TIMETODAY.ID, BANDUNG — Di sebuah ruang sederhana di SMAN 1 Cisarua, Bandung Barat, Sabtu (18/10), tangan kecil Muhammad Daffa Raasyid tampak menggenggam erat sebuah amplop putih. Bocah berusia 13 tahun itu bukan sedang mengirimkan tugas sekolah, melainkan secarik surat yang ia titipkan khusus untuk Presiden Prabowo Subianto.
“Salah satu isinya ucapan rasa terima kasih dan doa. Ada juga rasa syukur kami terhadap adanya pembangunan Sekolah Rakyat,” kata Daffa pelan, usai bertemu Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, Minggu (19/10/2025).
Daffa adalah siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 11 Bandung Barat, sekolah yang dibangun sebagai bagian dari program pemerintah untuk memperluas akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu. Dalam suratnya, ia juga menyelipkan doa sederhana untuk presiden.
“Untuk Presiden kita, Bapak Prabowo Subianto. Semoga Bapak panjang umur, sehat selalu, dan dimudahkan segala urusannya. Saya berharap Bapak bisa berkunjung ke sekolah kami,” ucap Daffa dengan nada penuh harap.
Belajar di Sekolah yang Mengubah Harapan
Sejak bersekolah di SRMP 11, Daffa mengaku banyak hal yang berubah. Ia kini memiliki ruang belajar yang layak, fasilitas yang memadai, dan semangat baru untuk bermimpi lebih tinggi.
“Di sini dapat meja belajar sendiri,” ungkapnya dengan senyum kecil.
Anak sulung dari keluarga sederhana itu bercita-cita melanjutkan pendidikan hingga kuliah. “Saya ingin meneruskan jenjang SMA ke Sekolah Garuda dan ingin melanjutkan kuliah,” jelasnya. Ia berharap suatu hari nanti bisa menjadi anak berprestasi dan mengangkat derajat kedua orang tuanya.
Pesan dari Wamensos: Anak Sekolah Rakyat Harus Pintar dan Berkarakter
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menjelaskan makna besar di balik berdirinya Sekolah Rakyat. Menurutnya, Presiden Prabowo membangun sekolah ini untuk memutus rantai kemiskinan sekaligus memuliakan rakyat kecil.
“Presiden ingin kalian jadi anak-anak cerdas. Sanggup? Presiden ingin kalian punya karakter,” ujar Agus di hadapan para siswa.
Ia menekankan, karakter yang dimaksud meliputi tiga hal: kebangsaan, keagamaan, dan keterampilan. “Karakter keagamaan, apapun agamanya, kalian harus memiliki iman yang kuat, tingkah laku yang baik,” jelasnya.
Prabowo, kata Agus, juga ingin setiap siswa memiliki keterampilan agar setelah lulus SMA, mereka siap bekerja. “Anak-anak di Sekolah Rakyat harus pintar, berkarakter, dan terampil. Kalian harus jadi anak berani, jangan rendah diri,” paparnya.
Agus pun berpesan agar sekolah menjadi ruang aman dan menyenangkan bagi para siswa. “Kalian harus sayangi dan hormati teman-teman kalian, kalian harus kompak,” ujarnya, mengingatkan agar tidak ada perundungan, kekerasan, maupun intoleransi di lingkungan sekolah.
Ia juga menitip pesan kepada para guru dan tenaga pendidik agar menjadi sosok orang tua bagi siswa. “Mereka nyaman, mereka senang, kerasa, sehingga mereka belajar dengan tenang,” imbuhnya.
Harapan untuk Pemerataan Pendidikan
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, turut hadir dalam acara tersebut. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung program pendidikan inklusif yang digagas Presiden Prabowo.
“Ini adalah dukungan dari Pak Presiden. Kami sudah siapkan tiga calon lahan Sekolah Rakyat,” pungkasnya.
Kunjungan Wamensos hari itu ditutup dengan penampilan seni dari para siswa: paduan suara, pencak silat, dan tari tradisional. Di antara tepuk tangan penonton, Daffa kembali menggenggam tangannya — mungkin membayangkan surat kecilnya tiba di meja Presiden. Sebuah pesan sederhana dari seorang anak desa yang percaya, pendidikan bisa mengubah nasib.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































