Wafatnya Ratu Sirikit, PM Thailand Batal Hadiri KTT ASEAN di Malaysia

Ratu Sirikit
Ratu Sirikit, Ibu Suri Kerajaan Thailand, menyapa rakyat dengan lambaian tangan saat tiba di Bangkok untuk menghadiri perayaan Tahun Baru pada 23 Januari 2012. (foto: dok.reuters)

TIMETODAY.ID, BANGKOK — Duka mendalam menyelimuti Thailand. Mantan Ratu Sirikit, sosok yang selama puluhan tahun menjadi simbol keanggunan dan pengabdian kerajaan, wafat pada usia 93 tahun. Kabar ini tak hanya mengguncang rakyat Thailand, tetapi juga menggoyang agenda diplomatik kawasan.

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul memutuskan membatalkan keikutsertaannya dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang dijadwalkan berlangsung di Malaysia akhir pekan ini.

“Perdana Menteri membatalkan perjalanan ke Malaysia untuk menghadiri KTT ASEAN yang akan digelar Minggu hingga Selasa mendatang,” ujar juru bicara pemerintah Thailand, Siripong Angkasakulkiat, Sabtu (25/10/2025).

Advertisement

Belum jelas apakah ketidakhadiran Charnvirakul akan berdampak pada agenda penting lain yang dijadwalkan dalam forum tersebut, termasuk penandatanganan deklarasi perdamaian Thailand–Kamboja—sebuah kesepakatan bersejarah yang disebut-sebut akan disaksikan langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Baca Juga :  Kunjungan Wisatawan Tak Terganggu, Thailand Siapkan Aturan Bebas Visa Baru

Sementara itu, Istana Kerajaan Thailand mengonfirmasi kabar duka tersebut.

“Kondisi Yang Mulia terus memburuk hingga Jumat dan beliau meninggal dunia pada pukul 21.21 di Rumah Sakit Chulalongkorn pada usia 93 tahun,” bunyi pernyataan resmi kerajaan.

Ratu Sirikit adalah istri dari almarhum Raja Bhumibol Adulyadej, raja terlama dalam sejarah monarki Thailand yang wafat pada 2016 setelah memerintah selama 70 tahun.

Selama hidupnya, Sirikit dikenal karena dedikasinya pada kegiatan sosial dan pelestarian budaya Thailand. Meski dalam beberapa tahun terakhir jarang tampil di depan publik karena sakit, sosoknya tetap dihormati.

Media lokal melaporkan bahwa beliau sempat berjuang melawan infeksi darah sejak 17 Oktober lalu sebelum akhirnya tutup usia.

Di Thailand, keluarga kerajaan dipandang sebagai sosok suci. Ketika Raja Bhumibol wafat, negara itu memasuki masa berkabung nasional selama setahun, dengan warga diwajibkan mengenakan pakaian hitam sebagai bentuk penghormatan.

Baca Juga :  Saatnya Golkar Kembali Raih Masa Keemasan, Ribuan Orang Akan Bekumpul di Sukajaya Bogor

Meski popularitasnya tak sebesar mendiang suaminya maupun sang putra, Raja Maha Vajiralongkorn, Sirikit tetap menjadi figur yang dicintai rakyat. Hari ulang tahunnya, 12 Agustus, bahkan ditetapkan sebagai Hari Ibu Nasional di Thailand.

Fotonya masih banyak terpajang di rumah-rumah, restoran, hingga kantor pemerintahan, berdampingan dengan potret Raja Bhumibol.

Kepergian Ratu Sirikit meninggalkan duka mendalam sekaligus menandai akhir dari sebuah era dalam sejarah monarki modern Thailand.

Sementara dunia menanti arah baru diplomasi Thailand di tengah masa berkabung nasional, rakyat negeri Gajah Putih memilih menundukkan kepala, mengenang sosok ratu yang mereka sebut sebagai “ibu bangsa.”***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel