
TIMETODAY.ID, JAKARTA — Wilayah Balochistan, Pakistan barat daya, kembali menjadi medan pertempuran sengit. Selama hampir 40 jam atau dua hari terakhir, pasukan keamanan Pakistan terlibat bentrokan besar dengan kelompok separatis, yang berujung pada tewasnya sedikitnya 145 militan. Wilayah ini memang telah lama dilanda pemberontakan bersenjata selama puluhan tahun.
Pertempuran pecah setelah rentetan serangan bersenjata dan bom terkoordinasi mengguncang berbagai wilayah di Balochistan pada akhir pekan lalu. Serangan tersebut menewaskan hampir 50 orang, termasuk warga sipil dan aparat keamanan, serta memicu respons militer berskala besar.
Otoritas Provinsi Balochistan menyebut gelombang kekerasan ini sebagai eskalasi konflik paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir. Kelompok separatis di wilayah yang kaya sumber daya alam dan berbatasan langsung dengan Iran serta Afghanistan itu meningkatkan serangan terhadap pasukan keamanan, warga sipil, dan infrastruktur publik.
Serangan Brutal Menyasar Ruang Publik
Dalam serangan terkoordinasi pada Sabtu (31/1) waktu setempat, para pelaku dilaporkan menyamar sebagai warga sipil. Mereka memasuki rumah sakit, sekolah, bank, hingga pasar sebelum melepaskan tembakan secara brutal.
Menteri Dalam Negeri junior Pakistan, Talal Chaudhry, mengecam metode serangan tersebut.
“Dalam setiap kasus, para penyerang datang dengan berpakaian seperti warga sipil dan secara membabi-buta menargetkan orang-orang biasa yang bekerja di toko-toko,” kata Talal Chaudhry.
Ia juga menuding para militan menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia dalam aksi mereka.
Kelompok separatis terlarang Tentara Pembebasan Baloch (BLA) mengklaim bertanggung jawab atas serangan mematikan tersebut. Mereka menyebut operasi itu sebagai “Herof” atau “badai hitam”, yang diklaim menargetkan pasukan keamanan Pakistan di seluruh Balochistan.
Serangan Nyaris Serentak di Sejumlah Kota
Para pejabat setempat menyebutkan bahwa serangan dilancarkan hampir bersamaan di sejumlah wilayah, termasuk Quetta—ibu kota Provinsi Balochistan—serta Gwadar, Mastung, dan Noshki. Para pelaku bersenjata menyerang instalasi keamanan, termasuk markas besar Frontier Corps, mencoba melakukan bom bunuh diri, dan sempat memblokir ruas-ruas jalan utama.
Di Quetta, dampak serangan terlihat jelas. Kendaraan-kendaraan hangus terbakar di salah satu kantor polisi, pintu-pintu gedung dipenuhi lubang bekas peluru, dan garis polisi berwarna kuning membentang di jalanan.
Kepala Menteri Balochistan, Sarfraz Bugti, melaporkan bahwa sedikitnya 17 personel penegak hukum dan 31 warga sipil tewas akibat serangan tersebut.
Operasi Balasan Skala Besar
Serangan separatis itu memicu operasi balasan besar-besaran yang melibatkan militer, kepolisian, dan unit antiterorisme Pakistan. Militer Pakistan menyatakan bahwa 92 militan tewas dalam pertempuran pada Sabtu (31/1), sementara 41 militan lainnya tewas dalam operasi pendahuluan sehari sebelumnya.
Bugti mengatakan aparat telah mengantisipasi potensi serangan besar.
“Kami memiliki laporan intelijen bahwa operasi semacam ini sedang direncanakan, dan sebagai hasilnya, kami memulai pra-operasi sehari sebelumnya,” ujarnya.
Sementara itu, BLA mengklaim para pejuangnya telah menewaskan 84 personel pasukan keamanan Pakistan dan menangkap 18 lainnya. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen, dan pihak militan Pakistan belum memberikan tanggapan resmi.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































