Kementan Akui Impor Kakao Fermentasi karena Produksi Lokal Belum Memadai

kakao
ilustrasi kakao (foto: istock)

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Indonesia dulu dikenal sebagai salah satu produsen kakao terbesar di dunia. Dari perkebunan di Sulawesi hingga Sumatera, biji kakao Indonesia pernah menjadi komoditas unggulan yang diminati pasar global.

Namun, kini, aroma manis itu mulai memudar. Ironisnya, negeri yang dulu mengekspor kakao ke berbagai belahan dunia, kini justru mengimpor kakao dari Afrika Barat, terutama dari Pantai Gading.

Ketua Tim Kerja Perkebunan dan Tanaman Semusim Lainnya Kementerian Pertanian (Kementan), Yakub Ginting, mengakui fenomena ini. Ia menjelaskan bahwa impor dilakukan bukan karena Indonesia kekurangan kakao mentah, tetapi karena kakao fermentasi yang dibutuhkan industri pengolahan—belum bisa dipenuhi secara maksimal di dalam negeri.

Advertisement

“Ya memang yang diimpor itu kakao fermentasi. Seperti yang sudah disampaikan, fermentasinya di kita masih kurang,” ujar Yakub dalam peringatan Hari Kakao 2025 di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Kamis (23/10/2025).

Baca Juga :  Semangat Kebangkitan Nasional: Presiden Prabowo Serukan Indonesia Bangkit dan Berdikari

Fermentasi, proses penting untuk menghasilkan cita rasa dan aroma khas cokelat, masih menjadi tantangan besar bagi petani kakao lokal.

Banyak hasil panen yang belum melalui tahapan fermentasi sempurna, sehingga kualitasnya belum memenuhi standar industri besar maupun pasar ekspor premium.

Yakub menambahkan, kegiatan ekspor dan impor kakao ini merupakan bagian dari mekanisme perdagangan global.

Menurutnya, Indonesia tetap mengekspor biji kakao, namun di saat yang sama juga perlu mengimpor kakao fermentasi guna memenuhi kebutuhan pabrikan cokelat dalam negeri.

“Kita ekspornya biji kakao, ada juga yang fermentasi. Jadi ada yang diekspor, ada yang diimpor semacam pertukaran perdagangan,” jelasnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, Indonesia mengimpor kakao sebanyak 197 ribu ton, sedangkan ekspornya hanya 13 ribu ton. Malaysia menjadi negara tujuan ekspor terbesar bagi kakao Indonesia.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Naik Rp3.000, Berikut Rinciannya per 17 November 2025

Namun di balik angka-angka itu, ada realitas pahit yang tak bisa diabaikan. Berdasarkan laporan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, produksi kakao nasional kini hanya mencapai 200.000 ton per tahun anjlok jauh dibanding masa jayanya yang sempat menembus 590.000 ton.

Penurunan produktivitas itu diperparah dengan tingginya impor. Pada 2024, Indonesia tercatat mengimpor 157.000 ton biji kakao, sebagian besar untuk menutupi kebutuhan industri cokelat yang terus tumbuh.

Kini, di tengah peringatan Hari Kakao, para pemangku kebijakan kembali dihadapkan pada pertanyaan besar: mampukah Indonesia mengembalikan kejayaan biji kakao lokalnya?

Karena di balik segelas cokelat hangat yang dinikmati banyak orang, tersimpan cerita getir tentang petani, produktivitas yang menurun, dan cita rasa lokal yang masih mencari tempat di pasar dunia.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel