Dewan Kabupaten Bogor Pamer Mobil Mewah, Padahal Warganya Masih Makan Nasi Garam

mobil mewah
Empat unit Toyota HiAce keluaran terbaru berjajar rapi di area parkir kantor DPRD Kabupaten Bogor. Kendaraan mewah berpelat B ini disebut sebagai mobil sewaan untuk keperluan dinas. Foto : timetoday.id/Amelia Azizah.

TIMETODAY.ID, BOGOR – Beberapa waktu lalu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyebut Kabupaten Bogor sebagai penyumbang kemiskinan terbesar di Jawa Barat. Tapi tenang, kemiskinan bukan penghalang untuk tetap tampil bergaya.

Buktinya, Pemerintah Kabupaten Bogor tampaknya percaya bahwa kemiskinan hanya soal mindset, karena mereka justru menyewa mobil mewah untuk keperluan dinas yang, menurut rakyat, “tidak terlalu penting, tapi sangat stylish”.

Empat unit Toyota HiAce keluaran 2025 tampak gagah berjajar rapi dengan pelat B, bahkan beberapa di antaranya sudah pakai pelat XX yang terdengar lebih mirip sandi rahasia ketimbang nomor polisi. Mungkin biar tidak ketahuan kalau sedang healing dalam balutan kunjungan kerja.

Jika ini untuk mendukung mobilitas anggota dewan, ya tentu saja patut dimaklumi. Masa iya dewan terhormat harus naik angkot? Apalagi ada Instruksi Presiden Prabowo Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran. Tapi rupanya, efisiensi itu seperti diet di bulan Desember, niatnya ada, praktiknya nanti-nanti saja.

Dikonfirmasi, Sekretaris DPRD Kabupaten Bogor, Irwan Purniawan, menjelaskan bahwa mobil itu bukan dibeli, hanya disewa.

“Itu tidak beli, hanya sewa saja. Saya belum lama menjabat jadi Setwan, saya tidak tahu persis soal kendaraan tersebut,” kata Irwan singkat, tapi sukses membuat publik mengernyit.

Sewa atau beli, uangnya tetap dari rakyat. Tapi siapa yang peduli kalau bisa duduk empuk di kabin HiAce sambil menikmati dinginnya AC dan manisnya perjalanan dinas?

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bogor, pada tahun 2023 tercatat 7,27 persen penduduk Bogor hidup dalam kemiskinan. Garis kemiskinannya pun naik jadi Rp482.174. Tapi jangan salah, ini bukan berarti rakyat makin susah, bisa jadi mereka juga sedang menerapkan strategi “hemat gaya DPRD”, makin besar anggaran, makin kecil manfaat.

Tapi setidaknya, angka kemiskinan menurun dari tahun sebelumnya yang sebesar 7,73 persen. Mungkin karena masyarakat sudah belajar satu hal penting, jika tak bisa naik HiAce, cukup jadi penonton, asal tidak berharap terlalu banyak dari mereka yang naiknya.

Editor : B. Supriyadi

Baca Juga :  Diduga Depresi, Pria di Bogor Nekat Terjun dari Jembatan Gerendong

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel