TIMETODAY.ID, JAKARTA — Setelah melewati sejumlah kegagalan, SpaceX akhirnya mencatat kemajuan besar dalam pengembangan roket Starship, kendaraan peluncur terkuat di dunia.
Dalam uji terbang ke-10 yang dilakukan Selasa malam waktu AS (27/8/2025 WIB), roket raksasa ini berhasil meluncur, mencapai orbit suborbital, hingga melakukan pendaratan darurat terkontrol di Samudra Hindia.
Starship, yang suatu hari ditargetkan membawa astronot dan kargo ke Bulan dan Mars, dipadukan dengan pendorong Super Heavy setinggi 123 meter dan ditenagai 33 mesin Raptor.
Roket ini sepenuhnya dirancang dapat digunakan kembali untuk memangkas biaya penerbangan antariksa.
Dalam misi kali ini, Starship tanpa awak berhasil lepas landas dari fasilitas Starbase, Texas Selatan pukul 19.30 ET. Setelah mencapai luar angkasa, roket berhasil menyebarkan simulator satelit Starlink generasi baru.
Tak seperti uji sebelumnya yang kerap berakhir lebih cepat akibat masalah teknis, kali ini SpaceX sukses mengarahkan Starship mendarat darurat di Samudra Hindia, barat Australia, sekitar satu jam setelah lepas landas.
Sebuah kamera menangkap momen pendaratan di laut yang diikuti ledakan, hal yang sudah diperkirakan karena roket tidak dirancang untuk pendaratan di air.
Alih-alih menggunakan “sumpit” robotik di menara peluncuran untuk menangkap roket seperti dalam percobaan lain, SpaceX memilih menguji metode pendaratan alternatif berupa splashdown di laut.
Perjalanan Penuh Kegagalan
Sukses kali ini menjadi tonggak penting bagi SpaceX, mengingat beberapa uji sebelumnya berakhir dengan kegagalan:
- Juni 2025: Starship meledak di landasan karena kegagalan tangki bertekanan.
- Mei 2025 (uji ke-9): penerbangan berakhir prematur.
- Maret 2025 (uji ke-8): mesin Raptor tahap atas gagal, menyebabkan kebakaran dan serpihan jatuh di Florida Selatan.
- Januari 2025 (uji ke-7): getaran memicu kebocoran propelan hingga roket meledak.
Setelah serangkaian insiden tersebut, SpaceX melakukan sejumlah perbaikan teknis pada desain Starship dan Super Heavy.
Musk: “Masalah Tersulit di Dunia Roket”
CEO SpaceX, Elon Musk, menegaskan bahwa penciptaan roket raksasa yang sepenuhnya bisa digunakan kembali adalah tantangan terbesar di bidang antariksa modern.
“Ada alasan mengapa belum ada roket yang sepenuhnya bisa digunakan kembali. Ini masalah yang sangat sulit. Selain itu, roket harus bisa digunakan kembali dengan cepat dan total, seperti pesawat terbang. Itu satu-satunya cara mewujudkan kehidupan multiplanet,” ujar Musk.
Keberhasilan uji ke-10 ini memberi harapan baru bagi ambisi SpaceX untuk membawa manusia ke Bulan melalui misi Artemis NASA, sekaligus membuka jalan menuju mimpi besar Musk, kolonisasi Mars.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































