
Editor : Syafira
Sumber : CNBCIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































