Pengurangan Limbah Elektronik Belum Optimal, Sharp Soroti Minimnya Payung Regulasi

Sharp
National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia Andri Adi Utomo saat memberikan sambutan dalam kegiatan Sharp Greenator Festival 2025 di Gedung Serbaguna Zeni, Kota Bogor, Jawa Barat. Foto: timetoday.id/B. Supriyadi.

TIMETODAY.ID, BOGOR – PT Sharp Electronics Indonesia terus memperluas upaya pengurangan dampak lingkungan dari penggunaan kemasan dan limbah elektronik. National Sales Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia Andri Adi Utomo mengatakan perusahaan telah mengubah sistem kemasan produk sejak satu dekade lalu, namun masih menghadapi tantangan biaya dan minimnya dukungan regulasi.

Menurut Andri, Sharp sebelumnya menggunakan bahan kayu untuk kemasan produk elektronik berukuran besar, seperti mesin cuci dan pendingin ruangan (AC). Dengan produksi mencapai ratusan ribu unit per tahun, penggunaan kayu dinilai tidak berkelanjutan.

“Dulu kita menggunakan kayu, tapi itu kan harus membabat hutan. Produksi mesin cuci bisa sampai seratus ribu unit per tahun, AC sekitar 50 ribu unit. Artinya, kebutuhan kayunya besar sekali,” ujar Andri saat ditemui dalam kegiatan Sharp Greenator Festival 2025 di Bogor, Minggu (7/12/2025).

Advertisement

Perusahaan kemudian mengganti kemasan kayu dengan karton boks. Meski lebih ramah lingkungan, biaya produksinya meningkat signifikan.

Baca Juga :  Cek Persiapan Angkutan Lebaran, Komisi V DPR RI Kunjungi Terminal Baranangsiang Bogor

“Dampak positifnya mengurangi penggunaan kayu dan styrofoam. Tapi harga bisa empat kali lipat lebih mahal. Bagi pengusaha ini berat,” katanya.

Andri menilai pemerintah seharusnya memberi insentif bagi industri yang mengurangi penggunaan material tidak ramah lingkungan.

“Kalau mengurangi limbah plastik atau kayu, harusnya ada insentif pajak atau lainnya. Sampai sekarang kami belum dapat dukungan,” ujarnya.

Selain mengganti material, Sharp juga berupaya meminimalkan penggunaan karton dengan menggunakan bahan daur ulang. Namun penyesuaian ukuran dan ketebalan kemasan terkendala kondisi distribusi di Indonesia.

“Infrastrukturnya kurang bagus. Kalau kami kurangi ketebalan, unit bisa rusak. Kami berharap pemerintah bisa ikut membantu mencari solusi,” kata Andri.

Di sisi lain, masalah limbah elektronik menjadi perhatian Sharp. Andri menilai produk seperti kulkas, AC, dan mesin cuci yang dibuang sembarangan memberi kontribusi besar terhadap pencemaran karena kandungan plastiknya.

Baca Juga :  Kronologi 7 Satpam Kebun Raya Bogor Dikeroyok Rombongan Peziarah

“Kita belum bisa mengurangi kandungan plastik karena sifatnya durable dan kuat. Masalahnya ada pada pengelolaan limbahnya,” ujarnya. Ia mencontohkan beberapa negara memiliki sistem pengelolaan limbah elektronik berbasis peran aktif pemerintah.

Sharp sempat menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, namun perubahan kebijakan membuat rencana tidak berlanjut. Perusahaan kini mencoba bekerja sama dengan sejumlah pengelola limbah, termasuk fasilitas daur ulang yang tersedia di pusat perbelanjaan.

Namun berdasarkan penelusuran Sharp, sebagian fasilitas hanya memilah limbah dan menyerahkannya kepada penampungan tanpa pengolahan memadai.

“Penampung juga terkendala lokasi, kapasitas lahan, teknologi, dan kebutuhan insentif. Ini harusnya bisa diatasi kalau ada payung regulasi pemerintah,” tutur Andri.

Ia menegaskan Sharp akan terus menjajaki kolaborasi lintas sektor untuk memastikan limbah elektronik ditangani secara berkelanjutan.

Editor : B. Supriyadi

Wartawan : B. Supriyadi

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel