Konflik Timur Tengah Memanas, AS Terpaksa Keluarkan Cadangan Minyak Strategis

AS
AS berencana melepas ratusan juta barel minyak dari stok cadangan mulai pekan depan. Foto: AP

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pemerintah Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk mulai melepas sebagian cadangan minyak strategisnya mulai pekan depan. Langkah ini diambil setelah konflik yang memanas di Timur Tengah selama hampir dua pekan menekan pasokan energi global dan mendorong lonjakan harga bahan bakar.

Melalui Departemen Energi Amerika Serikat, pemerintah mengumumkan rencana pelepasan sekitar 172 juta barel minyak dari cadangan strategis nasional. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menstabilkan pasar energi yang terdampak konflik sejak akhir Februari lalu.

Kenaikan harga energi mulai dirasakan masyarakat. Harga bahan bakar di beberapa wilayah Amerika Serikat dilaporkan melonjak hingga sekitar 7 dolar AS per galon, memicu kekhawatiran sekaligus keluhan dari warga.

Advertisement
Baca Juga :  Kenapa Indonesia Kerap Diguncang Gempa Bumi? Simak Penjelasan BMKG

Distribusi minyak dari cadangan strategis itu tidak dilakukan sekaligus. Pemerintah memperkirakan proses penyaluran akan berlangsung bertahap selama sekitar 120 hari agar dapat menyesuaikan kebutuhan pasar dan menjaga stabilitas pasokan.

Situasi energi global semakin tegang setelah muncul ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan minyak dunia. Iran dituduh berupaya mengganggu keamanan energi dengan membatasi akses kapal tanker di kawasan tersebut.

Baca Juga :  Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Global Trump, Putusan Didukung 6 Hakim

Pernyataan keras juga datang dari pejabat Iran. Penasihat Korps Garda Revolusi Islam Iran, Ibrahim Jabari, menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang memperkeruh situasi demi kepentingan energi.

Ia bahkan memperingatkan bahwa penutupan Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak global hingga mencapai 200 dolar AS per barel. Jika hal itu terjadi, dampaknya diperkirakan tidak hanya mengguncang pasar energi, tetapi juga berpotensi menekan perekonomian global, termasuk Amerika Serikat sendiri.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel