TIMETODAY.ID, JAKARTA — Pada usia 15 tahun, sebagian besar remaja di Indonesia masih menempuh pendidikan di tingkat SMP atau baru memasuki bangku SMA. Namun, kisah berbeda datang dari Belgia. Seorang remaja bernama Laurent Simons mencatat prestasi luar biasa dengan meraih gelar doktor (PhD) di usia yang sangat belia.
Laurent Simons resmi menyandang gelar doktor termuda di Belgia setelah berhasil mempertahankan disertasi dalam sidang terbuka yang digelar pada 17 November 2025 di Universitas Antwerp.
Dalam sidang tersebut, ia dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar doktor di bidang fisika kuantum.
Mengutip Earth.com, penelitian Simons berfokus pada kajian tentang polaron Bose, yakni fenomena pengotor yang bergerak dan dikelilingi partikel lain di dalam sistem superfluida dan supersolid.
Penelitiannya berupaya menjelaskan perilaku partikel dalam kondisi ekstrem yang masih menjadi tantangan dalam fisika modern.
Secara sederhana, Simons memaparkan bagaimana penyerapan cahaya dapat dimanfaatkan untuk membaca pergerakan pengotor dalam sistem supersolid terkait materi kuantum.
Pendekatan tersebut membantu para fisikawan menghitung sifat-sifat tertentu dalam sistem yang selama ini sulit diselesaikan secara pasti.
Supersolid sendiri merupakan fase materi unik yang menunjukkan keteraturan kristal sekaligus aliran superfluida. Sementara itu, Kondensat Bose-Einstein (BEC)—yakni atom-atom yang didinginkan hingga suhu sangat rendah sehingga bertindak sebagai satu kesatuan—menjadi medium yang dapat dikontrol untuk mendukung studi yang dilakukan Simons.
Dalam disertasinya, Simons memodelkan bagaimana satu partikel tambahan dapat memengaruhi kumpulan boson, jenis partikel fundamental dalam fisika, dengan mengubah energi, ukuran, serta dinamika geraknya.
Boson dikenal memiliki sifat berbagi keadaan kuantum dan menunjukkan perilaku kolektif pada suhu ekstrem.
Di luar pencapaian akademiknya, Simons juga telah menyampaikan rencana ambisius ke depan. Ia berkeinginan melanjutkan studi di bidang kedokteran di Munich, Jerman, sembari mendalami kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Setelah ini, saya akan mulai bekerja menuju tujuan saya: menciptakan ‘manusia super’,” kata Simons.
Yang dimaksud Simons dengan “manusia super” bukanlah konsep fiksi, melainkan upaya memperpanjang usia hidup manusia secara klinis. Ia menilai kecerdasan buatan memiliki peran penting dalam mengolah data biologis, menyaring sinyal medis, dan membantu proses diagnosis penyakit secara lebih presisi.
Rencana tersebut dinilai akan melibatkan berbagai tahapan, mulai dari pengembangan algoritma penyaringan data yang lebih baik hingga alur kerja uji obat yang lebih efisien.
Untuk mewujudkannya, Simons disebut akan membutuhkan kolaborasi dengan para ahli klinis guna menerjemahkan temuan ilmiah menjadi terapi yang terbukti efektif.
Meski ambisinya menuai sorotan, sejumlah pihak menilai tujuan Simons lebih realistis dibandingkan gagasan keabadian yang bersifat mitos. Upaya memperpanjang masa hidup sehat dinilai sebagai tantangan ilmiah yang besar, namun masih berada dalam koridor penelitian medis modern.
Penelitian Laurent Simons sendiri telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Physical Review X pada 28 Februari 2025.
Sejumlah akademisi menilai capaian tersebut selaras dengan rekam jejak riset yang telah terdokumentasi, dengan catatan bahwa perkembangan lanjutan di bidang ini tetap bergantung pada kerja tim, pendampingan mentor, eksperimen yang ketat, serta validasi teori melalui replikasi ilmiah.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































