TIMETODAY.ID — Di tengah gegap gempita MotoGP Italia 2025 yang digelar di Sirkuit Mugello, ada satu hal yang mencuri perhatian lebih dari sekadar suara raungan mesin dan strategi balap: motor Desmosedici GP tim Ducati Lenovo melaju dengan livery merah marun nan anggun, berpola seperti corak batik yang memesona.
Tapi ini bukan sekadar ganti warna. Di balik balutan marun dan motif dinamis itu, terselip sebuah penghormatan mendalam pada akar budaya dan kecemerlangan intelektual Italia. Ducati merancang ini bukan hanya untuk menyapa penggemar, tapi untuk bercerita—tentang Renaisans, tentang Florence, tentang seni dan sains yang melahirkan kejayaan.
Sebuah Surat Cinta untuk Florence
Bukan kebetulan jika Ducati memilih Mugello, yang letaknya hanya sepelemparan batu dari Florence—jantung Renaisans Italia. Di kota inilah, para pemikir seperti Leonardo da Vinci dan Niccolò Machiavelli menyalakan obor intelektual yang menerangi dunia. Maka, tahun ini Ducati menyulap dua motor balapnya menjadi kanvas sejarah dan filosofi.
Desain livery ini merupakan hasil kolaborasi antara desainer ikonik Aldo Drudi dan sejarawan Marcello Simonetta. Mereka menyulam sejarah ke dalam desain yang menggabungkan keanggunan klasik dan keberanian modern.
Singa, Rubah, dan Ksatria Modern
Jika diperhatikan, ada dua hewan yang menjadi simbol utama dalam livery: singa dan rubah. Bukan tanpa alasan, dua sosok ini menggambarkan ajaran Machiavelli dalam The Prince—bahwa seorang pemimpin sejati harus punya kekuatan seekor singa dan kecerdikan seekor rubah.
Dalam interpretasi modern, dua pembalap Ducati—Francesco Bagnaia (#63) dan Marc Márquez (#93)—adalah representasi dari ksatria-ksatria kontemporer. Mereka mengendarai ‘centaur bermesin’, sebuah karya teknologi dari Ducati, untuk menaklukkan medan balap dengan campuran strategi tajam dan determinasi kuat.
Menghidupkan Leonardo di Lintasan
Livery ini juga mengambil inspirasi dari sketsa terkenal Leonardo da Vinci berjudul Il Capitano Antico (Kapten Kuno). Drudi lalu menafsirkan sosok pemimpin Renaisans tersebut menjadi figur kontemporer—seorang penunggang mesin, mengenakan semangat lama dalam jasad baru.
“Ini bukan hanya tentang penampilan, tapi tentang filosofi,” kata Drudi dalam pernyataannya. “Kita mencoba menjembatani masa lalu dan masa kini lewat keindahan visual yang bergerak di kecepatan tinggi.”
Balapan yang Penuh Makna
Maka, bukan hanya kecepatan yang ditampilkan Ducati di Mugello, tapi juga warisan. Ketika Desmosedici GP melintasi tikungan cepat sirkuit, mereka bukan hanya membawa nama tim, tapi juga cita rasa Florence, roh Renaisans, dan keberanian akan inovasi.
Melintasi garis start-finish di Mugello, di bawah sorotan kamera dan sorak sorai tifosi, motor-motor Ducati itu seperti menyapa patung David karya Michelangelo di Piazza della Signoria—seolah berkata: “Kami tak hanya cepat, kami juga indah.”***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel







































