Di Tengah Kritik Global, Trump Tegaskan Hukum Internasional Bukan Batasan

Trump
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Foto: Los Angeles Times

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi pusat perhatian dunia internasional. Di tengah gelombang kritik atas kebijakan luar negeri Washington yang kian agresif, Trump justru menyampaikan pernyataan yang mengundang kontroversi: hukum internasional, menurutnya, bukanlah batasan utama bagi langkah-langkah Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan The New York Times (NYT) yang dirilis Rabu (7/1) waktu setempat, sebagaimana dilansir Anadolu Agency dan Japan Times, Jumat (9/1/2026). Dalam wawancara itu, Trump secara terbuka menyebut bahwa satu-satunya hal yang dapat menahan dirinya bukanlah hukum internasional, melainkan nilai moral pribadinya.

“Iya, ada satu hal. Moralitas saya sendiri. Pikiran saya sendiri. Itu satu-satunya hal yang dapat menghentikan saya,” kata Trump ketika ditanya apakah ada batasan terhadap kekuasaan global yang kini ia miliki sebagai Presiden AS.

Advertisement

Saat ditegaskan lebih lanjut, Trump bahkan secara eksplisit menyatakan sikapnya terhadap aturan global.

“Saya tidak membutuhkan hukum internasional,” tegas Trump.

Pernyataan ini muncul di tengah rangkaian kebijakan luar negeri AS yang menuai kritik luas. Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintahan Trump tercatat bergabung dengan Israel dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran saat konflik kedua negara memanas tahun lalu. Washington juga melancarkan operasi militer ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Baca Juga :  Gedung Dekat Konsulat Amerika Serikat di Dubai Terkena Serangan Drone

Belum berhenti di situ, Trump juga mengutarakan ambisi merebut Greenland dari Denmark. Ia bahkan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer, sebuah pernyataan yang langsung memicu kekhawatiran di Eropa, khususnya di kalangan negara-negara anggota NATO. Sejumlah negara sekutu secara terbuka memperingatkan Trump atas langkah tersebut.

Meski menyatakan tak membutuhkan hukum internasional, Trump sempat memberikan penjelasan lanjutan yang terdengar kontradiktif.

“Saya tidak berniat menyakiti orang-orang,” ujarnya.

Ketika didesak NYT soal apakah pemerintahannya tetap perlu mematuhi hukum internasional, Trump menjawab, “Iya perlu.” Namun, ia segera menambahkan penegasan bahwa batasan tersebut bergantung pada interpretasinya sendiri.

“Itu tergantung pada definisi Anda tentang hukum internasional,” katanya.

Menurut penilaian NYT, pernyataan Trump tersebut mencerminkan pengabaian terang-terangan terhadap hukum internasional dan berbagai batasan lain dalam penggunaan kekuatan militer AS untuk menyerang, menginvasi, atau memaksa negara lain. Media itu menyebut pandangan Trump sebagai pengakuan paling blak-blakan tentang cara pandangnya terhadap dunia.

Baca Juga :  Gangguan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga BBM di Amerika Serikat

Inti dari pandangan tersebut, tulis NYT, adalah keyakinan bahwa kekuatan nasional—bukan aturan hukum, perjanjian, atau konvensi internasional—yang seharusnya menjadi faktor penentu ketika kepentingan negara-negara besar berbenturan.

Trump memang mengakui adanya sejumlah hambatan di dalam negeri. Namun, ia tetap mendorong strategi maksimalis, termasuk menghukum lembaga yang tidak disukainya, membalas lawan politik, hingga mengerahkan Garda Nasional ke kota-kota besar meski ditentang pejabat setempat.

Dalam wawancara itu pula, Trump menegaskan bahwa reputasinya sebagai sosok yang tak terduga dan kesiapannya untuk dengan cepat mengerahkan kekuatan militer kerap ia gunakan sebagai alat untuk memaksa negara lain mengikuti kehendak Washington.

Presiden AS berusia 79 tahun tersebut terdengar lebih berani dari sebelumnya. Ia menyinggung keberhasilan serangan AS terhadap program nuklir Iran, membanggakan kecepatan dalam melumpuhkan pemerintahan Venezuela, serta kembali membahas rencana kontroversialnya terkait Greenland yang menuai kritik keras dari sekutu NATO.

Ketika ditanya mana yang lebih prioritas—mendapatkan Greenland atau mempertahankan NATO—Trump menolak memberikan jawaban tegas. Namun ia mengakui kemungkinan tersebut.

“Itu mungkin sebuah pilihan,” katanya.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel