Wacana Jual Minyak Jelantah MBG ke Luar Negeri Tuai Sorotan, Publik Minta Negara Lebih Diutamakan

minyak jelantah
Wacana ekspor minyak jelantah dari program Makan Bergizi Gratis memicu diskusi publik. Potensi ekonomi besar menjadi sorotan utama dalam perdebatan ini. ( foto : pinterest )

TIMETODAY.ID, JAKARTA – Wacana penjualan minyak jelantah dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perbincangan hangat. Rencana menjual seluruh minyak jelantah ke Singapore Airlines dinilai sebagian pihak tidak sejalan dengan semangat nasionalisme, terutama karena potensi nilai ekonominya yang mencapai ratusan miliar rupiah per tahun.

Isu ini mencuat setelah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyampaikan bahwa ekspor minyak jelantah bisa memberikan nilai ekonomi dua kali lipat. Namun, pernyataan tersebut justru memicu kekhawatiran bahwa peluang ekonomi besar justru akan dinikmati pihak asing.

Orientasi Dinilai Terlalu Kapitalis

Sekretaris Eksekutif Said Aqil Sirodj Institute, Abi Rekso, menjadi salah satu suara yang cukup keras mengkritik. Ia menilai langkah Kepala BGN terlalu condong pada kepentingan eksternal ketimbang memperkuat tata kelola dalam negeri.

Advertisement

“Kepala BGN membawa agenda luar dalam hal jual beli minyak jelantah. Masih ada urusan lain yang lebih penting seperti keamanan pangan. Lagi pula Pertamina juga bisa membeli minyak jelantah,” ujar Abi.

Baca Juga :  Thrifting Online Dilarang, UMKM Didorong Jual Produk Lokal

Menurutnya, pemerintah seharusnya mengutamakan pengelolaan dan keamanan internal terlebih dahulu sebelum membuka ruang keuntungan kepada pihak luar negeri.

Pertamina Dinilai Lebih Layak Jadi Pembeli

Abi juga menilai, jika tujuan utamanya menjaga kepentingan nasional, maka Pertamina seharusnya menjadi pilihan utama.

Pertamina diketahui memberi harga sekitar Rp6.000 per liter untuk minyak jelantah. Dengan produksi jelantah MBG yang diperkirakan mencapai 560 liter per bulan dari satu dapur, potensi pendapatan menjadi cukup besar bahkan mencapai Rp620 miliar per tahun jika dihitung dari total 15.363 dapur yang beroperasi.

Angka tersebut dinilai cukup signifikan untuk memperkuat ekonomi nasional bila dikelola oleh BUMN.

Desakan Pengawasan agar Tak Ada Penyimpangan

Melihat besarnya potensi nilai ekonomi, Abi menekankan pentingnya pengawasan ketat agar kebijakan ini tidak melenceng dari kepentingan negara.

Baca Juga :  Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Minta Maaf soal Pernyataan Tidak Gunakan Istilah 'Ahli Gizi' di MBG

“Kita perlu menjaga bersama agar BGN tidak menjadi lembaga percaloan. Dengan potensi Rp620 miliar per tahun, saya kira KPK, BPK, dan Kejaksaan perlu memperkuat pengawasan,” tegasnya.

BGN: Ekspor Nilainya Lebih Tinggi

Di sisi lain, Kepala BGN Dadan Hindayana menjelaskan bahwa ekspor jelantah dinilai memberikan manfaat ekonomi yang lebih tinggi.

Ia mengatakan minyak jelantah dari SPPG dapur penyedia MBG tidak dibuang begitu saja, melainkan ditampung oleh para pengusaha dan kemudian diekspor dengan harga dua kali lipat.

“Salah satu pengguna minyak jelantah itu adalah Singapore Airlines,” kata Dadan.

Dadan menambahkan, konsumsi minyak di SPPG memang cukup besar, yakni 800 liter per bulan, dan sekitar 70 persen di antaranya berubah menjadi jelantah membuka potensi bisnis yang cukup menjanjikan. (MG4)

 

 

Editor : Salma

Sumber : idntimes.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel