
TIMETODAY.ID, JAKARTA – Di tengah rutinitas harian, banyak orang menjalani hidup tanpa sadar bahwa tubuh mereka sedang memberi sinyal bahaya. Berat badan naik perlahan, rasa lelah muncul lebih sering, gula darah mulai meningkat, dan berbagai keluhan kecil dianggap sepele. Tanpa disadari, dua kondisi yang saling berkaitan sedang berkembang sekaligus: obesitas dan diabetes tipe 2.
Fenomena ini dikenal sebagai diabesity, istilah yang menggambarkan betapa kedua kondisi tersebut kerap muncul berdampingan dan saling memperparah. Di era modern, pola makan cepat saji, kurang gerak, stres tinggi, serta tidur yang berantakan menjadi kombinasi yang sempurna untuk memicu masalah metabolik ini.
Apa Itu Diabesity?
Diabesity adalah kondisi obesitas yang disertai diabetes tipe 2 atau prediabetes. Obesitas menyebabkan tubuh menjadi resisten terhadap insulin. Akibatnya, gula darah meningkat dan berkembang menjadi diabetes tipe 2. Dengan kata lain, semakin tinggi berat badan, semakin rendah kemampuan tubuh mengelola glukosa.
Penyebab Utama
Diabesity tidak muncul karena satu faktor saja. Beberapa pemicu saling berkaitan, seperti:
- Penumpukan lemak viseral yang meningkatkan resistansi insulin.
- Pola makan tinggi kalori dan rendah nutrisi.
- Kurang aktivitas fisik yang membuat metabolisme melemah.
- Faktor genetik yang meningkatkan kerentanan seseorang.
- Lingkungan obesogenik: makanan mudah, gerak minimal.
- Peradangan kronis yang mengganggu metabolisme.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Tanda-tandanya sering muncul perlahan, seperti:
- Mudah lelah dan kurang bertenaga.
- Haus berlebih dan sering buang air kecil.
- Berat badan yang terus naik.
- Lingkar pinggang membesar.
- Kulit menggelap di area lipatan (akantosis nigrikans).
- Kesemutan pada tangan atau kaki.
Gejala ringan inilah yang sering membuat diabesity tidak disadari sejak awal.
Bagaimana Diagnosisnya?
Dokter biasanya menilai dua kondisi sekaligus: obesitas dan kadar gula darah. Pemeriksaan umum meliputi:
- Indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar pinggang.
- Gula darah puasa dan HbA1c.
- Tes toleransi glukosa oral.
- Profil lipid dan tekanan darah.
Evaluasi faktor risiko keluarga juga penting, mengingat diabetes sering memiliki komponen genetik.
Penanganan yang Direkomendasikan
Kabar baiknya, diabesity bukan kondisi yang tak bisa dikendalikan. Kombinasi perubahan gaya hidup dan intervensi medis dapat memberikan hasil signifikan, meliputi:
- Perbaikan pola makan: lebih banyak serat, protein, serta makanan minim proses.
- Aktivitas fisik teratur: gabungan aerobik dan latihan kekuatan meningkatkan sensitivitas insulin.
- Tidur cukup & manajemen stres: dua faktor yang sering diremehkan tetapi sangat berpengaruh.
- Obat diabetes seperti metformin atau GLP-1 agonist bila diperlukan.
- Operasi bariatrik untuk obesitas berat dan kasus yang sulit dikendalikan.
Komplikasi Jika Tidak Ditangani
Diabesity dapat memicu berbagai masalah serius, seperti:
- Penyakit jantung dan stroke.
- Gagal ginjal.
- Gangguan penglihatan dan neuropati.
- Penyakit hati berlemak.
- Sleep apnea.
- Ketidakseimbangan hormonal.
Semua ini terjadi karena metabolisme tubuh terus menerus dalam kondisi tertekan.
Bisakah Dicegah?
Sangat bisa! Langkah yang direkomendasikan di antaranya:
- Makan makanan bergizi seimbang.
- Aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu.
- Istirahat cukup dan teratur.
- Kelola stres dengan baik.
- Cek gula darah dan kesehatan secara berkala.
Kesimpulan
Diabesity adalah gambaran bagaimana gaya hidup modern menciptakan lingkaran masalah metabolik yang sulit diputus jika tidak ditangani sejak dini. Namun dengan perubahan kecil yang konsisten, kesadaran terhadap kesehatan, serta dukungan medis yang tepat, kondisi ini sangat mungkin dikendalikan bahkan dicegah.
Tubuh selalu memberikan tanda yang penting adalah bagaimana kita mendengarkannya. (MG4)
Editor : Salma
Sumber : idntimes.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































