
TIMETODAY.ID, BOGOR – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara menewaskan 303 orang. Ratusan lainnya masih dalam pencarian. Pengamat kebijakan publik sekaligus pendiri Lembaga Survei Vinus, Yusfitriadi menilai bencana ini merupakan dampak serius kerusakan lingkungan akibat deforestasi dan eksploitasi berlebihan. Ia menyebut bencana tersebut lebih tepat disebut “bencana ekologis” karena hilangnya keseimbangan ekosistem.
“Hilangnya ekosistem alam tersebut baik diakibatkan oleh deforestasi hutan maupun eksploitasi tanah, energi, dan mineral lainnya yang berlebihan,” katanya, Minggu (30/11/2025).
Ia menegaskan, kerusakan lingkungan membuat bencana harus “dibayar sangat mahal”. Mulai dari korban jiwa, kerugian material yang ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah, hingga ancaman jangka panjang bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Sejumlah daerah terdampak saat ini masih terisolasi. Penyaluran bantuan terkendala karena akses jalan tertutup material longsor.
Yus, sapaan akrabnya mengingatkan pemerintah agar tidak hanya menyebut bencana sebagai musibah, tetapi menelusuri penyebabnya secara serius. Ia mendorong pemerintah mengambil tiga langkah mendesak.
Pertama, memverifikasi perusahaan legal yang beroperasi agar sesuai aturan. Kedua, menutup perusahaan ilegal yang membabat hutan atau mengeksploitasi tambang. Ketiga, menegakkan hukum tanpa pandang bulu.
Ia memperingatkan, bencana serupa bisa terjadi di daerah lain, termasuk Jawa Barat dan Kabupaten Bogor, jika kerusakan lingkungan tidak ditangani sejak dini. Dengan demikian, Yus meminta pemerintah daerah dan pusat bertindak cepat agar tragedi di Sumatra tidak terulang di wilayah lain.
Editor : B. Supriyadi
Wartawan : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































