Kisah Kursi Berlengan: Dulu Lambang Otoritas, Kini Penambah Estetika Rumah

kursi
ilustrasi Kursi Berlengan. Foto: itsock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Desain kursi masa kini cenderung tampil sederhana. Banyak produsen memilih membuat kursi tanpa lengan, hanya mengandalkan dudukan dan sandaran minimalis yang ringan dan mudah dipindahkan.

Tren ini jelas berbeda dengan desain kursi zaman dahulu yang rata-rata memiliki lengan tegas, terbuat dari kayu berat, dan dihiasi ukiran rumit pada hampir seluruh bagiannya—mulai dari sandaran hingga kaki kursi.

Meski desain modern semakin mendominasi, kursi berlengan tetap bertahan. Bentuknya memang lebih ramping dan tidak seornamen era klasik, namun fungsinya tidak pernah hilang. Untuk memahami asal-usulnya, kita perlu menelusuri sejarah panjang kursi berlengan di peradaban dunia.

Advertisement

Menurut House Beautiful, kursi berlengan sudah digunakan sejak Yunani Kuno. Desain serupa kembali muncul di Prancis pada abad ke-17. Namun, hingga kini tidak ada catatan pasti mengenai kapan kursi berlengan pertama kali ditemukan.

Situs Styylish menjelaskan bahwa kursi berlengan awalnya dibuat untuk para penguasa. Dalam gambaran kerajaan kuno—seperti Mesir hingga Kekaisaran Romawi—kursi untuk raja dan bangsawan dibuat tinggi, lebar, dan megah.

Baca Juga :  Resep Hoppers, Pancake Fermentasi ala Sri Lanka untuk Sarapan Nikmat

Kursi kayu kokoh ini dihiasi ukiran simbolis seperti singa, sphinx, atau elang, yang melambangkan otoritas, kekuatan, dan hak ilahi. Sandaran tangannya berfungsi menegaskan kontrol atas wilayah kekuasaan. Kursi berlengan pada masa itu identik dengan singgasana.

Simbolisme ini berlanjut pada era berikutnya. Di sejumlah instansi, kursi berlengan menandakan kedudukan seseorang. Hakim dan pejabat tinggi menggunakan curule chair, kursi berkaki rangka X yang menunjukkan status istimewa bagi pemiliknya.

Pada abad pertengahan, tradisi tersebut tetap kuat. Kursi berlengan diperuntukkan bagi raja, pendeta, dan bangsawan, sementara masyarakat biasa duduk di bangku sederhana tanpa sandaran.

Memasuki abad ke-15 dan ke-16, gaya klasik mulai diminati, dan kebutuhan akan kenyamanan semakin diperhatikan.

Saat itulah bangku Cassapanca dari Italia muncul—kursi besar dengan sandaran tinggi dan lengan kokoh yang ditempatkan di rumah pedagang dan bangsawan sebagai simbol status sekaligus kenyamanan.

Baca Juga :  Domiri Siap Rebut Kursi DPD KNPI Kabupaten Bogor

Inovasi berlanjut pada abad ke-17 dan ke-18. Kursi berlengan mulai dilapisi kain kanvas empuk dan menggunakan material bercorak mewah. Beberapa model bahkan memiliki sandaran tangan tebal, ukiran berlapis emas, dan desain yang semakin lebar—menunjukkan kekayaan pemiliknya.

Masa pemerintahan Louis XIV dan Louis XV di Prancis menandai era baru furnitur yang lebih ringan dan intim tanpa meninggalkan kemewahan. Dari periode inilah lahir kursi Bergère, salah satu kursi berlengan paling ikonik.

Kursi ini memiliki lengan berlapis kain tebal, sisi tertutup, bantal longgar, kaki cabriole, serta sandaran melengkung. Desainnya dibuat untuk bersantai, namun tetap memancarkan keanggunan khas aristokrasi Prancis.

Dari singgasana kerajaan hingga sofa nyaman di ruang tamu modern, kursi berlengan terus berevolusi.

Yang tersisa tidak hanya fungsinya, tetapi juga jejak sejarah panjang yang pernah menjadikannya simbol kekuasaan dan kemewahan.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel