Skip Sarapan Vs Skip Makan Malam, Mana Lebih Efektif Turunkan Berat Badan?

Berat Badan
Kunci diet yang efektif bukan hanya soal waktu makan, tapi juga menyesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan gaya hidup. (Foto: Thinkstock)

TIMETODAY.ID, JAKARTA – Intermittent fasting (IF) semakin populer sebagai metode diet untuk menurunkan berat badan. Pola makan ini dilakukan dengan membatasi waktu makan, termasuk melewatkan salah satu waktu makan utama.

Dua pilihan yang paling sering diperdebatkan adalah skip sarapan atau skip makan malam. Lalu, di antara keduanya, mana yang sebenarnya lebih efektif untuk menurunkan berat badan?

Intermittent Fasting Terbukti Bantu Turunkan Berat Badan

Menurut Dr. Pham Anh Ngan dari University Medical Center Ho Chi Minh City, intermittent fasting terutama pola time-restricted eating terbukti dapat membantu penurunan berat badan jika dilakukan dengan tepat.

Advertisement

Ia menjelaskan bahwa efektivitas IF sangat dipengaruhi oleh kebiasaan makan dan gaya hidup seseorang, termasuk aktivitas harian dan budaya makan.

Kebiasaan Makan Dipengaruhi Faktor Budaya

Dr. Pham menyebut, pada sebagian orang sarapan merupakan makan utama, sementara pada kelompok lain justru makan malam menjadi waktu makan terbesar, dengan porsi protein dan sayuran yang lebih banyak.

Perbedaan kebiasaan inilah yang membuat hasil IF bisa berbeda pada setiap individu.

Baca Juga :  Viral Tren ASI Beku untuk Skincare, Benarkah Efektif seperti Botox?

Skip Makan Malam Dinilai Lebih Efektif Kurangi Kalori

Sejumlah studi menunjukkan bahwa melewatkan makan malam cenderung lebih efektif menurunkan total asupan kalori harian, sehingga dianggap mendukung penurunan berat badan.

“Baik skip sarapan maupun skip makan malam sama-sama memiliki manfaat metabolik sekaligus risikonya masing-masing,” ujar Dr. Pham, dikutip dari VN Express.

Risiko Jika Terlalu Sering Skip Makan Malam

Meski dinilai efektif, melewatkan makan malam juga memiliki konsekuensi. Kebiasaan ini dapat:

  • Memperlambat metabolisme
  • Meningkatkan risiko kekurangan nutrisi
  • Mengganggu kualitas tidur
  • Memicu rasa lapar berlebihan
  • Melemahkan sistem imun

Karena itu, metode ini tidak disarankan dilakukan secara ekstrem.

Skip Sarapan Bisa Tingkatkan Fokus, tapi Ada Dampaknya

Di sisi lain, skip sarapan membuat sebagian orang merasa lebih ringan dan fokus di pagi hari. Beberapa penelitian juga menyebut kebiasaan ini dapat memperbaiki sensitivitas insulin.

Namun, rasa lapar yang menumpuk sering berujung pada konsumsi gula dan lemak berlebih di waktu makan selanjutnya. Selain itu, respons glukosa dan insulin pada makan terakhir hari tersebut justru bisa memburuk.

Baca Juga :  Puluhan Ibu Hamil di Bogor Diedukasi Atasi Stunting

Tidak Ada Metode yang Paling Benar untuk Semua Orang

Secara keseluruhan, melewatkan waktu makan termasuk melalui intermittent fasting memiliki sisi positif dan negatif bagi kesehatan. Selain itu, beberapa makanan bergizi cenderung dikonsumsi di waktu tertentu, seperti susu dan biji-bijian saat sarapan, serta protein dan sayuran saat makan malam.

“Keputusan untuk skip sarapan atau makan malam sebaiknya fleksibel dan disesuaikan dengan respons tubuh masing-masing,” jelas Dr. Pham.

Saran Aman Menjalani Diet Intermittent Fasting

Bagi pekerja kantoran yang aktif di siang hari, sarapan tetap berperan penting untuk menjaga energi dan konsentrasi. Untuk hasil yang lebih aman dan efektif, Dr. Ngan menyarankan:

  • Memperbanyak sayuran dan protein rendah lemak
  • Mengurangi karbohidrat berlebih
  • Menyesuaikan pola makan dengan rutinitas olahraga
  • Berkonsultasi dengan ahli gizi agar diet sesuai kondisi tubuh (MG4)

Editor : Salma

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel