TIMETODAY.ID — Film Superman terbaru garapan James Gunn seharusnya jadi penanda era baru bagi DC Universe. Dirilis pada 11 Juli 2025, reboot ini langsung memecahkan ekspektasi box office dengan pendapatan perdana 217 juta dolar AS, lengkap dengan skor Tomatometer 83 persen di Rotten Tomatoes.
Namun di balik prestasi itu, Superman mendadak jadi bahan boikot—terutama di kalangan warga Israel dan komunitas Jewish—karena dinilai memihak Palestina.
Isu sensitif ini berawal dari cerita film yang menampilkan invasi negara fiktif Boravia ke Jarhanpur. Boravia digambarkan sebagai negara kuat, berteknologi canggih, dan sekutu Amerika Serikat.
Sementara Jarhanpur, negara miskin berpenduduk non-kulit putih, tampak ditindas. Bagi banyak penonton, narasi ini terasa terlalu mirip dengan konflik nyata di Gaza yang masih berlangsung.
Boikot Bergema, Tagar Bertebaran
Sentimen penolakan cepat meluas, terutama di media sosial. Seorang pengguna Reddit di komunitas r/Jewish menulis,
“Penggambaran film itu tentang negara kuat, berkulit putih, dan termiliterisasi yang menyerang negara lebih lemah, non-kulit putih, selaras dengan narasi anti-Israel. Meskipun tidak ada referensi eksplisit ke Israel atau Palestina.”
Tak berhenti di situ, pengguna X (Twitter) pun mengamini, “Perlu ya bawa-bawa politik ke Superman, menyinggung konflik Israel-Palestina dan memojokkan Israel? Boikot film ini.”
Di TikTok, diskusi serupa viral. Kreator @blondebirchtree mengunggah video dengan pertanyaan tajam: “Aku nonton film Superman baru semalam. Tolong jelaskan kenapa film itu bisa se-anti-Israel seperti yang orang-orang bilang.” Video itu sudah ditonton lebih dari 193 ribu kali.
Dalam unggahan lanjutannya, dia menyebut, “Sepanjang minggu orang-orang di Twitter bilang film itu jelas anti-Israel… dan tanpa ragu, itu film mainstream paling pro-Palestina yang pernah aku lihat.” Video lainnya, dengan klaim serupa, sudah ditonton jutaan kali.
Pemeran Superman Angkat Suara untuk Palestina
Sumbu kontroversi juga tersulut dari pemeran utama, David Corenswet, yang beberapa waktu lalu memang terang-terangan menyuarakan dukungan untuk rakyat Palestina.
Meski tak pernah menyebut Israel secara langsung, sikap terbukanya tetap memicu reaksi panas dari sebagian warga Israel.
James Gunn: Ini Soal Kebaikan Manusia
Di tengah panasnya polemik, sang sutradara, James Gunn, akhirnya angkat bicara. Kepada The Sunday Times, Gunn membantah tudingan politisasi yang mengarah ke satu pihak saja.
“Bagi saya, ini pada dasarnya adalah kisah tentang kebaikan manusia yang sederhana sebagai sebuah nilai yang sekarang sudah kita lupakan… Ya, film ini terasa berbeda, tapi intinya soal kebaikan manusia, dan jelas akan selalu ada orang brengsek di luar sana yang tidak baik dan akan merasa tersinggung hanya karena film ini membicarakan kebaikan. Tapi biarkan saja mereka,” kata Gunn, dikutip dari Newsweek.
Konflik Nyata di Balik Layar
Sentimen pro-Palestina dalam film Superman dirasa menyentuh luka lama di benak publik. Sejak serangan zionis Israel pada 7 Oktober 2023, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mencatat lebih dari 58 ribu jiwa tewas, dengan lebih dari 139 ribu orang terluka.
Mayoritas penduduk Gaza kini terpaksa mengungsi di tengah krisis kemanusiaan, seperti dilaporkan PBB.
Tak heran, ketika layar lebar menampilkan narasi negara penindas berkulit putih melawan negara miskin non-kulit putih, sebagian penonton melihat cermin konflik Gaza di dalamnya.
Tanda Tanya: Pahlawan atau Propaganda?
Sebagian pengamat film menilai Superman 2025 hanyalah bentuk perlawanan halus industri Hollywood terhadap agresi militer. Sebagian lagi melihatnya sebagai cara merawat relevansi Superman di era di mana heroisme tak lagi sekadar soal otot, tapi juga moralitas dan sikap politik.
Di tengah gempuran boikot, satu hal pasti: Superman 2025 telah memecah tafsir publik—antara hiburan, pesan kemanusiaan, atau simbol perlawanan.
Akankah kritik tajam ini justru membuat penonton makin ramai mendatangi bioskop? Ataukah sang manusia baja akan terus diboikot demi alasan geopolitik? Satu yang jelas, Superman, pahlawan fiksi dari Krypton, kini tak lagi sekadar menyelamatkan dunia—tetapi juga memaksa penontonnya menatap realita yang lebih rumit di bumi.***
Sumber :viva.co.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel







































