
TIMETODAY.ID — Rabu malam di Amerika Serikat, dunia politik dan bisnis kembali dihebohkan oleh satu kabar besar: Elon Musk resmi mundur dari pemerintahan Presiden Donald Trump. CEO Tesla itu mengakhiri masa tugasnya sebagai penasihat senior Gedung Putih sekaligus pemimpin Departemen Efisiensi Pemerintah Federal Amerika Serikat (DOGE).
Kabar ini pertama kali dikonfirmasi oleh pejabat Gedung Putih dan segera disusul dengan pengumuman pribadi Musk melalui akun X miliknya, @elonmusk. Dengan nada resmi namun tetap khas, ia menyampaikan salam perpisahan.
“Karena masa tugas saya sebagai Pegawai Pemerintah Khusus akan segera berakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Presiden @realDonaldTrump atas kesempatan untuk mengurangi pemborosan pengeluaran,” tulis Musk.
“Misi @DOGE hanya akan semakin kuat seiring berjalannya waktu karena menjadi bagian dari gaya hidup pemerintahan,” tambahnya.
Efisiensi Bergaya Musk: 260 Ribu Pegawai Ditekan Mundur
DOGE—yang sejak awal sudah memicu rasa penasaran publik karena namanya yang identik dengan meme kripto—merupakan proyek ambisius Trump untuk memangkas pemborosan belanja pemerintah. Dan Elon Musk menjalankan mandatnya dengan cara yang ekstrem.
Selama menjabat, Musk sukses memangkas hampir 12 persen dari 2,3 juta pegawai sipil federal, atau sekitar 260 ribu orang. Langkah itu dilakukan melalui kombinasi ancaman pemutusan kerja, program pembelian kembali (buyout), dan tawaran pensiun dini.
Hasilnya menuai pro dan kontra. Di satu sisi, Trump memuji Musk sebagai pionir efisiensi. Di sisi lain, sejumlah kelompok pegawai negeri sipil dan serikat pekerja mengecam metode “kasar” Musk yang dianggap terlalu dingin dan mekanis.
Namun seperti biasa, Musk berjalan dengan keyakinannya sendiri.
Fokus Kembali ke Tesla di Tengah Ancaman dan Penurunan
Langkah mundur ini sebenarnya sudah disinyalir sejak beberapa pekan terakhir. Musk, yang dikenal multitasking dalam skala ekstrem, menyatakan ingin kembali fokus penuh pada Tesla, perusahaan mobil listrik andalannya yang sedang mengalami guncangan serius.
Penjualan global Tesla menurun tajam sebesar 13 persen pada kuartal pertama 2025. Kekhawatiran investor pun muncul, bahkan beredar rumor bahwa Musk akan disingkirkan dari jabatannya. Tapi Musk membantah dengan gaya lugas.
“Ya, kecuali saya meninggal,” ujarnya mengutip dari CNN apakah ia akan tetap memimpin Tesla lima tahun ke depan.
Pernyataan itu menyiratkan dua hal: Musk belum akan ke mana-mana, dan ia masih percaya penuh pada misinya di Tesla — meski sebagian waktunya sempat tersita oleh Gedung Putih.
Setelah Musk, Bagaimana Nasib DOGE?
Dengan hengkangnya Musk, pertanyaan besar pun muncul: Apa yang akan terjadi dengan DOGE? Pihak Gedung Putih memastikan bahwa program efisiensi ini akan tetap berjalan. Namun, tanpa figur besar seperti Musk, tak sedikit yang meragukan apakah DOGE bisa mempertahankan daya kejut dan performa seperti sebelumnya.
Sementara itu, Musk telah kembali ke markas Tesla. Dunia mungkin akan melihat lagi ide-ide gilanya soal mobil terbang, Neuralink, atau bahkan koloni Mars. Tapi satu hal pasti—perjalanannya di pemerintahan, meski singkat, telah meninggalkan jejak yang tak mudah dilupakan.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel







































