
Oleh: dr. Abraham Michael, Sp.K.N-TM, Pg.Dipl (H.M), FIHFAA, FISQua
Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir dan Teranostik Molekuler
Praktisi Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit
TIMETODAY.ID, JAKARTA – 17 September 2025, dunia serentak berhenti sejenak untuk merenungkan satu pilar fundamental peradaban: Keselamatan Pasien. Tema Hari Keselamatan Pasien Se-dunia tahun ini, “Safe care for every newborn and every child“, bukanlah sekadar slogan; ia adalah sebuah panggilan moral. Bayangkan seorang ibu di pedalaman Kalimantan, membawa bayinya yang terus kuning ke puskesmas. Atau seorang ayah di Jakarta yang cemas menanti diagnosis benjolan aneh di leher putrinya. Di balik setiap kasus ini, ada satu kebutuhan mendesak: diagnosis yang cepat, akurat, dan aman. “Patient safety from the start!” menjadi pengingat yang kuat bagi kita semua para praktisi medis, pemerintah, dan masyarakat bahwa anak-anak bukanlah miniatur orang dewasa. Mereka adalah individu unik dengan kebutuhan fisiologis dan psikologis yang khas, terutama dalam konteks pelayanan kesehatan. Keselamatan mereka adalah prioritas absolut.
Memahami ‘Cahaya’ Nuklir: Melihat Fungsi, Bukan Sekadar Rupa
Untuk memahami keajaiban ini, mari kita gunakan analogi sederhana. Bayangkan CT Scan atau MRI pada radiologi konvensional sebagai arsitek yang memberikan kita cetak biru (blueprint) tubuh yang sangat detail. Ia menunjukkan bentuk dan ukuran organ. Namun, Kedokteran Nuklir berperan sebagai insinyur kelistrikan dan perpipaan. Ia menunjukkan aktivitas di dalam bangunan itu: di mana lampu menyala, di mana air mengalir, dan yang terpenting di mana ada korsleting atau “api” tersembunyi seperti kanker.
Bidang Kedokteran Nuklir melakukannya dengan menggunakan “pelacak pintar” (radiofarmaka) dalam dosis sangat kecil dan aman. Pelacak ini dirancang untuk menuju target spesifik: ada yang khusus mencari sel tulang yang sedang aktif tumbuh, sel tiroid yang sedang bekerja, atau sel kanker yang “rakus” akan gula. Sinyal dari pelacak inilah yang ditangkap dengan kamera khusus, menghasilkan peta fungsional tubuh. Dengan prinsip utama Kedokteran Nuklir yakni ALARA (As Low As Reasonably Achievable), menjadikan keselamatan anak dari paparan radiasi sekecil apa pun adalah prioritas mutlak.
Peran Vital Kedokteran Nuklir pada Pasien Anak (Pediatrik)
Anak-anak menghadapi spektrum penyakit yang berbeda dari orang dewasa. Kedokteran Nuklir menawarkan solusi diagnostik dan terapeutik yang unik dan seringkali menjadi penentu dalam penatalaksanaan kasus-kasus sulit.
- Diagnostik: Dari Ujung Rambut hingga Ujung Kaki
- Onkologi (Kanker pada Anak): Kanker adalah penyebab utama kematian akibat penyakit pada anak-anak. Data GLOBOCAN 2022 memperkirakan ada ribuan kasus kanker baru pada anak di Indonesia setiap tahunnya, dengan leukemia, tumor otak, dan neuroblastoma menjadi beberapa yang paling umum. Pemeriksaan PET/CT Scan dengan radiofarmaka 18F-FDG atau MIBG Scan sangat esensial untuk:
- Staging: Menentukan sejauh mana kanker telah menyebar. Informasi ini vital untuk merencanakan terapi yang tepat (kemoterapi, radiasi, atau operasi).
- Monitoring Respons Terapi: Melihat apakah sel kanker merespons pengobatan yang diberikan.
- Deteksi Kekambuhan: Mengidentifikasi kembalinya kanker lebih dini. Prosedur ini non-invasif dan dapat memindai seluruh tubuh dalam satu kali pemeriksaan, mengurangi trauma pada anak dibandingkan dengan prosedur biopsi berulang.
- Endokrinologi (Gangguan Hormon): Hipotiroid Kongenital (HK) adalah kondisi di mana kelenjar tiroid bayi baru lahir tidak dapat memproduksi hormon tiroid yang cukup. Jika tidak terdeteksi dan diobati dalam bulan pertama kehidupan, dampaknya adalah keterbelakangan mental dan fisik permanen. Program Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK) oleh pemerintah sangatlah vital. Data Kemenkes RI menunjukkan angka kejadian HK di Indonesia sekitar 1 dari 2.000-3.000 kelahiran. Ketika hasil skrining seorang bayi positif, Sidik Kelenjar Tiroid (Thyroid Scan) menjadi standar emas untuk mengkonfirmasi penyebabnya, apakah kelenjar tiroid tidak ada (atireosis), berukuran kecil, atau berada di lokasi yang salah (ektopik). Diagnosis cepat ini memungkinkan terapi segera, menyelamatkan potensi seorang anak untuk tumbuh normal.
- Nefro-urologi (Ginjal dan Saluran Kemih): Infeksi saluran kemih berulang pada anak dapat menyebabkan kerusakan ginjal permanen. Sidik Ginjal DMSA dapat mendeteksi jaringan parut pada ginjal dengan sensitivitas yang jauh lebih tinggi daripada USG. Sementara itu, Renogram membantu dokter bedah urologi mengevaluasi sumbatan pada saluran kemih (obstruksi) dan menentukan apakah seorang anak memerlukan operasi atau tidak, sehingga mencegah intervensi bedah yang tidak perlu.
- Neurologi (Otak dan Saraf): Pada anak dengan epilepsi yang tidak terkontrol dengan obat, SPECT Otak Iktal dan Interiktal dapat membantu menemukan fokus atau sumber kejang di otak dengan akurasi tinggi. Informasi ini sangat berharga bagi tim bedah saraf untuk merencanakan operasi pengangkatan fokus kejang, yang berpotensi menyembuhkan anak dari epilepsi.
- Gastro-Enterolo-Hepatologi: Kondisi gawat darurat neonatal, atresia bilier, di mana saluran empedu bayi tidak terbentuk, adalah mimpi buruk setiap dokter anak. Tanpa operasi Kasai sebelum usia 60 hari, hati bayi akan mengalami sirosis. Sidik Hepatobilier (HIDA Scan) menjadi harapan. Ia melacak aliran empedu. Jika radioaktif tak kunjung terlihat di usus setelah 24 jam, itu adalah bukti fungsional kuat adanya sumbatan. Pemeriksaan ini memberikan kepastian bagi tim bedah untuk segera bertindak, sebuah intervensi penyelamat jiwa. Selain masalah sumbatan, tantangan lain yang sering membingungkan adalah pendarahan saluran cerna pada anak tanpa penyebab yang jelas. Anak bisa mengalami buang air besar berdarah yang membuat orang tua panik. Seringkali, “pelaku” di baliknya adalah Divertikulum Meckel, sebuah kantung kecil sisa dari masa janin di usus, yang secara keliru memiliki jaringan lambung di dalamnya. Jaringan “tersesat” ini memproduksi asam, melukai dinding usus, dan menyebabkan pendarahan.Karena tersembunyi, kelainan ini sulit ditemukan dengan USG atau endoskopi. Di sinilah Sidik Meckel (Meckel Scan) berperan. Prinsipnya cerdas: zat pelacak radioaktif yang dirancang khusus untuk diserap oleh sel lambung disuntikkan ke dalam aliran darah. Kamera canggih kemudian memindai perut. Jika ada “titik terang” yang menyala di luar area lambung, maka sumber pendarahan tersembunyi itu berhasil ditemukan. Hasil ini memberikan “peta” yang presisi bagi dokter bedah untuk mengangkat kelainan tersebut secara tuntas, menghentikan pendarahan dan mencegah komplikasi di masa depan.
- Kedokteran Nuklir dalam Kasus Kekerasan pada Anak (Child Abuse)
Ini adalah salah satu peran yang paling menyedihkan namun sangat penting. Ketika ada kecurigaan kekerasan fisik, anak seringkali tidak dapat berbicara atau terlalu takut untuk melapor. Sidik Tulang Seluruh Tubuh (Whole Body Bone Scan) memiliki sensitivitas yang sangat tinggi untuk mendeteksi patah tulang (fraktur). Yang membedakannya adalah kemampuannya untuk mendeteksi fraktur pada berbagai tahap penyembuhan secara bersamaan. Temuan adanya banyak fraktur dengan “umur” yang berbeda-beda adalah tanda patognomonik (sangat khas) dari non-accidental injury atau kekerasan berulang. Dalam hal ini, Kedokteran Nuklir menjadi “suara” bagi anak-anak yang tidak bisa bersuara, memberikan bukti medis yang objektif untuk melindungi mereka. Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) KemenPPPA menunjukkan ribuan kasus setiap tahunnya di Indonesia, sebuah puncak gunung es. Secara global, WHO memperkirakan hingga 1 miliar anak mengalami kekerasan setiap tahun. Ketika seorang anak tak bisa bicara, tulangnya bisa.
Indonesia di Peta Dunia: Sebuah Refleksi dan Kesenjangan
Kemampuan teknologi ini adalah standar emas di banyak negara. Namun, di mana posisi Indonesia?
- Singapura telah menjadi hub regional untuk kasus pediatrik kompleks dan teranostik, menarik pasien dari seluruh Asia Tenggara. Malaysia, dengan dukungan kuat pemerintah, telah berhasil mendistribusikan pusat kedokteran nuklir secara lebih merata di seluruh semenanjung dan bahkan di Sabah dan Sarawak. Mereka fokus pada pengembangan SDM dan produksi radiofarmaka dalam negeri.
- Di Amerika Utara dan Eropa, Kedokteran Nuklir adalah spesialisasi yang mapan dengan akses luas dan penelitian inovatif yang terus melahirkan pelacak-pelacak baru. Australia, dengan tantangan geografisnya yang mirip Indonesia, berhasil membangun model hub-and-spoke dan teleradiologi untuk melayani area terpencil.
- Indonesia, sayangnya, berada di posisi yang dilematis. Kita memiliki para ahli yang kompeten, namun terpusat di kota-kota besar. Lebih dari 70% fasilitas kita menumpuk di Pulau Jawa, menciptakan kesenjangan akses yang nyata. Bagi keluarga di luar Jawa, diagnosis bisa berarti perjalanan mahal yang menguras tenaga dan biaya, sebuah isu keadilan sosial yang nyata.
Tantangan dan Peta Jalan Transformasi Kesehatan
Kesenjangan ini bukan tak bisa diatasi. Visi pemerintah melalui 6 Pilar Transformasi Kesehatan memberikan kerangka kerja yang sangat relevan untuk akselerasi:
- Pilar 1 (Layanan Primer): Penguatan skrining, seperti pada Hipotiroid Kongenital (insidensi 1:2.500 kelahiran di Indonesia), yang jika positif, pasiennya akan membutuhkan konfirmasi dari Kedokteran Nuklir untuk mencegah kerusakan otak.
- Pilar 2 (Layanan Rujukan): Ini adalah inti masalahnya. Perlu ada peta jalan pemerataan fasilitas PET/CT dan SPECT/CT sebagai pusat rujukan regional di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia Timur.
- Pilar 3 (Sistem Ketahanan Kesehatan): Mengurangi ketergantungan impor dengan mendorong produksi radiofarmaka dalam negeri, seperti yang dilakukan negeri jiran.
- Pilar 4 (Sistem Pembiayaan): Mengoptimalkan skema JKN/BPJS untuk menanggung prosedur diagnostik dan teranostik canggih secara adil dan berkelanjutan.
- Pilar 5 (SDM Kesehatan): Menciptakan program beasiswa dan pelatihan terpadu untuk spesialis, fisikawan medis, dan radiofarmasis.
- Pilar 6 (Teknologi Kesehatan): Mendorong adopsi dan penelitian teknologi teranostik di pusat-pusat akademik.
Upaya ini tidak hanya untuk menyembuhkan, tetapi juga untuk mencapai target global seperti SDGs (khususnya Tujuan 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dan Global Patient Safety Action Plan. Investasi pada kesehatan anak hari ini adalah prasyarat mutlak untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, yang bertumpu pada generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.
Panggilan Aksi untuk Generasi Emas
Melihat tantangan dan peluang ini, tanggung jawab tidak hanya berada di pundak pemerintah. Ini adalah panggilan aksi bersama:
- Akses dan Pemerataan: Fasilitas Kedokteran Nuklir masih sangat terkonsentrasi di kota-kota besar di Pulau Jawa. Anak-anak dari luar Jawa seringkali harus menempuh perjalanan jauh dan mahal untuk mendapatkan akses, yang kadang tidak memungkinkan karena kondisi klinis mereka.
- Sumber Daya Manusia: Jumlah dokter spesialis Kedokteran Nuklir, terutama yang mendalami subspesialis pediatrik, masih sangat terbatas. Kita juga kekurangan fisikawan medis, radiofarmasis, dan teknolog Kedokteran Nuklir yang terlatih khusus menangani pasien anak.
- Biaya dan Infrastruktur: Investasi untuk peralatan seperti PET/CT atau siklotron (alat pembuat radioisotop) sangat tinggi. Ketersediaan radioisotop yang memiliki waktu paruh pendek juga menjadi kendala logistik yang kompleks.
- Kesadaran dan Edukasi: Masih ada “nuclear phobia” di masyarakat dan bahkan di kalangan sebagian sejawat dokter. Edukasi mengenai keamanan dan manfaat Kedokteran Nuklir perlu terus digalakkan.
- Regulasi dan Jaminan Kesehatan: Perlu ada dukungan regulasi yang mempermudah logistik radiofarmaka dan cakupan yang lebih komprehensif dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk prosedur diagnostik dan terapeutik yang canggih ini.
Setiap anak yang didiagnosis secara akurat dan tepat waktu adalah sebuah kemenangan. Setiap masa depan yang kita selamatkan dari kanker, gagal hati, atau kerusakan otak dan penyakit lain adalah satu bata penyusun bangsa yang lebih kuat. Teknologi untuk melakukannya sudah ada. Kini, yang kita butuhkan adalah kemauan kolektif untuk memastikan cahayanya menjangkau setiap anak, di setiap sudut negeri ini. Anak-anak adalah amanah. Memberikan mereka perawatan yang paling aman dan paling efektif bukanlah sebuah pilihan, melainkan kewajiban. Kedokteran Nuklir, dengan segala potensinya adalah salah satu instrumen kunci untuk memenuhi kewajiban tersebut. Mari kita bersama-sama memastikan bahwa setiap anak dan bayi baru lahir di Indonesia tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga bertumbuh kembang menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan gemilang. ***




































